Nak, Apakah Semesta Ada Tanpa Pencipta?

 

Nak,

Bila engkau melihat jejak kucing di pekarangan rumahmu, bukankah itu berarti sempat ada kucing melewatinya–meskipun engkau tidak melihatnya?

Bila engkau melihat sebuah tulisan, bukankah artinya ada seseorang yang pernah menuliskannya–meskipun engkau tidak tahu siapa ia dan tidak melihatnya?

Maka, bagaimana dengan apa yang setiap hari engkau lihat; pepohonan, hewan, gunung, langit, matahari, bintang–apakah mereka semua ada begitu saja tanpa ada yang menciptakannya?

Mustahil alam semesta ini ada begitu saja, tanpa ada yang menciptakannya. Maka, tahukah kamu, siapa yang menciptakan alam semesta beserta apa yang ada di dalamnya?

Dialah Allah, Maha Pencipta, Maha Berkuasa, yang telah menciptakanmu, menciptakan ayah dan bundamu, menciptakan manusia dari saripati tanah dan tiupan Ruh-Nya.

Nak! Inilah Bekal Perjalananmu

Anakku, bukan aku yang memilihmu untuk menjadi anakku. Tetapi Allah-mu lah yang memilihmu untuk terlahir dari rahim ibumu. Dialah Allah yang telah menciptakanmu. Mulanya bertemu setetes air hina, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, dan seterusnya sampai kamu bisa menghirup udara dunia ini.

Maka ketahuilah, nak, Dia menciptakanmu agar kamu beribadah kepada-Nya. Tujuan hidupmu adalah untuk mendapat Ridha-Nya. Kamu bisa memasuki pintu keridhaan-Nya apabila kamu memiliki kuncinya. Dan pada kunci tersebut ada geriginya. Bukan sembarang kunci.

Tahukah kamu apa kunci pintu keridhaan-Nya tersebut? Ialah kalimat “Laa ilaaha illallaah”, tiada Sembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah.  Adapun gerigi kunci tersbut adalah:

Pertama, kamu harus menjadikan shalatmu, ibadahmu, hidupmu, dan matimu hanya untuk-Nya. Sekali lagi, hanya untuk-Nya, bukan untuk selain-Nya.  Kedua, semua itu kamu lakukan dengan cara yang benar, terhindar dari apa yang dilarang, serta sebisa mungkin dengan cara yang paling disukai-Nya, seperti yang sudah dicontohkan oleh utusan-Nya, Muhammad Shallu ‘alaih, lahir dan batinnya.

Kamu tidak akan tahu berapa lama kamu akan hidup di dunia ini. Sebagaimana aku juga tidak tahu sampai kapan aku akan membersamaimu di sini. Atau mungkin, saat kamu baca tulisan ini, aku sudah lebih dahulu menghadap Rabbmu. Yang jelas, hidup kita di dunia ini hanya sementara, hanya sekedipan mata bila dibandingkan dengan hari yang akan kita lalui setelah mati.

Maka dari itu, fa’lam annahuu laa ilaaha illallaah. Ilmuilah olehmu bahwa Dialah dan hanya Dialah yang berhak kamu sembah. Kebutuhanmu yang pertama-tama untuk memulai semuanya adalah mereguk ilmu.

Kamu sudah tahu misi hidupmu adalah untuk Ibadah. Maka Ilmuilah Siapa yang akan kamu ibadahi itu. Kenali nama dan sifat-Nya yang Mulia. Ketahui apa saja hak-Nya yang harus kamu tunaikan. Pelajari pesan-pesan-Nya yang tertulis dalam lembaran Quran dan tafakuri apa yang disampaikan semesta alam. Sehingga kamu bisa faham betul dari mana asalmu, untuk apa hidupmu, ke mana kamu akan pergi setelah mati, dan untuk siapa segala sesuatu dalam hidupmu akan kamu persembahkan.

