Gagal Ngajak Main Tebak-tebakan, Pemuda Ini Nekad Muhasabah Diri

image

*hati-hati, tulisan ini mengandung dramatisasi :3

Seorang anak muda kejebak hujan. Isi kepalanya pun rasanya lagi berantakan. Harus ke sini, harus hubungi itu, yang ini belum dikerjakan. Bermaksud  melepas penat, keluarlah ide untuk main tebak-tebakan di grup whatsapp.

Tangannya pun tergesa merogoh kantung jeans yang ia kenakan. Ibu jarinya bergerak cepat seolah tak mau terkejar akal sehat. Lalu terjadilah apa yang terjadi.

“Beladiri apa yang sangat tajam?

#tebakberhadiah”

Ke dalam grup whatsapp “Rangers TS3”, tebak-tebakan pertama terlontar sudah. Pikirannya terbang menerka respon bocah-bocah di sana. Degup jantungnya kian membuncah. Pasalnya, selang beberapa menit  respon tak jua ada.

Sambil menikmati hujan, hp kembali ia simpan. Berharap ada minimal satu tanggapan. Kemudian ia rogoh kembali hp nya. Dan, “Aha!” satu notifikasi diterima. Tetapi, “Gubrak!”, terdengar bunyi reruntuhan di kepalanya.

“Ngomong ama siapa ya?”

Begitulah respon pertama yang ia terima dari kawannya, bro Fakhril Maula. Hancur sudah harapannya  berkeping-keping. Seakan dari ketinggian tubuhnya dibanting. Bermaksud refreshing, malah berujung boring.

Tak putus asa, dengan gagah berani dan sok sokan elegan, ia pun menimpali.

“Yasudah, saya tebak-tebakannya mau di grup lain saja.” Dengan tanggapannya ini, ia berharapa ada satu dua orang yang memberi tawa, atau apaaaa gitu. Akan tetapi Allah berkehendak lain. “Da aku mah apa atuh. Jangankan ada yang turut empati, yang ngasih emoticon ngakak pun gak ada. Sepi. Peri.”, bisik hatinya.

“Ekhm” (sambil membetulkan kerah kemejanya)

Dengan penuh percaya diri ia masuk ke grup whatsapp tetangganya. “Pengurus IQF 2015″. Kali ini ia mencoba memberi sedikit pembukaan. Mudah-mudahan saja teman-teman di grup lebih berkenan.

” Teman2, biar ga terlalu serius, sy punya tebak tebakan berhadiah nih..

1. Olahraga beladiri apa yang paling tajam?

#asahkreativitas”

Reruntuhan hujan masih berjatuhan. Puing-puingnya menusuki sepatu, sebagaimana hatinya yang tertusuk jadi sembilu. Denyut dalam dadanya kembali berdebar. “Ya Allah.. Gerakkanlah hati salah seorang hamba-Mu untuk menjawab tebak-tebakkanku.” Gumamnya yang dalam waktu bersamaan harap dan cemas mulai berkecambah dalam hatinya.

Selang beberapa menit, ia kembali lihat hp nya. Tidak ada tanggapan. Ia pergunakan fasilitas untuk mengecek siapa saja yang sudah membaca lontaran tebakkannya. Udah ada beberapa yang baca. “Kenapa gak ada yang respon ya?”

Singkat kata ia pun tersadarkan. Akan nilai yang ke dalam dirinya coba terus ia tanamkan.

“Allah sedang mengetuk hatiku.” Ucap hatinya syahdu. “Benar kata guruku, saat manusia seakan menjauhiku, sebetulnya saat itu Allah sengaja menjauhkan mereka agar yang tersisa tinggal berdua, Dia dan aku.” lanjutnya diselingi dengan kalimat istighfar yang mengalir di lisannya.

“Setiap detik harus bernilai. Agar kita bisa semakin dekat dengan Allah. Bukankah itu nilai yang sejauh ini coba ku amalkan? Tapi kenapa aku lupa?”

“Menunggu itu membosankan, kecuali bagi para sahabat Quran.” Ia teringat kembali kalimat sakti itu. Kalimat yang suatu saat pernah ia poster-kan.

Ia menghela nafas panjang. Tangan kanan ia letakkan di dada sebelah kirinya. “Kemarau apa gerangan yang telah mengeringkan segumpal daging ini?” Tanyanya retoris. “Bukankah saat menunggu bisa ku gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat seperti membaca, mengulang hafalan Quran, menghubungi teman yang lama belum disilaturrahimi, dst?” lanjutnya.

“Mungkin ada yang salah dengan shalatku, dengan ngajiku, dengan niatku, dengan…” ia baru tersadar, hujan ternyata mulai menghindar. Ia kayuh sepeda motor kesayangannya. Kemudian berdoa, “Ya Allah, hamba zhalim, ampuni hamba.”

Inilah kisah seorang anak muda, yang Allah mengetuk pintu hatinya dari arah kelalaian yang dilakukannya. Benarlah kata Ibnu Athaillah, bahwa Allah bukan menolak pinta hamba-Nya sekiranya hamba tersebut bisa menemukan hikmah. Ya, itulah Allah ArRahman. Dalam penolakan-Nya saja ia memberi, bagaimana dalam pemberian-Nya ia tidak memberi?

Sekian kisah sederhana ini. Mohon maaf apabila terlalu banyak dramatisasi. Sekadar renungan pribadi. Alhamdulillah jika memang bisa menginspirasi.🙂

*betulin peci :p

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

2 thoughts on “Gagal Ngajak Main Tebak-tebakan, Pemuda Ini Nekad Muhasabah Diri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s