Orang yang ‘Arif

Catatan ringan tentang yang mngganjal pasca pembacaan ulasan kitab al-Hikam oleh Syaikh Abdullah Syarqawi (Grand Syaikh al-Azhar)

=================================

Teman2 santri Tahfizh Smart 3..
Setelah pembacaan al-Hikam dan ulasannya tadi pagi saya jadi gak enak hati euy! kayak ada yang ngeganjel gitu. Mungkin karena ada ulasan syaikh abdullah syarqawi -yang kalau tidak dibaca berulang kali- maknanya bisa ambigu/ngeblur/samar. Sehingga membingungkan.

Untuk itu, berikut ini sy tuliskan beberapa hal yg saya khawatir kita agak keliru dalam memahaminya. Saya tambahkan dari ulasan kitab al-Hikam lain ini yg pernah saya baca. Maaf agak panjang.

1. “Orang ‘Arif (yg mengenal Allah) menganggap pelaku semua amal ibadah mereka ialah Allah semata, sedangkan mereka hanyalah objek penampakan dari tindakan dan ketentuan Allah.”

Dari penjelasan kitab al-Hikam yg lain sy pernah baca, bahwa maksudnya adalah jangan sampe kita menganggap diri kita keren hanya karena bisa beramal. Soalnya kita bisa beramal itu karena dikasih kekuatan dan dimudahkan Allah, peran kita dalam amal cuma dikiiiiiiit banget. Atau, jangan pula menganggap amal kita bernilai di hadapan Allah. Karena terlalu banyak amal yg tidak disertai taqwa. Amal kita gak ada apa apanya dibanding nikmat yang Allah beri.

2. “Jika melakukan kesalahan, orang ‘arif akan melihat perbuatannya itu sebagai ketetapan dan takdir Allah atas dirinya.”

Kita pun perlu ingat kata Ibnul Qayyim, bahwa Allah men-takdirkan sesuatu dengan men-takdirkan sebab-sebabnya. Kalo kita lalai lupa shalat isya, misalnya, jangan nyalahin takdir Allah dong. Itu terjadi memang atas izin Allah -meski Allah tdk suka. tetapi itu terjadi karena ada sebab takdir yang kita lakukan, misal menunda-nunda.

Atau perkataan Ibnul Jauzy dalam Shaidul Khathir, beliau bilang kita harus sabar-ridha terhadap ketetapan Allah. Akan tetapi jangan sabar terhadap kebodohan dan kemalasan, karena itu berasal dari diri sendiri, bukan dari Allah -meski Allah mengizinkan hal itu terjadi.

3. “Bagi orang ‘arif, tidak ada bedanya antara benar ataupun salah, saat taat maupun khilaf, karena ia telah tenggelam dalam lautan tauhid. Rasa harap dan takutnya tetap dalam keadaan seimbang. Maksiyat tak menambah rasa takutnya pada Allah, dan taat pun tak menambah rasa harapnya kepadaNya.”

Takut adzab Allah saat lakukan maksiyat itu pertanda hati kita masih hidup. Setidaknya kita masih meyakini akan adanya adzab Allah. Tapi, tetap punya rasa takut yang besar meski tidak sedang melakukan kemaksiyatan, ini luar biasa. Hanya bisa dilakukan orang yang benar2 mengenal Allah. Orang arif, sama aja bagi mereka, baik dalam taat atau maksiyat, rasa takut mereka tetap besar.

Begitu juga dengan harap. harap mereka juga tetap besar, baik saat mereka lakukan ketaatan maupun saat lalai. Saat lakukan taat, harap mereka besar karena mereka tidak memandang amal mereka bernilai. Saat lakukan khilaf harap mereka besar karena mereka yakin akan luasnya Rahmat Allah.

Demikian. Saya semata2 hanya memindahkan apa yang saya ingat dari yang pernah saya baca atau dengar dari guru. Tak bermaksud lancang menafsirkan kembali,  karena ilmu masih terlalu sedikit. Tentunya yang saya tambahkan di atas belum bisa mewakili makna seluruhnya.  Alhamdulillah, dengan ini yang ngeganjel dalam hati sy nya agak hilang. Mohon koreksi apabila ada yg keliru, atau tambahan kalo ada yg kurang.

Rabu, 19 Nov 2014
Di sela-sela QuranTime pagi
Asrama Indonesia Quran Foundation

Published by

YsGunawan

Interested in art, design, & all about Quran.

One thought on “Orang yang ‘Arif”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s