Kemudian, Ilmuilah pula bagaimana cara menjalani hidup. Apa yang Ia perintahkan dan apa yang Ia larang. Apa yang Ia anjurkan dan apa yang sebaiknya kamu hindari. Yakni, dengan mengkaji dan meneladani apa yang dicontohkan oleh seorang utusan-Nya, kekasih-Nya, Muhammad Ibn Abdillah, semoga shalawat serta salam senantiasa menyertainya. Mulai dari bagaimana cara terbaik sejak kamu beranjak dari tempat tidurmu sampai kamu menutup hari. Mulai dari perkara membersihkan diri dari hal yang tidak suci sampai bagaimana cara menata negeri.

Adapun yang tidak kalah penting dari itu, hendaknya kamu ilmui pula bagaimana cara terbaik yang disukai-Nya dalam berinteraksi dengan-Nya, cara terbaik berinteraksi dengan dirimu sendiri, dengan waktu, dengan alam semesta, dengan kehidupan dunia, dengan kepastian hari akhirat, dengan ilmu itu sendiri, serta dengan sesama manusia. Lahir juga batinnya.

Secara keseluruhan, perlu kusampaikan padamu, bahwa ada tiga ilmu yang wajib terus kamu pelajari: Pertama, ilmu yang membuatmu mengenal-Nya. Kedua, ilmu tentang cara menjalani hidup agar kamu tidak terjatuh kepada apa yang tidak disukai dan  dilarang-Nya. Ketiga, ilmu tentang bagaimana etika terbaik dalam berinteraksi dengan-Nya serta bagaimana cara berinteraksi dengan selain-Nya yang disukai-Nya.

Sumber ilmu tersebut adalah Quran, petunjuk hidup yang juga merupakan perkataan-Nya, perkataan Dzat yang paling tahu apa yang kamu butuhkan dalam menjalani kehidupan, perkataan Dzat yang paling mengerti bagaimana agar kamu mendapat kebahagiaan. Juga pada hikmah yang diwariskan utusan-Nya, sebaik baik teladan. Namun kamu tidak bisa mereguk ilmu darinya tanpa bimbingan seorang Guru. Guru yang mengenal Allah, memiliki kepahaman yang dalam dan berkomitmen menjalankan hidup dalam bingkai peraturan-Nya, serta menjaga adab dan mulia akhlaqnya. Guru yang akan terus kamu bersamai dalam hidupmu.

Itulah tiga ilmu yang wajib kamu pelajari dan amalkan di sepanjang hayatmu, dalam bimbingan Guru. Ilmu yang lainnya hanyalah pelengkap dari ketiganya. Namun kamu pun perlu berhati-hati, di samping ada ilmu yang terpuji, ada pula ilmu yang tercela. Kelak kamu akan mengetahuinya.

Nak,

Jika kamu memegang teguh apa yang telah kusampaikan ini, Perjalananmu tidak akan kekurangan bekal, insya Allah. Engkau akan mendapat kebahagiaan, insya Allah.

Semoga Allah memberiku dan membrimu taufiq dan hidayah-Nya.

Allahua’lam…

Depok, 8 September 2016
Kamis Pagi 7.45 WIB
Menuju Bekasi untuk memeriksa tumbuh-kembangmu sore nanti

Orang-orang Terbelakang

Orang-orang terbelakang

Tak selalu mereka yang tak bersandal
Tak selalu mereka yang tak kenal teknologi

Orang-orang terbelakang

Saat adzan berkumandang
Kakinya tak pernah terdengar di jalan

Saat berjalan ke rumah Tuhan
Hatinya tertinggal di bilik khayalan

Saat masuk ke dalamnya
Berdiri ia di barisan belakang

Saat takbir diucapkannya
Ke-Akbar-an Tuhan tertutupi besarnya angan

Saat salam menutup shalatnya
Puas hatinya, ia mengira Tuhan cukup terlayani dengan gerak kosong tubuhnya.

Kasihan jiwanya
Terperanngkap dalam jasad
Yang terambil alih hawa nafsunya

========================

Catatan untuk perbaikan diri
Depok, 15/8/16
18.56 WIB

Tebak-tebakan Soal Ketakutan Manusia

Seseorang cenderung akan menghindari apa yang ditakutinya. Mungkin memang sudah begitu rumusnya. Misal, saya takut ular. Otomatis saya akan menghindari tempat yang terindikasi sebagai sarang ular. Atau misalnya saya belum mengumpulkan tugas kuliah. Maka bertemu dengan Pak Dosennya adalah hal yang menakutkan😀, berpapasan dengannya tentu sebisa mungkin saya hindari, dan begitu seterusnya.

