Orang-orang Terbelakang

Orang-orang terbelakang

Tak selalu mereka yang tak bersandal
Tak selalu mereka yang tak kenal teknologi

Orang-orang terbelakang

Saat adzan berkumandang
Kakinya tak pernah terdengar di jalan

Saat berjalan ke rumah Tuhan
Hatinya tertinggal di bilik khayalan

Saat masuk ke dalamnya
Berdiri ia di barisan belakang

Saat takbir diucapkannya
Ke-Akbar-an Tuhan tertutupi besarnya angan

Saat salam menutup shalatnya
Puas hatinya, ia mengira Tuhan cukup terlayani dengan gerak kosong tubuhnya.

Kasihan jiwanya
Terperanngkap dalam jasad
Yang terambil alih hawa nafsunya

========================

Catatan untuk perbaikan diri
Depok, 15/8/16
18.56 WIB

Tebak-tebakan Soal Ketakutan Manusia

Seseorang cenderung akan menghindari apa yang ditakutinya. Mungkin memang sudah begitu rumusnya. Misal, saya takut ular. Otomatis saya akan menghindari tempat yang terindikasi sebagai sarang ular. Atau misalnya saya belum mengumpulkan tugas kuliah. Maka bertemu dengan Pak Dosennya adalah hal yang menakutkan😀, berpapasan dengannya tentu sebisa mungkin saya hindari, dan begitu seterusnya.

Ngomong-ngomong soal rasa takut, saya sempat penasaran, hal apakah yang ditakuti oleh hampir setiap manusia–terlepas dari apapun suku, agama, dan rasnya? Pertanyaan itu sempat membuat saya termenung dan menebak-nebak.

Jawabannya bisa saja mengarah kepada takut tidak punya harta, takut dipandang rendah orang lain, takut terkena penyakit ini itu, atau secara umumnya dikatakan takut hidup tanpa ‘kebahagiaan’. Tapi, menurut penerawangan sok tahu saya, ada hal yang lebih ditakuti oleh manusia dari hal tersebut. Yaitu kematian.

Tapi… Sepertinya sih bukan kematian itu sendiri yang ditakuti. Melainkan ketidak tahuan manusia atas apa yang akan terjadi setelah kematian. Hal ini berlaku pula bagi orang yang percaya reinkarnasi, kayaknya.

Kalau begitu, bolehlah saya mengerucutkan tebakan saya. Bahwa hal yang hampir setiap orang takutkan–terlepas apapaun suku, agama, ras mereka–adalah MASA DEPAN dalam segala bentuk dimensinya, beserta misteri yang ada di dalamnya. Disadari atau tidak. Sepertinya yaaa, sepertinya. Ini cuma tebak-tebakan saya.

***

Duhai… Saya jadi teringat sebuah pesan yang sangat bersejarah. Pesan itu ditujukan kepada Adam, manusia pertama. Pesan sayang dari Ia yang tahu betul apa yang akan dihadapi Adam dalam kehidupannya di muka bumi. “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada khauf (kekhawatiran/ketakutan) atas mereka, dan tidak pula mereka yahzanun (bersedih hati).” (al-Baqarah 38)
Kata Ust. Asep Sobari, Lc., khauf di situ biasanya berkaitan dengan apa yang ada di masa depan. Sementara hazan pada yahzanun itu biasanya terkait dengan kondisi saat ini dan terkait masa lalu. Dari sudut ini, pesan itu terbaca lebih dalem.  Kalau mau terlepas dari dua benca ketakutan dan kesedihan, tinggal ikuti petunjuk-Nya. Yang telah terhimpun dalam kitab-Nya, sunnah-Nya, yang disampaikan turun temurun semula dari para sahabat, tabi’in, dan seterusnya sampai kepada guru-guru kita. Ya, harus punya Guru kehidupan. Dan… pikiran saya jadi ngalir ke mana-mana deh.Sudah, itu dulu.Selamat berbuka puasa…
20Juni

Meledak!

