Tanggapan Saya untuk “Tolong Jangan Bilang Anakku ‘Pintar'”

image

Entah mengapa, setelah baca artikel ‘Tolong Jangan Bilang Anak Saya “Pintar”‘, di dalam hati saya seperti ada yang mengganjal. Karena itu, tadi saya coba kasih tanggapan deh. Berikut tanggapan dari saya: *Semoga saja bisa jadi solusi tambahan yang melengkapi*

👇👇👇

[7:53AM, 5/28/2015] @YsGunawan: Nice post, Mi! Hatur nuhun udah share. :D:D:D:D:D

[7:54AM, 5/28/2015] @YsGunawan: Kesimpulan dari saya: Apresiasi ternyata punya dampak negatif. Contohnya adalah ketika apresiasi diarahkan pada hasil, bukan usaha yang dilakukan kayak contohnya di atas. Penulis pun udah nyampein gimana cara mengantisipasi sekiranya anaknya terpapar apresiasi-hasil. Yaitu, langsung nimpalin pake apresiasi-proses.

[7:54AM, 5/28/2015] @YsGunawan: Pertanyaannya, itu kan bentuk pengantisipasian dari eksternal si anak. Sementara itu si anak belum tentu selalu didampingi si Ibu yang udah ngerti hal ini. Si Ibu pun gak bisa ngendaliin orang-orang biar gak ngasih apresiasi-hasil. Berangkat dari situ, menurut teman-teman, ada gak cara biar si anak itu sendiri punya mekanisme internal –yang dengannya dia bisa IMUN sama jenis apresiasi apapun, FM/GM sama aja?

Sedangkal pengetahuan saya, adab Islam udah punya solusi ampuh terkait hal ini. Islam punya cara biar anak-anak kita, atau kita, IMUN terhadap segala jenis apresiasi yang itu berdampak buruk kayak apresiasi-hasil di atas.

[7:55AM, 5/28/2015] @YsGunawan: Coba perhatikan ini:

  • Dalam surat al Kahfi, selepas membangun tembok penghalang dengan teknologi canggih saat itu, Zulkarnain bilang gini “haadzaa rahmatun min Rabbi”, bahwa dia bisa ngebangunin tembok itu bukan semata atas usaha dia, tapi atas kemudahan dan pertolongan (Rahmat) Allah yang banyak.
  • Umar bin Khattab mempopulerkan ini: kalau benar, itu datangnya dari Allah. Kalau ada salah, itu dari diriku sendiri dan setan.
  • Atau dua ayat berbeda yang tampak seperti kontradiktif ini: “wa khuliqal insaanu dha’iifa” sama “laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa”. Di satu sisi Quran minta kita buat semangat pantang nyerah karena beban diturunkan tidak melebihi kapasitas kita tuk nanggungnya. Tapi di ayat lain Quran pun ngingetin bahwa sekalipun begitu tetep aja manusia itu ‘dha’iifa’-lemah butuh bantuan Allah, dst.

Terus apa kaitannya antara 3 poin di atas sama ketahanan kita dalam menghadapi paparan ‘tepuk tangan’ yang mematikan?

Kita perlu menanamkan cara berpikir ke anak-anak, dan tentunya juga ke dalam benak kita, bahwa:

  • Sekiranya kita berhasil melakukan sesuatu/mencapai sesuatu, disamping itu karena usaha kita yang biasanya minim, itu juga karena Allah sudah menolong kita dengan memberi kita kekuatan, kemudahan, kelancaran, sehingga kita bisa berusaha sampai akhir dan mencapai hasil tersebut. Tanamkan ke anak, bahwa ketika dia berhasil melakukan sesuatu, di samping itu karena dia udah berusaha keras, juga karena Allah sudah membantunya, memberinya kekuatan, juga kelancaran sehingga dia biasa sampai pada titik itu. Ajari anak saat mendapat apresiasi untuk menjawab ‘Alhamdulillah, ini atas izin dan pertolongan Allah’.
  • Apresiasi terhadap usaha memang bisa memicu si anak untuk berupaya/belajar lebih ke depannya. Tapi, apresiasi-usaha saja rasanya tidak cukup. Karena pada titik tertentu si anak bisa terjebak sama kayak gini:  ‘Padahalkan aku udah berusaha sekuat tenaga, tapi kok malah begini dan begitu…, apa aku ini memang begini, apa aku ini begitu?’, yang itu pada akhirnya bisa jadi mentalblock juga bagi si anak –sepertinya. Hehe maap sotoy. Nah, sepertinya di samping kita perlu menanamkan ke benak mereka bahwa setiap kesulitan pasti bisa mereka atasi kalau mereka berusaha lebih, kita pun perlu menanamkan bahwa –bagaimana pun juga, sekalipun dia bisa mengahadpi itu semua dengan usaha– tetep saja dia itu lemah kalo tanpa bantuan Allah, ada hal yang gak bisa dikendalikan oleh usahanya, yang artinya dia membutuhkan bantuan Yang Berkuasa atas segala sesuatu. Dengan ini, si anak akan terselamatkan dari bahaya materialisme (menyandarkan harapan pada sesuatu hal yang terlihat saja, Godless), yang akibatnya: seolah2 hukum sebab-akibat di dunia ini tunduk terhadap usahanya dia.

