Tentang Kebahagiaan dan Kesendirian

IMG_6190

Sebetulnya tidak ada yang spesial dari gubuk kecil ini. Bangun luar dan dalamnya sederhana. Lebih dari cukup untuk sekadar tempat berteduh, merebahkan badan, memainkan irama keletak keyboard, berbagi ceri(t)a, menyembunyikan (r)asa, atau kadang menjadi tempat yang bernuansa haru harap cemas seperti sudut-sudut rumah sakit dan bandara. Akan tetapi, sepertinya penilaianku tersebut salah. Dan ini baru aku sadari sesampainya aku di sini siang tadi –setelah ditinggal selama dua pekan untuk berakhir Ramadhan dan lebaran.

“Assalamu’alaikum…”, kuucapkan salam saat memasukinya, sebagaimana biasa kami lakukan setiap harinya. Sekilas ada rasa lega. Seketika semangat terpompa. Seperti mendapat suntikan nyawa. Karena akhirnya aku bisa kembali menyapa pekerjaan-pekerjaanku yang mulai memanggilku dari arah komputer yang terletak di sudut kiri ruang depannya. Akan tetapi, suasananya berubah saat aku memasuki ruang kamarnya, kutaruh tas di sudut kanannya, kutengok ruang dapur kecil serta kamar mandinya, dan kudapati tidak ada siapa-siapa. Mereka tidak ada. Dan sebetulnya aku memang sudah tau bahwa mereka tidak ada. Zain masih di kampungnya. Sementara Azhar, Fakhril, Ibnu, Udin, mereka memang sudah tidak lagi menjadi teman seper-atap-an. Tapi, entah mengapa rasanya tiba-tiba kurang nyaman. Sesak. Ada yang kurang.

***

Seketika terputar dalam memoriku saat-saat kami masih lengkap bersama sekitar 2 tahun lalu. Pagi itu aku pergi bersama Azhar melalui margonda kemudian berbelok ke arah jalan Juanda. Aku tidak tahu persis saat itu kami hendak pergi ke mana. Tetapi aku ingat betul apa yang kami perbincangkan di perjalanannya.

“Broh, menurut ente, hal apa yang paling cepat bisa merenggut kebahagiaan seseorang?” Tanyaku dari jok belakang motor Azhar.

“hmm…” Lima sampai tujuh detik Azhar terdiam. Kukira pertanyaanku terpental helm hitamnya. Ternyata tidak.

“Apa, Bang?” Pertanyaanku menukik balik ke belakang. Padahal saat itu sebetulnya aku sedang mengumpulkan jawaban dari berbagai sudut pandang.

“Kesendirian” sesaat kujawab singkat.

***

Seperti itulah hasil permenunganku. Dan hari ini Allah mengizinkanku merasakan secuil dari apa yang pernah kurenungkan dua tahun lalu itu. Kesendirian. Sendiri di gubuk kecil ini. Tanpa mereka-mereka yang sejak 2011 lalu membersamai hariku, suka dukaku, lapang sempitku, semangat dan payahku. Seperti ada yang hilang. Aneh.

Akupun tersadarkan, sepertinya aku memang tidak terbiasa tinggal di suatu tempat sendirian. Sejak semester 1 sampai semester 4, aku tinggal sekosan dengan teman sejak SMA-ku. Aldy namanya. Setelah itu tinggal nomaden pindah-pindah kontrakan-Asrama Quran bersama mereka-mereka itu. Maka, hentakan kesendirian di hari ini, dan beberapa hari ke depan, sepertinya lumayan akan berpengaruh terhadap ‘selera makan’-ku😀. Mungkin ini terkesan lebay bagimu. Tapi memang begitu adanya🙂. Aku pun tak menyangka bisa semembekas ini.

Gubuk ini, juga beberapa tempat lain yang pernah kami tempati, ternyata punya nilai tersendiri di hati kami. Salah satu nilai yang kudapatkan darinya adalah pelajaran hidup tentang kebahagiaan dan kesendirian seperti yang telah kusampaikan:

Bahwa, boleh jadi seseorang bisa bertahan hidup dalam kekurangan harta. Akan tetapi, ia belum tentu bisa bertahan saat kesendirian melandanya. Boleh jadi pula seseorang hidup bahagia dalam keserba-cukupan. Akan tetapi, masih tersisakah kebahagiaan yang hanya dirasakan sendirian?

***

Aku jadi teringat dengan kisah Ka’ab ibn Malik, dan dua orang temannya (radhiyallahu ‘anhum), yang atas kelalaian mereka tidak turut berperang, Rasulullah melarang siapapun untuk berbicara dengan mereka sebagai bentuk hukuman dan penangguhan penerimaan taubat mereka. Tak seorangpun berkenan berbicara dengan mereka. Pertanyaan mereka diabaikan. Salam dan tegur sapa mereka tak diacuhkan. Termasuk oleh Rasulullah. Termasuk oleh keluarganya. Bahkan juga istrinya. Dan kesendirian itu ia rasakan sampai akhirnya diterima taubat mereka selama 50 hari lamanya. Quran pun mengabadikan sempitnya kesendirian itu delam salah satu ayat-Nya:

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja …” QS. At-Taubah: 118

Adakah yang lebih bisa menggambarkan sesaknya kesendirian melebihi gambaran “… hingga, apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka …” dalam Firaman-Nya ini?

***

Begitulah. Dari gubuk kecil dan mereka yang membersamaiku di dalamnya, hari ini aku kembali belajar tentang bahagia dan kesendirian. Bahwa kita membutuhkan orang lain untuk bisa bahagia, dan tidak ada yang lebih cepat mencabut kebahagiaan melebihi kesendirian.

Terima kasih kepada mereka yang telah hadir menggenapiku dalam kebahagiaan. Pertama, tentu saja keluargaku di rumah. Kemudian Aldy, teman sejak SMA kelas XI, XII, kemudian menjadi teman seper-atap-an sejak semester I-IV kuliah, juga teman ngobrol soal apapun hingga saat ini. Azzis, teman pertamaku di Fisika UI. Luqman, yang ‘menyesatkanku’ ke jalan kebaikan. Teman-teman LD MII, OASIS, Syi’ra, SALAM UI i5, dan terutama teman-teman seperjuanganku di Indonesia Quran Foundation. Terima kasih telah menyelamatkanku dari bencana kesendirian.

:’)

Depok, 23 Juli 2015
02:45 WIB

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s