Disalahpahami Orang Lain

Di diskusi berkelompok itu kami membedah salah satu topik dalam bukunya Pak Fathi Yakan. Satu per satu menyampaikan hasil telaahannya. Sampai akhirnya tiba giliranku. Aku pun memaparkan begini dan begitu. Namun, aku kaget, ternyata hasil telaahanku kurang tersampaikan dengan baik. Aku menyampaikan X, tertangkapnya malah Y. Mungkin karena aku kurang pandai dalam membahasakan apa yang ada dalam benakku.

Tentu saja hal ini membuatku kurang nyaman. Terlebih, dengan pesan yang tertangkap (Y, seharusnya X) itu, aku menjadi terlihat seakan kurang mendalami topik sehingga aku keliru. Dalam hati aku pun bersuara, “Bukan. Maksudku bukan seperti itu. Aku tak ‘sepolos’ itu kok. :’D. Nah, iya betul. Sepakat. Aku pun berpendapat seperti itu kok, teman-teman.”

Ingin rasanya meminta waktu tuk mengklarifikasi. Hanya saja waktu diskusinya memang terbatas. Aku pun menghargai moderator yang berusaha memberi kesempatan kepada setiap anggota diskusi untuk memberikan argumennya masing-masing. Satu-satunya cara untuk klarifikasi adalah menyela/memotong pembicaraan pemberi tanggapan. Tapi rasanya itu tidak baik. Apalagi kami saat itu sama-sama baru pertama kali bertemu dan saling mengenal (nama).

Lantas apa yang aku lakukan?

Terbetiklah pertanyaan dalam hatiku: “Apakah aku benar-benar perlu mengklarifikasi? Untuk apa? Memangnya kerugian apa yang akan aku dapatkan saat aku membiarkannya begitu saja?” Beberapa pertanyaan itu membuat pikiranku sejenak menepi dari dinamika diakusi.

Nuraniku menjawab dengan sebentuk pertanyaan juga:
“Dibilang perlu, memang perlu sih. Tetapi, untuk apa ya? Agar diskusinya lebih mengarah atau apakah ini hanya untuk menyelamatkan wajahku dari penilaian rendah orang lain? Sebatas itu? Memangnya siapa saja yang dirugikan kalau hal ini aku abaikan? Apakah  melakukan klarifikasi itu bisa menjadi responku yang Allah sukai? Atau, yang mana yang kiranya lebih Allah sukai; Aku mengklarifikasi atau aku mengabaikannya –dengan konsekuensi aku seolah-olah belum paham dan belum banyak mendalami? Tapi, di balik itu semua, sebetulnya hikmah apa yang Allah tunjukkan kepadaku?”

Singkat cerita, akhirnya aku memilih untuk tidak mengklarifikasi. Aku membiarkan diskusi mengalir begitu saja sambil mengamati tanggapan serta koreksi dari rekan diskusi yang lain. Pilihan ini kuambil karena mata hatiku melihat, sepertinya keinginanku untuk mengklarifikasi telah ditunggangi hawa nafsu. Kalau aku mengklarifikasi, itu pasti lebih karena “aku tidak ingin rekan diskusiku menilai rendah diriku”, dibanding karena “aku ingin diskusi berjalan lebih terarah”.

Itulah pilihan yang benar-benar harus aku ambil. Sekalipun memiliki konsekuensi sebagaimana kusampaikan di awal tadi, toh keputusanku ini tidak akan begitu merugikan orang lain. Melalui miskomunikasi atau kesalahpahaman ini, agaknya Allah hendak mengujiku. Allah ingin melihat seberapa besar aku menghiraukan/mempedulikan penilaian manusia daripada penilaian-Nya. Rasanya memang berat (bagi hawa nafsuku). Akan tetapi, aku ingat nasihat guruku, bahwa perasaan berat dalam hal ini laksana rasa pahitnya obat yang harus kuminum agar penyakitku sembuh: penyakit ‘ingin dipandang baik’ yang nampaknya masih ada dalam hatiku. Ya, anggap saja ini sebentuk terapi bagi jiwaku.

Hikmah mendalam yang telah Allah tunjukkan padaku melalui “Disalahpahami Orang Lain” ini di antaranya:

Pertama, Aku harus lebih bijak dalam memandang setiap kejadian di sekitarku. Jangan sampai terjebak dengan fenomena permukaan. Aku harus bisa menggali lebih dalam tentang apa yang diinginkan Allah atasku melalui kejadian tersebut.

Kedua, hawa nafsu adalah ciptaan Allah yang juga bagian dari diriku. Apa yang disenangi hawa nafsu cenderung berdampak buruk bagiku –apabila dituruti terus menerus dan melebihi porsi yang aku butuhkan. Aku harus mewaspadai manuver-manuvernya. Sebagaimana nasihat dari Ibnu Athaillah dalam Bahjatun Nufus, bahwa: “Manuver hawa nafsu dalam perbuatan buruk tampak jelas, sedangkan manuvernya dalam perbuatan taat tampak samar tersembunyi –seperti riya, sum’ah, ujub, dst. Dan menyembuhkan yang tersembunyi itu amatlah sulit.” Maka dari itu, melalui kejadian ini, aku bersyukur kepada Allah yang telah menunjukkan kepadakau salah satu manuver hawa nafsu yang tampak samar dan nyaris tersembunyi. Semoga dengan ini aku pun kemudian bisa belajar cara menyembuhkan dan mengantisipasinya.

Ketiga, sebelum memberikan respon atas suatu kejadian, atau saat hendak melalkukan sesuatu, mekanisme check dan re-check harus berjalan dalam diriku. Aku harus berulang-ulang bertanya kepada diri sendiri; “Tindakan terbaik seperti apa yang harus aku berikan? Akankah Allah menyukai tindakanku tersebut? Adakah andil hawa nafsu dalam tindakanku ini? Bagaimana agar hawa nafsu tidak turut menunggangi tindakan ini?”, dan begitu seterusnya. Hingga aku benar-benar yakin tindakan yang akan aku lakukan semata-mata ditujukan untuk meraih ridha Allah. Dilakukan sebaik mungkin agar Allah suka, bukan agar dipandang baik manusia.

Segala Puji bagi Allah atas taufiq dan hidayah-Nya. Semoga Allah mengampuni perbuatan buruk yang pernah kita lakukan. Baik yang kita sadari, dan terutama yang kita tidak menyadarinya.

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

One thought on “Disalahpahami Orang Lain”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s