#BukuIQF: Pertanyaan, Kegelisahan, dan Sebuah Jawaban

Pagi itu seseorang tanpanama bertanya melalui akun ask.fm saya. “Apa yang membuatmu bertahan di IQF hingga saat ini?” Jegerrrrr! Jujur, saya kaget ditanya seperti itu. Karena, rasa-rasanya sampai detik itu satu-satunya orang yang berulang kali menanyakan hal yang senada dengan pertanyaan tersebut adalah diri saya sendiri. Saya coba menerka, mungkin ini ulahnya Zain –salah satu teman seatap dan seperjuangan saya di IQF. Tapi ternyata pelakunya bukan dia. Bahkan dia mendapat pertanyaan yang sama.-

Perhatian saya pun beralih kembali ke pertanyaan itu. Saya balik bertanya, mengapa si anon kok sempat-sempatnya menanyakan hal itu? Lebih anehnya lagi, mengapa ia bertanya melalui akun ask.fm yang ruang jawabnya terlalu sempit untuk pertanyaan yang saya mungkin butuh satu dau jilid buku untuk menuliskan jawabannya? Terus, apa coba maksudnya memilih kata ‘bertahan’ dan bukan memilih kata ‘tumbuh’?

Singkat cerita, pertanyaan si anon ini saya abaikan. Meskipun sebetulnya terus mengganggu pikiran saya. Bukan, saya bukan enggan menjawabnya. Bahkan saya sudah sempat berusaha menjawab pertanyaan tersebut berbulan-bulan sebelum si anon menyampaikan pertanyaannya. Yang sayangnya, saya selalu gagal untuk menyelesaikannya. Eh maaf, jangankan untuk menyelesaikannya, bahkan untuk memulainya saja sulitnya luar biasa. Ketik ketik ketik, hapus hapus hapus hapus. Ketik lagi ketik lagi, hapus lagi hapus lagi hapus lagi, dan ini terjadi berulang kali. Sulit. Saaangat sulit. Mungkin sesulit ketika saya harus menjelaskan bagaimana itu rasanya manis, atau bagaimana wangi setangkai bunga.

Beberapa hari setelahnya saya teringat dengan perkataan indah ini, “… Nikmat yang tidak dimengerti kecuali oleh yang merasakannya…” – Sayyid Qutb, dalam muqaddimah Fii Zhilalil Quran-nya. Mungkin seperti itu pula yang saya rasakan sejauh ini. Ada sesuatu yang membuat saya memilih untuk tumbuh di sini –entah sampai kapan, yang sesuatu tersebut mungkin akan sulit dimengerti kecuali oleh dia yang merasakannya juga, di sini.

Oh ya, maaf saya belum memperkenalkannya. Indonesia Quran Foundation nama panjangnya. ‘IQF’, begitulah kami memanggilnya. Sebuah lembaga pendidikan dan pembinaan Quran. Membentuk generasi intelektual penghafal Quran adalah kalimat singkat yang bisa menjelaskan apa dan untuk apa geraknya. Allah menakdirkan saya hadir dalam detik-detik kelahirannya. Saya menyaksikan langsung bagaimana ia keluar dari rahim cita-cita ke alam aksi nyata. Bersamanya kami tumbuh, mendefinisikan ulang makna hidup, merumuskan kembali nilai-nilai hidup, menanam benih-benih keabadian hidup, merawatnya, hingga suatu saat nati kami berharap anak cucu kami bisa melihat benih yang kami tanam tadi bunga-bunganya bermekaran di setiap sudut negeri, insya Allah. Ya, bagi saya berbicara IQF memang bukan soal tempat, melainkan soal semangat menjalani hidup yang lebih Hidup, di bawah naungan Quran.

Maaf sedikit melompat, saya lanjutkan lagi ya.

Singkat cerita, kegelisahan atas pertanyaan si anon dan kegagalan saya saat mencoba menjawabnya sedikit demi sedikit terobati dengan adanya rencana ini. Semuanya berawal dari keinginan beberapa orang dari kami di sini. Khususnya dari teman-teman santri putri, yang kemudian dimasukkan ke dalam program kerja IQF tahun ini. Apa itu? Kami berencana menerbitkan sebuah buku yang di dalamnya akan kami kupas apa yang kami alami dan rasakan saat belajar Quran di sini. Tidak, kami tidak bermaksud menggurui. Kami sadar usia kami masih belia. Hafalan Quran kami masih banyak bolongnya. Ilmu kami pun masih tak seberapa.

Kami hanya ingin berbagi kisah tentang apa yang kami alami dan kami rasakan dalam setiap detail proses belajar di sini, yang kami menikmatinya dan menganggap hal ini adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kami saat ini. Nikmat yang kami pun ingin saudara kami di luar sana merasakannya. Oleh karena itu, agaknya kami tidak bisa menunda-nundanya lagi. “Seperti bunga yang tak kuasa menahan bau harumnya” mungkin seperti perkataan Sayyid Qutb itulah kondisinya.

Alhamdulillah, tim penyusun #BukuIQF-nya sudah terbentuk. Kami berdelapan, tapi alhamdulillah didukung semua santri, ustadz, dan para alumni. Selain saya ada Egi, Oji, Fitrah, Rani, Asma, Deli, dan Farah. Tim kecil #BukuIQF ini baru berjalan efektif sekitar dua pekan ini. Alhamdulillah, saya senang karena mereka semua antusias untuk menggarap project akhirat ini. Betul, project akhirat. Karena kami ingin apa yang kami lakukan ini menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bagi kami dan guru-guru kami. Kami pun ingin agar kami lah yang menjadi orang pertama-tama yang bisa mendapatkan manfaat dari penuluisan #BukuIQF ini. Adapun harapan saya secara pribadi, semoga bila ada yang bertanya seperti si anon tadi, atau si anon tadi bertanya kembali, saya bisa menjawab pertanyaannya sambil berkata “Nih, baca saja buku ini! J”.

Alhamdulillah ala kulli haal. Semoga Allah meridhai langkah ini, memberikan taufiq, dan menguatkan kami untuk bisa menyempurnakan ikhtiar dalam menyelesaikan amal ini.

Bismillah!

Dalam semangat,
Di tepian luar naungan Quran,
Lembah Kapuk Daarussalam,
27 April 2015 | 1:13 WIB

–GUN–

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

4 thoughts on “#BukuIQF: Pertanyaan, Kegelisahan, dan Sebuah Jawaban”

  1. So, at last, have you finally answer the anon’s question on your ask.fm?

    Btw wah ditunggu banget #bukuIQF-nya

    Kalo ane punya rencana ngoleksi kisah ibu2 erte ngafal trus dibukukan juga. Heuheu nasip pengen jadi anak asrama ga kesampean. Hehe semoga tercapai. Gud luck for us!

    1. Cuma dijawab gini Ezz: “mau tau aja apa mau tau banget?” hehe. Susah buat jawab sesingkat di askfm itu.. Wih, menarik juga ituh.. Kapan itu rencananya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s