Di Balik Berwudhu (1/30)

Salah satu pertanyaan yang sempat terbesit di pikiran ‘nakal’ saya adalah kenapa organ yang dibasuh saat wudhu adalah sebagaimana yang kita ketahui selama ini?

Jawaban benarnya: karena seperti itulah Rasul menyontohkannya.

Jawaban tebak-tebakannya: kalau saya perhatikan, yang dibasuh saat wudhu adalah ‘tools’ yang biasa kita gunakan untuk menjalankan keseharian. Artinya, saat berwudhu secara lahir kita memang membasuh organ tubuh tersebut. Namun kalau di lihat dari sisi yang lain, mungkiiiin, saat itu kita sedang menyucikan dosa-dosa yang dilakukan oleh tools tersebut. Mungkin yaaa ini mah. Mungkin…

Saat basuh telapak tangan, bukan hanya tangannya yang disucikan, tapi juga tindakan yang sudah dilakukan oleh si telapak tangan. Mungkin pernah kita gunakan untuk menuliskan kalimat ghibah di media sosial, dan sejenisnya. Saat berkumur, bukan hanya rongga mulut yang sedang dibersihkan. Saat itu kita sedang membersihkan lisan dari kata yang pernah menyakiti orang lain, dari pembicaraan yang tiada guna, dari keringnya dari zikir, dst. Begitu juga saat membasuh organ anggota wudhu lainnya. Selalu ada makna batin di balik aktivitas lahir saat berwudhu.

Mungkin karena hal ini pula dalam Bidayatul Hidayahnya Imam Ghazali benar-benar merunut bagaimana sebaiknya ekspresi hati kita saat membasuh wajah, misalnya. Saat membasuh wajah, Imam Ghazali merekomendasikan agar kita berdoa kepada Allah agar kelak di hari akhir kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang berwajah cerah ceria dan terhindar dari dimasukkannya diri kita ke dalam golongan orang yang berwajah gelap kusam. Saat membasuh tangan kanan, hendaknya kita memohon agar kelak bisa menerima catatan amal melalui tangan kanan, dan bukan melalui tangan kiri.* Dan seterusnya… Dan seterusnya…

Pada akhirnya, saya pribadi sementara ini menyimpulkan bahwa pada setiap amal ibadah yang saya lakukan, saya perlu bisa memaknainya. Saya perlu bisa menghadirkan hati pada setiap amal ibadah yang saya lakukan. Supaya ibadah saya, misalnya wudhu, benar-benar bisa memberikan bekas/kesan khususnya bagi jiwa.

Oh ya, ini mah catatan buat saya pribadi aja sih. Mungkin ada benarnya, tapi sangat mungkin ada kelirunya.

*Dalam kitabnya, al-Adzkar, Imam Nawawi mengatakan bahwa bacaan-bacaan dalam berwudhu sebagaimana dituliskan Imam Ghazali dalam Bidayatul Hidayah itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah akan tetapi diamalkan oleh generasi Salaf shalih.

 

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s