Terima Kasih

Nikmat besar setelah nikmat Iman-Islam, kata Umar bin Khattab, adalah nikmatnya persaudaraan.

Persaudaraan yang saling menjaga,  mengingatkan, mengarahkan, dan kadang juga memaksa-menggusur diri, agar setiap detik jatah hidup yang tersisa ini harus bernilai ibadah dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Kimawi kenikmatnya pun sederhana. Terbilang tidak mewah atau gegap gempita. Seperti mengalirnya nasihat lewat lisan atau keteladanan, melalui  teguran dan peringatan, juga melalui apa-apa yang tak terlihat dan tak tertangkap telinga. Seperti heningnya  doa dan gemuruh dalam dada. Sesederhana itu.

Sesekali terwarnai oleh letupan emosi, sedikit luka, dan buruk sangka -faghfirlana ya Allah. Akan tetapi selalu ada bisikan yang kemudian mengingatkan “Bersyukurlah dengan berlapang dada, bukankah itu pertanda Allah masih menjaga mereka untuk membersamaimu. Rasa itu semua tidak berarti apa-apa dibanding ketiadaan mereka.” Dan, gejolak itu pun perlahan sirna. 

Kesyukuran teramat dalam bisa bersama teman-teman sekalian di dalam taman persaudaraan ini. Taman yang selalu mekar bunganya saat kita terus merawatnya dan saling menumbuhkan. Taman yang orang-orang di luar sana bergelut setengah mati mencarinya. Sementara dalam waktu yang bersamaan, Allah memberikannya kepada kita secara ‘cuma-cuma’, tanpa kita sadari sebelumnya.

Semoga Allah menjaga kalian semua, serta memberkahi setiap detik yang tersisa.

Akhukum fillah,
Gun

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s