Ngomong-ngomong soal rasa takut, saya sempat penasaran, hal apakah yang ditakuti oleh hampir setiap manusia–terlepas dari apapun suku, agama, dan rasnya? Pertanyaan itu sempat membuat saya termenung dan menebak-nebak.

Jawabannya bisa saja mengarah kepada takut tidak punya harta, takut dipandang rendah orang lain, takut terkena penyakit ini itu, atau secara umumnya dikatakan takut hidup tanpa ‘kebahagiaan’. Tapi, menurut penerawangan sok tahu saya, ada hal yang lebih ditakuti oleh manusia dari hal tersebut. Yaitu kematian.

Tapi… Sepertinya sih bukan kematian itu sendiri yang ditakuti. Melainkan ketidak tahuan manusia atas apa yang akan terjadi setelah kematian. Hal ini berlaku pula bagi orang yang percaya reinkarnasi, kayaknya.

Kalau begitu, bolehlah saya mengerucutkan tebakan saya. Bahwa hal yang hampir setiap orang takutkan–terlepas apapaun suku, agama, ras mereka–adalah MASA DEPAN dalam segala bentuk dimensinya, beserta misteri yang ada di dalamnya. Disadari atau tidak. Sepertinya yaaa, sepertinya. Ini cuma tebak-tebakan saya.

***

Duhai… Saya jadi teringat sebuah pesan yang sangat bersejarah. Pesan itu ditujukan kepada Adam, manusia pertama. Pesan sayang dari Ia yang tahu betul apa yang akan dihadapi Adam dalam kehidupannya di muka bumi. “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada khauf (kekhawatiran/ketakutan) atas mereka, dan tidak pula mereka yahzanun (bersedih hati).” (al-Baqarah 38)
Kata Ust. Asep Sobari, Lc., khauf di situ biasanya berkaitan dengan apa yang ada di masa depan. Sementara hazan pada yahzanun itu biasanya terkait dengan kondisi saat ini dan terkait masa lalu. Dari sudut ini, pesan itu terbaca lebih dalem.  Kalau mau terlepas dari dua benca ketakutan dan kesedihan, tinggal ikuti petunjuk-Nya. Yang telah terhimpun dalam kitab-Nya, sunnah-Nya, yang disampaikan turun temurun semula dari para sahabat, tabi’in, dan seterusnya sampai kepada guru-guru kita. Ya, harus punya Guru kehidupan. Dan… pikiran saya jadi ngalir ke mana-mana deh.Sudah, itu dulu.Selamat berbuka puasa…
20Juni

Meledak!

Ada kalanya semua hal menumpuk di benakmu. Meluber bahkan ke dalam mimpi dalam tidur dan terjagamu. Supaya tekanan tidak bertambah tinggi kemudian disusul ledakan, maka kapasitas penampungnya perlu diperbesar.

Buka hati dan pikiranmu dalam sujud dan doa. Rendahkan jiwa ragamu ke titik terbawahnya. Semoga kelemahanmu bertemu kekuatan-Nya, kegelapan dalam penglihatanmu bertemu cahaya-Nya, kegundahanmu bertemu arah dan petunjuk dari-Nya.

Dan, tahukah kamu, bagaimana cara menikmatinya?

Melihatlah dengan mata hatimu, dengarkan apa yang disuarakan nuranimu, dan marilah kita menjadi ‘wayang-wayang’ yang digerakan oleh apa yang menjadi ridha-Nya. Lanjutkan kerja lagi, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, kerja ikhlas, tanpa batas.

Lelah? Semua orang juga merasakannya. Seperti kata sebuah majalah, itu hanya siklus, lalui saja! Karena dunia ini tempat mengembara, berteduh seperlunya saja, tempat istirahat kita di ujung sana, insya Allah, surga yang abadi selamanya.