Jadi, cara yang bisa dilakukan biar si anak bisa IMUN sama apresiasi-hasil yang mematikan tadi adalah dengan menanamkan nilai2 TAUHID ke dalam hati-pikirannya. Kalo saya boleh meringkasnya, mungkin dua hal inilah yang perlu ditanamkan tersebut:

  1. “Kalo pun aku mencapai sesuatu, itu karena Allah banyak membantuku dalam prosesnya. Jadi, kalau ada yang memuji capaianku, aku kembalikan pujian itu kepada Allah yang telah membantuku”. Cara menanamkannya bisa begini: kalo ada yang bilang ‘Wah, fulan pintar ya bisa menyelesaikan ini’, Kita timpali dengan: Alhamdulillah, atas pertolongan Allah, fulan sudah bisa berusaha begini begitu’. Terus kalau bisa tambahin ke anaknya, ‘alhamdulillah ya kamu bisa mencapai ini, udah terima kasih sama Allah belum? Allah kan sudah bantu kamu?” terus kalo ditanya ’emang Allah bantu apa, Bu?’ tinggal jawab ‘Allah yang ngasih kamu kesehatan, ngasih kamu tangan yang bisa digerakan, ngasih kamu hidung untuk bernafas, jadi kamu bisa nyelesaikan ini semua deh’
  2. “Aku harus berusaha, tapi apalah dayaku kalau aku tidak dibantu-Nya, aku butuh bantuan-Nya”. Ini perlu ditanamkan saat si anak sedang berusaha. Jangan sampai si anak menyandarkan harapan pencapaiannya kepada usaha dia saja. Arahkan anak untuk ‘melibatkan’ Allah dalam setiap usahanya. Kalau ini kurang ditanamkan, jangan kaget kalau suatu saat nanti anak kita nunda-nunda shalat dengan alasan besok mau ujian, sementara banyak banget materi yang belum ngerti, sibuk belajar, jadi sayang banget waktu kalo terbuang untuk shalat dan berdoa. Artinya dengan menanamkan ini, anak akan terselamtkan dari kehidupan yang Godless: menganggap shalat/doa gak begitu pengaruh, dst. Cara menanamkannya, misalnya: “Gimana, kamu bisa? Kok kelihatannya sulit ya? Kamu sudah berdoa sama Allah belum? Ayo tetap berusaha dan jangan lupa berdoa supaya Allah mau bantu kamu”.

    👇👇👇

    Dengan demikian, menurut analisis sotoy saya, kalau anak growth mindset bisa lebih kuat bertahan dan tumbuh dibanding anak fixed mindset, maka anak yang punya mindset TAUHID yang KUAT seharusnya akan jauh lebih survive dan tumbuh dibanding anak growth mindset tok (Godless). Karena, mereka berhasil mempertautkan kelemahan mereka dengan Ke-Maha Perkasa-an Allah. Dengan apa mempertautkannya? Doa dan usaha keras mereka. Dan, semua itu memang mesti dimulai dari diri kitanya sih. #Hazeg #SokIyeBanget😄

    Semoga bermanfaat :))

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

2 thoughts on “Tanggapan Saya untuk “Tolong Jangan Bilang Anakku ‘Pintar'””

  1. Assalamu’alaikum, terima kasih atas tanggapan yang sangat bermakna ini atas artikel yang saya tulis dalam blog saya di http://ourlearningfamily.blogspot.com. Saya pribadi setuju dengan pemikiran Anda, bahwa memang jangan sampai anak-anak tumbuh Godless, dan hal tersebut memang terkandung dalam setiap kata syukur “Alhamdulillah”, yang penjabarannya seperti yang telah Anda tuliskan dalam tanggapan Anda di atas🙂
    Namun demikian, selain apresiasi saya atas tanggapan Anda, saya berkomentar di sini juga untuk menanggapi bagian posting di laman Saudara yang berisi artikel saya, mohon sekiranya Saudara bisa merevisi sumber artikel tersebut dengan sumber aslinya di http://ourlearningfamily.blogspot.com/2015/05/tolong-jangan-bilang-anakku-pintar.html atau bila tidak berkenan, silahkan dihapus postingan artikel tersebut dari laman Saudara dan digantikan dengan tautan aslinya. Terima kasih🙂 Wassalamu’alaikum wr.wb.

    1. waalaikumussalam warahmatullah.. waah, gak nyangka bisa bertegur sapa langsung dengan penulisnya.. terima kasih sudah menukis bahasan menarik.. oke, sy akan segera edit setelah bisa akses internet via PC yaa.. insya Allah.. Maaf waktu itu belum tahu sumber asal tulisannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s