Antara Kambing dan Manusia (2/30)

Di sebuah kampung tinggal seorang penggembala kambing yang gemar menuntut ilmu. Setiap hari ia harus menemani, memberi makan, serta merawat puluhan kambing di kebun yang lumayan lapang milik tuannya. Setiap kali mengembala ia selalu membawa buku bacaan. Namun, agar hasrat intelektualnya terpenuhi, tentu ia terlebih dahulu harus memastikan agar kambingnya tidak kabur.

Ia pun berpikir bagaimana cara agar kambing-kambingnya tidak lari ke luar area kebun tersebut. Tentu memberikan papan penanda bertulisan “Kambing Pak Kabayan hendaknya tidak keluar dari area ini, terima kasih.” tidak menjadi opsi. Pun begitu dengan menggoreskan garis di tanah kebun. Papan peringatan ataupun garis batas gerak tersebut maknanya tidak sampai kepada si kambing.  Akhirnya si pengembala memutuskan untuk mengelilingi lingkar luar kebun dengan pagar bambu. Pagar pun kini melingkar dan ia bisa melahap satu per satu buku bacaan yang ia bawa.

Begitulah kisahnya.

Apa kaitannya dengan manusia? Kalau kata mas Sabrang -Noe Letto- Anaknya Cak Nun, dalam tatanan sosial kita, moral itu ibarat garis pembatas tadi. Adapun peraturan/perundang-undangan itu ibarat pagar. Semakin manusia memiliki moral yang tinggi, semakin tidak butuh pagar ia. Karena garis-garis moral sudah cukup baginya untuk tetap bisa hidup teratur dan berdampingan, tidak saling sikut, bertanggung jawab, dst. Begitu juga sebaliknya. Semakin banyak ‘pagar’ yang menjadi batasan gerak-gerik dalam interaksi sosial, artinya semakin kambing pula manusia.

Saya jadi teringat dengan kisah Umar bin Khattab yang saat itu mengajukan pengunduran diri sebagai hakim di kota Madinah. Ia mengundurkan diri karena di teritori amanahnya saat itu benar-benar tidak ada aduan atau sengketa yang harus diselesaikan. Sebentar, saya copy-kan tulisan kisahnya yang agak lengkap dari serial #SapaPagi nya ustadz Budi Ashari..

wait..

Nah, ini dia tulisannya ustadz Budi Ashari, Lc.:

Khalifah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu mengangkat Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu sebagai Hakim Madinah. Setahun lamanya Umar menduduki posisi Hakim, tetapi tidak ada pengaduan masalah sama sekali. Maka Umar pun datang ke Abu Bakar dan minta mundur dari jabatannya.

Abu Bakar bertanya: Apakah karena sulitnya pekerjaan mahkamah, hingga kau minta mundur wahai Umar?

Umar menjawab: Tidak, wahai Khalifah Rasulillah. Tapi aku tak perlu menjadi hakim di MASYARAKAT BERIMAN. Masing-masing mengetahui haknya sehingga tidak meminta lebih dari haknya, mengetahui kewajibannya sehingga tidak mengabaikan pelaksanaannya, masing-masing mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya, jika ada satu yang hilang mereka cari, jika ada yang sakit mereka jenguk, jika ada yang kekurangan mereka tolong, jika ada yang punya keperluan mereka bantu, jika ada yang tertimpa musibah mereka hibur, agama mereka adalah nasehat, akhlak mereka adalah amar ma’ruf nahi mungkar.

MAKA JIKA BEGITU, APA ALASAN MEREKA BERSELISIH…?

(Masyarakat seperti itu pernah ada. Dan akan kembali ada, dengan izin Nya!!!)

Wiih… Merinding bacanya..

So, kalau begitu, apa sebetulnya akar penyebabnya sampai kemudian saat ini saya pribadi merasa betapa kambingnya kita? Atau pertanyaan lebih sederhananya, apa yang menjadikan manusia jadi seperti ini? Mungkin ini berkaitan dengan konsep dan pelaksanaan pendidikan kita. Tujuan dan pelaksanaan pendidikan kita sudah terlalu mengarah ke kebendaan. Sekolah tinggi agar bisa kerja enak, bergaji besar, menua kaya, jalan-jalan keliling dunia, selesai. Akhirnya antar kita saling sikut memerebutkan apa yang belum tentu membuat kita bahagia. Untuk meminimalisasi saling sikut ini akhirnya dibuatlah pagar-pagar peraturan yang pada akhirnya tidak benar-benar menjadi solusi juga, sebetulnya. Dan terus menerus begitu. Seperti siklus.

Kita membutuhkan pendidikan yang memanusiakan manusia, bukan mengkambingkan manusia. Pendidikan yang menghasilkan manusia beradab dan bertaqwa.

*duh, normatif beut ya… ya begitulah..

 

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s