Di Balik ‘Sebelum Cahaya’-nya Letto

Dua hari lalu saya memposting lirik salah satu lagunya Letto, Sebelum Cahaya. Kenapa tiba-tiba ngepost tulisan itu? Karena ini nih, tetangga abang tukang bangunan sambil angkut adukan semen, ngecat, dll, mereka nyetel lagu-lagu shalawatan, kadang dangdut, dan kemaren tumben memainkan lagu-lagunya Letto. Pas di lagu ‘Sebelum Cahaya’ , saya jadi inget guru bahasa Indonesia sewaktu SMA. Beliau nge-fans banget sama Letto karena lirik-liriknya bagus.

Oke kita masuk ke bahasan. Sebetulnya ada apa sih di balik syair ‘Sebelum Cahaya’?

Saya pernah membaca transkrip wawancara salah satu majalah musik dengan Noe Letto. Pewawancara sempat bertanya ke Noe, apa tanggapan ia terhadap penafsiran orang-orang terhadap lagu-lagunya, apakah pesan dari lagunya itu sebetulnya religius–meskipun tidak membawa nama agama atau menyebut kata Tuhan, dst. Jawaban Noe ternyata diluar dugaan saya. Saya kira ia akan menjelaskan maksud syair yang ini begini, kata ‘Mu’ pada syair itu ditujukan kepada itu, dst. Tapi ternyata tidak. Ia malah mempersilakan kepada siapapun untuk menafsirkan sendiri maknanya. Justru di situlah letak seninya dan maknanya bisa terus relevan sampai kapanpun. Kalau gak salah sih begitu jawabannya.

Yasudah, akhirnya saya coba baca beberapa syairnya. Dan…. Beuh… ternyata memang keren-keren–setidaknya bagi saya. Ada makna filosofis pada setiap baitnya. Sebut saja misal pada lagu berjudul ‘Sandaran Hati’, di bagian reff nya liriknya sufistik banget, IMO, coba cek deh:

“Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkah aku
Mendengarmu

Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku
Merindukanmu

Terpuruk ku di sini
Terangi dia yang sepi
Dan ku tahu pasti
Kau menemani

Dalam hidupku
Kesendirianku

Teringat ku teringat
Pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Kulakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati
Sandaran hati

Inikah yang kau mau
Benarkah ini jalanmu
Hanyalah engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku
Bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah
Tanpa hadirmu
Dalam gelapnya
Malam hariku”

Coba kata ganti ‘mu’ pada syair di atas diganti pakai “-Mu”. Artinya dalem banget kan?

Begitu juga pada lagu sebelum cahaya. Yuk, kita terawang lagi liriknya:

Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi
cinta

Perjalanan sunyi
Engkau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati
cinta


Ingatkan engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemanimu
sebelum cahaya

Ingatkan engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu
cinta


Kekuatan hati
yang berpegang janji
Genggamlah tanganku
cinta

Ku tak akan pergi
meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu cinta


Ingatkan engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemanimu
sebelum cahaya

Ingatkan engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu
cinta

Gimana? Menurut saya ini lebih dalam lagi maknanya. Syairnya boleh jadi ditujukan oleh seseorang ke orang lain. Tapi sepertinya itu terlalu biasa aja.

Tidak tahu kenapa, saya kok lebih sepakat kalau diaktakan bahwa saat sedang menulis syair ini, si penulis sedang ada dalam ekstase dan ia seolah-olah mendengar ‘bisikan’ Tuhannya, lalu bisikan itu ia tuangkan dalam bentuk syair ‘Sebelum Cahaya’ di atas. Seolah kata-kata dalam syair Sebelum Cahaya tersebut merupakan pesan kasih dari Tuhan kepada hamba-Nya.

Dan, bisa juga diambil dari sudut pandang lain. Misalnya, sekarang saya lagi pengen menjadikan syair itu sebagai pesan dari saya untuk ‘rumah’ yang telah menumbuhkan saya sampai seperti sekarang ini. ‘Rumah’ yang saya mendapatkan banyak hal di sana. ‘Rumah’ yang saya berharap semoga bisa membesarkannya dan menjadikannya bernilai di hadapan-Nya.

Ya, syair sebelum cahaya itu, saya persembahkan untuk ‘rumah’ itu. :’)

Sekian lintas pikiran random di siang bolong ini.