Tebak-tebakan Soal Ketakutan Manusia

Seseorang cenderung akan menghindari apa yang ditakutinya. Mungkin memang sudah begitu rumusnya. Misal, saya takut ular. Otomatis saya akan menghindari tempat yang terindikasi sebagai sarang ular. Atau misalnya saya belum mengumpulkan tugas kuliah. Maka bertemu dengan Pak Dosennya adalah hal yang menakutkan😀, berpapasan dengannya tentu sebisa mungkin saya hindari, dan begitu seterusnya.

Ngomong-ngomong soal rasa takut, saya sempat penasaran, hal apakah yang ditakuti oleh hampir setiap manusia–terlepas dari apapun suku, agama, dan rasnya? Pertanyaan itu sempat membuat saya termenung dan menebak-nebak.

Jawabannya bisa saja mengarah kepada takut tidak punya harta, takut dipandang rendah orang lain, takut terkena penyakit ini itu, atau secara umumnya dikatakan takut hidup tanpa ‘kebahagiaan’. Tapi, menurut penerawangan sok tahu saya, ada hal yang lebih ditakuti oleh manusia dari hal tersebut. Yaitu kematian.

Tapi… Sepertinya sih bukan kematian itu sendiri yang ditakuti. Melainkan ketidak tahuan manusia atas apa yang akan terjadi setelah kematian. Hal ini berlaku pula bagi orang yang percaya reinkarnasi, kayaknya.

Kalau begitu, bolehlah saya mengerucutkan tebakan saya. Bahwa hal yang hampir setiap orang takutkan–terlepas apapaun suku, agama, ras mereka–adalah MASA DEPAN dalam segala bentuk dimensinya, beserta misteri yang ada di dalamnya. Disadari atau tidak. Sepertinya yaaa, sepertinya. Ini cuma tebak-tebakan saya.

***

Duhai… Saya jadi teringat sebuah pesan yang sangat bersejarah. Pesan itu ditujukan kepada Adam, manusia pertama. Pesan sayang dari Ia yang tahu betul apa yang akan dihadapi Adam dalam kehidupannya di muka bumi. “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada khauf (kekhawatiran/ketakutan) atas mereka, dan tidak pula mereka yahzanun (bersedih hati).” (al-Baqarah 38)
Kata Ust. Asep Sobari, Lc., khauf di situ biasanya berkaitan dengan apa yang ada di masa depan. Sementara hazan pada yahzanun itu biasanya terkait dengan kondisi saat ini dan terkait masa lalu. Dari sudut ini, pesan itu terbaca lebih dalem.  Kalau mau terlepas dari dua benca ketakutan dan kesedihan, tinggal ikuti petunjuk-Nya. Yang telah terhimpun dalam kitab-Nya, sunnah-Nya, yang disampaikan turun temurun semula dari para sahabat, tabi’in, dan seterusnya sampai kepada guru-guru kita. Ya, harus punya Guru kehidupan. Dan… pikiran saya jadi ngalir ke mana-mana deh.Sudah, itu dulu.Selamat berbuka puasa…
20Juni

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s