Penyakit Matre

image

Salah satu penyakit hati yang kadang menjangkiti kita, atau mungkin saya saja, adalah penyakit matre. Penyakit matre yang saya maksud di sini bukan penyakit doyan belanja atau gila harta. Matre yang saya maksud adalah penyakit -baik sengaja atau tidak- melupakan dan mengabaikan yang tidak terindra.

Misalnya adalah menyelesaikan suatu masalah tanpa melibatkan-Nya dan hanya mengandalkan akal, tenaga, dan daya diri. Seolah-olah akal, tenaga, dan harta itulah yang menjadi sebab datangnya sebuah akibat yang diinginkan. Padahal sekali-kali tidak demikian. Apa hebatnya isi kepala kita? Beberapa menit tidak disuplai oksigen saja bisa kelepek-kelepek. Seberapa besarnya tenaga kita? Beberapa hari tanpa makan dan minum saja pasti kewalahan. Apalagi harta, benda mati yang tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan kadang membuat celaka.

Kalau kata AaGym, menyelesaikan masalah tanpa meminta bantuan Allah itu sikap sombong atau takabbur. Mungkin karena sama saja dengan menganggap Allah tidak punya kuasa apa-apa atas hukum kausalitas di dunia ini. Ah ya, mungkin kita terlalu terlena dengan hukum kausalitas itu sendiri. Seolah-olah kalau kita begini maka hasilnya akan selalu begitu. Padahal, agaknya di dunia nyata justru lebih banyak yang ‘kalau melakukan ini, maka belum tentu hasilnya bisa begitu. Hasilnya mungkin begitu A, begitu B, atau bisa menjadi begitu C’.

Kita terlalu sering bersandar terhadap apa-apa yang nampak dan terindra. Kita pura-pura lupa, bahwa Ada yang berkuasa menjadikan api tak membakar Ibrahim. Ada yang berkuasa menjadikan tongkat Musa membelah laut merah. Ada yang berkuasa menjadikan Isa bayinya Maryam berbicara. Dialah Penguasa segalanya. Bagi-Nya mudah untuk memberlakukan atau tidak memberlakukan hukum kausalitas. Karena Dialah yang menciptakan-Nya.

Salah satu nasihat yang sampai sekarang masih terus terngiang di benak saya adalah nasihat Ibnu Athaillah. Saya lupa redaksionalnya seperti apa, kurang lebih maknanya seperti ini; Seseorang akan mendapatkan apa yang ia minta, selama ia tidak bersandar pada diri sendiri atau kepada makhluk lain. Seseorang akan mendapatkan apa yang ia pinta selama ia  bersandar kepada Ash-Shamad.

Sementara itu, termasuk tidak bersandar kepada Allah ialah bersandar kepada amal. Persandaran kepada amal akan menjadikan kita berparadigma seolah-olah amal kita itu bernilai, sehingga bisa kita pakai untuk ‘berjual-beli’ dengan kehendak Allah. Mahasuci Allah dari sifat bisa dikendalikan oleh amal makhluqnya. Sekali-kali tidak, amal kita tak bisa mengatur kehendak Allah. Allah Maha Berkehendak dengan rahmat dan keadilan-Nya. Ketika kita mendapatkan sesuatu, itu pasti karena rahmat Allah, bukan karena kita pantas mendapatkannga. Da kita mah apa atuh, beramal ribuan tahun juga tak akan mampu menebus setitik nikmat-Nya.

Kata AaGym juga, kalau kita bersandar pada makhluk, kita akan mudah kecewa, gelisah, dan capek.

Mohon maaf ini tulisannya kurang sistematis dan ke mana-mana. Jadi intinya adalah ikhtiar harus dimaksimalkan sampai titik darah penghabisan. Akan tetapi, jangan sandarkan harapan atau pergantungan kepada diri sendiri, amal, atau kepada makhluk lainnya. Sempurnakan ikhtiar, kemudian berharaplah kepada Allah saja. Menggantungkan sandaran kepada Allah ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar bathiniah kita.

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s