Di Balik ‘Sebelum Cahaya’-nya Letto

Dua hari lalu saya memposting lirik salah satu lagunya Letto, Sebelum Cahaya. Kenapa tiba-tiba ngepost tulisan itu? Karena ini nih, tetangga abang tukang bangunan sambil angkut adukan semen, ngecat, dll, mereka nyetel lagu-lagu shalawatan, kadang dangdut, dan kemaren tumben memainkan lagu-lagunya Letto. Pas di lagu ‘Sebelum Cahaya’ , saya jadi inget guru bahasa Indonesia sewaktu SMA. Beliau nge-fans banget sama Letto karena lirik-liriknya bagus.

Oke kita masuk ke bahasan. Sebetulnya ada apa sih di balik syair ‘Sebelum Cahaya’?

Saya pernah membaca transkrip wawancara salah satu majalah musik dengan Noe Letto. Pewawancara sempat bertanya ke Noe, apa tanggapan ia terhadap penafsiran orang-orang terhadap lagu-lagunya, apakah pesan dari lagunya itu sebetulnya religius–meskipun tidak membawa nama agama atau menyebut kata Tuhan, dst. Jawaban Noe ternyata diluar dugaan saya. Saya kira ia akan menjelaskan maksud syair yang ini begini, kata ‘Mu’ pada syair itu ditujukan kepada itu, dst. Tapi ternyata tidak. Ia malah mempersilakan kepada siapapun untuk menafsirkan sendiri maknanya. Justru di situlah letak seninya dan maknanya bisa terus relevan sampai kapanpun. Kalau gak salah sih begitu jawabannya.

Yasudah, akhirnya saya coba baca beberapa syairnya. Dan…. Beuh… ternyata memang keren-keren–setidaknya bagi saya. Ada makna filosofis pada setiap baitnya. Sebut saja misal pada lagu berjudul ‘Sandaran Hati’, di bagian reff nya liriknya sufistik banget, IMO, coba cek deh:

“Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkah aku
Mendengarmu

Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku
Merindukanmu

Terpuruk ku di sini
Terangi dia yang sepi
Dan ku tahu pasti
Kau menemani

Dalam hidupku
Kesendirianku

Teringat ku teringat
Pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Kulakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati
Sandaran hati

Inikah yang kau mau
Benarkah ini jalanmu
Hanyalah engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku
Bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah
Tanpa hadirmu
Dalam gelapnya
Malam hariku”

Coba kata ganti ‘mu’ pada syair di atas diganti pakai “-Mu”. Artinya dalem banget kan?

Begitu juga pada lagu sebelum cahaya. Yuk, kita terawang lagi liriknya:

Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi
cinta

Perjalanan sunyi
Engkau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati
cinta


Ingatkan engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemanimu
sebelum cahaya

Ingatkan engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu
cinta


Kekuatan hati
yang berpegang janji
Genggamlah tanganku
cinta

Ku tak akan pergi
meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu cinta


Ingatkan engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemanimu
sebelum cahaya

Ingatkan engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu
cinta

Gimana? Menurut saya ini lebih dalam lagi maknanya. Syairnya boleh jadi ditujukan oleh seseorang ke orang lain. Tapi sepertinya itu terlalu biasa aja.

Tidak tahu kenapa, saya kok lebih sepakat kalau diaktakan bahwa saat sedang menulis syair ini, si penulis sedang ada dalam ekstase dan ia seolah-olah mendengar ‘bisikan’ Tuhannya, lalu bisikan itu ia tuangkan dalam bentuk syair ‘Sebelum Cahaya’ di atas. Seolah kata-kata dalam syair Sebelum Cahaya tersebut merupakan pesan kasih dari Tuhan kepada hamba-Nya.

Dan, bisa juga diambil dari sudut pandang lain. Misalnya, sekarang saya lagi pengen menjadikan syair itu sebagai pesan dari saya untuk ‘rumah’ yang telah menumbuhkan saya sampai seperti sekarang ini. ‘Rumah’ yang saya mendapatkan banyak hal di sana. ‘Rumah’ yang saya berharap semoga bisa membesarkannya dan menjadikannya bernilai di hadapan-Nya.

Ya, syair sebelum cahaya itu, saya persembahkan untuk ‘rumah’ itu. :’)

Sekian lintas pikiran random di siang bolong ini.

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

One thought on “Di Balik ‘Sebelum Cahaya’-nya Letto”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s