Munajat

Lelaki muda itu beranjak dari pembaringannya. Ia pergi menuju surau di tepian pematang dekat rumahnya. Sambil menunggu kendaraan rombongannya yang hendak berbelanja ke kota, ia berdiri menghadap Tuhannya di salah satu sudut surau bambu itu. Lalu terduduklah ia, menunduk, menggemuruh hatinya.

Dengan lirih lisannya mulai terbuka. Melafalkan beberapa kata yang kadang terputus sebelum terucap sempurna. Di malam menjelang pagi itu ia berdoa:

Ilaahi…
hamba lemah dalam keberdayaan hamba
bagaima hamba tidak lemah di tengah kelemahan-takberdayaan hamba?

Ilaahi…
hamba fakir dalam keserbacukupan hamba
bagaimana hamba tidak fakir di tengah kemiskinan hamba?

Ilaahi…
hamba bodoh dalam keberpengetahuan hamba
bagaimana hamba tidak bodoh di tengah kedunguan hamba?

Ilaahi…
hamba lalai dalam keberdzikiran hamba
bagaimana hamba tidak lalai di tengah keabaian hamba?

Ilaahi…
hamba berma’siyat dalam taatnya hamba
bagaimana hamba tidak berma’siyat di tengah kedurhakaan hamba?

Terangnya siang tertutupi gelapnya kejahilan hamba
Panjangnya malam diperpendek kelalaian hamba
Akan tetapi Engkau masih memberi hamba segalanya
Dengan apa hamba harus menebus semuanya?

Kesibukanku pada dunia membuatku jauh dari-Mu,
Adakah yang tersisa bagi mereka yang kehilangan-Mu?
Dan adakah yang hilang bagi mereka yang menemukan-Mu?

Ilaahi…
Betapa baiknya Engkau padaku walau aku bodoh
Betapa kasihnya Engkau padaku walau buruk perangaiku
Betapa dekatnya Engkau kepadaku dan betapa jauhnya aku dari-Mu
Hijab apakah yang telah menghalangiku dari-Mu?

Ilaahi…
Lisan hamba kelu terbungkam gunungan dosa
Kemurahan-Mu lah yang kemudian membuatnya berdoa
Namun bagaimana hamba memohon agar ibadah hamba diterima
sementara di dalamnya banyak cela
Akan tetapi bagaimana hamba tidak memintanya
sementara Engkau Maha Memerintah

Ilaahi…
Engkau Mahatahu apa yang ada di bilik terdalam hatiku
Engkau Maha Mencukupi segala kebutuhanku
Bagaimana aku mengeluhkan keadaanku sementara Engkau Pemberi yang terbaik bagiku
Bagaimana aku akan kecewa sementara harapanku telah sampai pada-Mu
Bagaimana Engkau membiarkanku sementara Engkaulah pelindungku

Ilaahi…
Dengan ke-Mahakuasaan-Mu aku memohon,
Dekatkanlah, tanamkanlah, tumbuhkanlah, rawatlah, segala sesautu yang dengannya bertambah dekat aku pada-Mu
Jauhkanlah, cabutlah, matikanlah, segala sesuatu yang dengannya bertambah jauh aku dari-Mu
Hamba memohon kecintaan-Mu,
Kecintaan orang yang mencintai-Mu,
Kecintaan terhadap amal yang bisa mendekatkanku kepada cinta-Mu

Wahai Yang Rahmat-Nya mendahului permohonan hamba-Nya
Wahai Yang Jaminan-Nya mendahului pergantungan hamba-Nya
Tak layak hamba memasuki surga-Mu
Tak pula hamba sanggup menahan panas neraka-Mu

Aku berlindung dengan Ridha-Mu dari murka-Mu
Aku berlindung dengan Keampunan-Mu dari hukuman-Mu
Andai Engkau memberi ampunan kepadaku maka itu adalah hak-Mu
Namun bila Engkau meninggalkan hamba, ya Rabb, maka kepada siapa lagi hamba berharap?

Kepada siapa lagi hamba berharap?

Kepada siapa lagi hamba berharap?

“tiiiid… tiiiiiid….” Klakson mobil rombongan berbunyi. Tandanya ia harus bergegas menghampirinya. Berangkat menuju kota, menunaikan amanah bundanya tercinta.

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s