Adalah Rezeki (6/30)

Dinginnya shubuh saat itu lumayan mengigit kulit dan meninabobokan. Tetapi nasihat Abah pagi itu ternyata bisa mengubah rasa kantuk si Kabayan seketika menjadi perenungan panjang.

“Kabayan…” Seru si Abah yang melihat Kabayan asyik manggut-manggut kepala di sepanjang dzikir selepas shalat berjamaah.

Kemudian Abah melanjutkan,

“Jangan sampai upayamu dalam menjemput satu jenis rezeki menutup pintu diturunkannya rezeki yang lainnya. Karena… rezeki itu bukan hanya soal harta, keturunan, jabatan, dan sejenisnya.

Shalat yang khusyu’ adalah rezeki. Hangatnya percakapan dalam doa adalah rezeki. Luangnya waktu dan hati utuk membaca Quran adalah rezeki. Bisa berpuasa sunnah adalah rezeki. Air mata taubat adalah rezeki. Sahabat yang mengingatkan adalah rezeki. Istri kamu si Iteung jadi lebih tha’at-shalihat-qanitat, juga rezeki. Dan masih banyak lagi varian rezeki yang bahkan rezeki sejenis itulah yang sebenar-benarnya rezeki.

Sekarang coba bantu jawab pertanyaan Abah; adakah seseorang dikatakan mendapatkan rezeki-Nya saat di waktu yang bersamaan justru kehilangan-Nya? Adakah seseorang dikatakan kehilangan saat ia justru mendapati-Nya?”

Benarlah, pertanyaan itu menghentak hati dan pikiran Kabayan.

“Hatur nuhun, Abah! Mohon doakan keberkahan untuk saya ya, Bah.” Respon kabayan setelah beberapa saat terdiam. Eh, mungkin lebih tepatnya terbungkam oleh nasihat Abah, mertuanya.

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s