Pelajaran dari Mimpi Kematian

Aku tidak tahu, apakah ini termasuk mimpi buruk atau bukan. Yang jelas, aku lebih menangkapnya ini sebagai bentuk peringatan dari Allah. Untukku, juga untuk keluargaku. Karena itu aku memilih untuk menuliskannya.

Malam tadi aku bermimpi, kakekku –semoga Allah menjaganya– telah menghadap Allah. Dalam mimpi itu, aku pulang ke Bogor, kemudian melihatnya sudah terbaring kaku tertutup kain kafan di ruang keluarga rumahnya. Keluargaku semua berkumpul. Aku pun sempat berbincang dengan beberapa orang dari mereka tentang rencana pemakan serta ini itunya.

Semuanya tampak berduka. Terutama Kiki, Om kecilku yang sekarang masih duduk di bangku SMA. Saat kutanya tanteku, di mana Kiki, ia menunjuk ke arah kamar. Kudapati Kiki tertidur dengan posisi agak miring dan tengkurap. Suara cegukan tangisnya masih bisa kutangkap. Tangan kanannya menjadi bantalan dua bola mata yang masih mengeluarkan beberapa tetes air duka. Tentang siapa di antara keluargaku yang paling merasa kehilangan, mungkin Kiki inilah orangnya.

Kurang lebih seperti itulah apa yang pagi ini masih bisa aku lihat jelas dalam mimpiku malam tadi. Selebihnya aku tidak ingat apa-apa.

Ada yang sedikit janggal dalam mimpi itu.  Di mimpi itu aku tidak sedikit pun mengeluarkan air mata duka. Aku pun tidak terkejut saat melihat keluargaku berkumpul menemaninya untuk terakhir kali di ruangan itu. Padahal aku sangat sangat dekat dengan beliau, kakekku. Saking dekatnya, bahkan aku pun memanggilnya dengan panggilan Bapak. Sebagaimana panggilan ibu, om, dan tanteku terhadapnya. Aku lebih terlihat sebagai penonton yang bisa berinteraksi dan merasakan langsung adegan dalam mimpi itu.

Mimpi ini mengingatkanku akan masa-masa itu. Di awal tahun 2009 lalu, aku sempat mengalami ketakutan yang berlebihan terhadap kematian. Kapan pun, di mana pun, aku merasakan seolah-olah malaikat Izrail akan datang dari arah depan, samping, atau belakangku. Di kamar kosan, saat nyebrang jalan Margonda, di ruang kuliah, saat hendak shalat, sebelum tidur, dan di banyak tempat-kesempatan lainnya. Aku tidak tahu bagaimana awal dan penyebab munculnya perasaan seperti itu. Meskipun demikian, aku bersyukur, karena masa-masa itu menjadi sekotak waktu yang di dalamnya kutemukan titik balik hidupku yang pertama.

Di hari-hari yang panjang itu, kalau aku bukan sedang cemas atas maut yang tiba-tiba bisa datang menjemputku, aku pasti sedang khawatir bila maut akan menjemput salah satu anggota keluargaku. Mengingat di keluarga terdekatku dari ibu (nenek, kakek, om, tante, ibu, bapak, adik, sepupu) semuanya masih lengkap –bahkan sampai saat ini, alhamdulillah. Kami belum pernah ‘kehilangan’ satu pun anggota keluarga terdekat. Dan saat itu aku menyadari, perkara meninggal-ditinggalkan sebetulnya adalah perkara menunggu waktu yang Allah kehendaki saja. Yang jelas aku harus siap dengan segala kemungkinan. Begitu juga dengan keluargaku.

Singkat cerita aku bisa melalui masa-masa itu dengan penuh perenungan. Aku pun bisa menjalani hari dengan keyakinan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Kematian adalah keniscayaan yang harus aku siapkan. Aku harus siap meninggal duluan atau ditinggalkan. Tidak cukup di situ, aku pun perlu mengingatkan anggota keluargaku agar sama-sama bersiap. Maka aku pun merencanakan untuk menyampaikan ajakanku/pengingatanku ini satu per satu kepada mereka.

Melalui mimpi ini, aku pun tersadar, bahwa tugasku untuk mengajak keluarga untuk mempersiapkan hari akhirat belum aku tuntaskan dengan baik. Masih setengah-setengah. Selama ini aku lebih sering menyampaikannya secara tidak langsung. Mungkin dalam waktu dekat ini aku perlu menyampaikannya langsung ke poin utamanya. Bahwa aku dan keluargaku harus siap bilamana ada anggota keluargaku yang dipanggil Allah duluan. Agar kami tidak terlampau terkejut. Apalagi untuk yang pertama kalinya nanti, yang kami tidak tahu kapan akan terjadi. Entah tahun depan, bulan depan, atau mungkin pekan ini.

Aku hanya berharap saat ada di antara kami yang meninggal nanti, kami bisa menutupi duka kami dengan rasa tenang. Tenang karena kami menyaksikan anggota keluarga yang ‘meninggalkan’ kami itu sudah bersungguh-sungguh menyiapkan bekal akhiratnya, serta meninggal dalam amal dan keimanan terbaiknya. Aku pun memohon perlindungan Allah agar saat ada anggota keluarga kami yang harus menghadap-Nya, kami tidak ditimpakan duka yang berselimut kegelisahan. Gelisah karena kami merasa belum bisa menjadi saudara yang baik, yang bisa menjaganya dari panasnya api neraka.

Kututup tulisan tentang mimpiku ini dengan kalimat yang utama. Semoga bisa menjadi pengingat bagi kita semua:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ} [التحريم : 6]

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At-Tahrim: 6]

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

One thought on “Pelajaran dari Mimpi Kematian”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s