Keputusan Besar: Berapapun Harga yang Harus Dibayar (13/30)

keputusan

Tiba-tiba saya teringat beberapa episode hidup setahun setengah ke belakang. Amanah studi dari orang tua, meski dengan tertatih-tatih, akhirnya tertunaikan. Dua ribu lima belas pun menjadi titik henti sekaligus peralihan bagi saya. Keputusan besar ataupun kecil saat itu benar-benar menentukan ke arah mana kaki saya akan melangkah ke depannya. Banyak sekali tarikan internal maupun eksternal yang sempat membuat gamang. Tarikan dari aku-hamba, aku-anak, aku-impian, aku-sosial, aku-nafsu, aku-ayah/suami, dan sterusnya. Tapi waktu terus berlalu dan saya harus mengambil keputusan.

Saya pun berhadapan dengan pilihan-pilihan itu. Katakan saja soal pekerjaan, memenuhi harapan orang tua, cita-cita (pribadi) di masa depan, amanah yang sedang diemban, tentang pendamping hidup, juga soal saling menumbuhkan antarteman sekawan. Di antara kesemua itu ada yang berpilinan. Ada yang beririsan. Namun ternyata ada pula yang pada akhirnya tidak bisa dipertautkan, bahkan saling meniadakan. Ada yang -terpaksa- harus dikorbankan. Begitulah.

Alhamdulillah, atas izin dan mengharap petunjuk Allah, saya pun mengambil beberapa keputusan itu. Dan kini, saat saya coba mengingat-ingat kembali kecamuk di masa-masa itu, saya menemukan sesuatu yang kelak bisa menjadi pegangan saat harus memilih dan memutuskan–setidaknya untuk saya pribadi.

Bahwa, di antara banyak hal yang ingin saya lakukan, pada akhirnya saya harus dan hanya bisa memilih sedikit/satu hal yang benar-benar akan saya perjuangkan mati-matian, apapun konsekuensinya, berapapun harga yang harus dibayar, sekalipun harus beberapa kali jatuh kemudian bangkit lagi dan lagi. Meskipun demikian, setelah mengambil keputusan besar itu,saya pun perlu terus bertanya kepada hati nurani, terutama saat saya mulai terjatuh nanti:

“Benarkah engkau memilih hal itu sebagai sesuatu yang akan kau perjuangkan mati-matian, apapun konsekuensinya, berapapun harga yang harus kau bayar?”

“Engkau terjatuh, masihkah engkau setia terhadap apa yang telah menjadi keputusanmu saat itu?”

***

Kita tidak bisa memilih untuk terlahir sebagai laki-laki atau perempuan, lahir di tahun-bulan-tanggal berapa, dari rahim seorang perempuan yang mana, meninggal pada usia berapa, tapi kita bisa memilih dan memutuskan mau hidup lalu kembali kepada-Nya sebagai apa. Tentu, ini berkaitan dengan akumulasi keputusan hidup kita, khususnya yang akan kita ambil ke depannya.

Segala Puji bagi Allah yang telah menghadirkan generasi terbaik pada ummat ini, dengan pembimbing terbaik pula, yang mereka telah meletakkan syarat kebahagiaan mereka, senyum, tawa, dan kepuasan hati mereka, justru pada kesetiaan mereka terhadap janji setia dan impian besar mereka, sekalipun kadang menguras darah dan menumpahkan air mata. Kebahagiaan mereka sudah berada pada dimensi yang berbeda dari dimensi kebahagiaan manusia pada umumnya. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk bisa meneladani mereka semaksimal upaya kita.

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s