Peristiwa Menulis

Menulis, apabila dilakukan sedalam hati, itu seperti setengah kematian, atau seperempat kematian, atau sepersekiannya kematian. Atau seperti  seorang ibu yang melahirkan. Disadari atau tidak, saat nulis sepersekian dari jiwa kita (ruh) tercabut, kita pisahkan, dan kemudian kita transfer ke jasad baru berupa huruf-huruf yang berbaris dan berkelompok itu.

Karena itulah tak jarang kita merasakan ‘sakit’ saat melahirkan beberapa bait tulisan. Bagaimana tidak sakit? Sesuatu yang sebelumnya ada di alam jiwa yang tak berbatas, kita paksakan untuk hidup di alam bahasa yang sempit seperti penjara. Bahkan bahasa tak selalu mampu menjadi jasad yang bisa manunggal dengan makna dalam kepingan-kepingan jiwa tadi.

Akan tetapi, di sisi lain, hal inilah yang biasanya menjadikan sebuah tulisan terasa hidup -bahkan kadang juga menghidupkan. Tulisan menjadi hidup saat huruf-hurufnya dipersatukan menjadi kata, kata-katanya dipersatukan menjadi kalimat, kalimat-kalimatnya disatukan menjadi paraf, oleh sesuatu yang hidup: jiwa penulisnya.

Seperti itulah peristiwa menulis dalam pandangan saya. Saya jarang nulis, karena tak pandai mengolah bahasa. Makanya kalau jiwa saya sulit ‘membelah diri’ lewat tulisan, saya salurkan dengan mengharmonisasikan garis, bentuk, dan warna. Atau kadang pakai naik-turunnya nada. Saya mah gitu orangnya.

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s