Ada kalanya semua hal menumpuk di benakmu. Meluber bahkan ke dalam mimpi dalam tidur dan terjagamu. Supaya tekanan tidak bertambah tinggi kemudian disusul ledakan, maka kapasitas penampungnya perlu diperbesar.

Buka hati dan pikiranmu dalam sujud dan doa. Rendahkan jiwa ragamu ke titik terbawahnya. Semoga kelemahanmu bertemu kekuatan-Nya, kegelapan dalam penglihatanmu bertemu cahaya-Nya, kegundahanmu bertemu arah dan petunjuk dari-Nya.

Dan, tahukah kamu, bagaimana cara menikmatinya?

Melihatlah dengan mata hatimu, dengarkan apa yang disuarakan nuranimu, dan marilah kita menjadi ‘wayang-wayang’ yang digerakan oleh apa yang menjadi ridha-Nya. Lanjutkan kerja lagi, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, kerja ikhlas, tanpa batas.

Lelah? Semua orang juga merasakannya. Seperti kata sebuah majalah, itu hanya siklus, lalui saja! Karena dunia ini tempat mengembara, berteduh seperlunya saja, tempat istirahat kita di ujung sana, insya Allah, surga yang abadi selamanya.

Di Balik ‘Sebelum Cahaya’-nya Letto

Dua hari lalu saya memposting lirik salah satu lagunya Letto, Sebelum Cahaya. Kenapa tiba-tiba ngepost tulisan itu? Karena ini nih, tetangga abang tukang bangunan sambil angkut adukan semen, ngecat, dll, mereka nyetel lagu-lagu shalawatan, kadang dangdut, dan kemaren tumben memainkan lagu-lagunya Letto. Pas di lagu ‘Sebelum Cahaya’ , saya jadi inget guru bahasa Indonesia sewaktu SMA. Beliau nge-fans banget sama Letto karena lirik-liriknya bagus.

Oke kita masuk ke bahasan. Sebetulnya ada apa sih di balik syair ‘Sebelum Cahaya’?

Saya pernah membaca transkrip wawancara salah satu majalah musik dengan Noe Letto. Pewawancara sempat bertanya ke Noe, apa tanggapan ia terhadap penafsiran orang-orang terhadap lagu-lagunya, apakah pesan dari lagunya itu sebetulnya religius–meskipun tidak membawa nama agama atau menyebut kata Tuhan, dst. Jawaban Noe ternyata diluar dugaan saya. Saya kira ia akan menjelaskan maksud syair yang ini begini, kata ‘Mu’ pada syair itu ditujukan kepada itu, dst. Tapi ternyata tidak. Ia malah mempersilakan kepada siapapun untuk menafsirkan sendiri maknanya. Justru di situlah letak seninya dan maknanya bisa terus relevan sampai kapanpun. Kalau gak salah sih begitu jawabannya.

Yasudah, akhirnya saya coba baca beberapa syairnya. Dan…. Beuh… ternyata memang keren-keren–setidaknya bagi saya. Ada makna filosofis pada setiap baitnya. Sebut saja misal pada lagu berjudul ‘Sandaran Hati’, di bagian reff nya liriknya sufistik banget, IMO, coba cek deh:

“Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkah aku
Mendengarmu

Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku
Merindukanmu

Terpuruk ku di sini
Terangi dia yang sepi
Dan ku tahu pasti
Kau menemani

Dalam hidupku
Kesendirianku

Teringat ku teringat
Pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Kulakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati
Sandaran hati

Inikah yang kau mau
Benarkah ini jalanmu
Hanyalah engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku
Bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah
Tanpa hadirmu
Dalam gelapnya
Malam hariku”

Coba kata ganti ‘mu’ pada syair di atas diganti pakai “-Mu”. Artinya dalem banget kan?

Begitu juga pada lagu sebelum cahaya. Yuk, kita terawang lagi liriknya:

Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi
cinta

Perjalanan sunyi
Engkau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati
cinta


Ingatkan engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemanimu
sebelum cahaya

Ingatkan engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu
cinta


Kekuatan hati
yang berpegang janji
Genggamlah tanganku
cinta

Ku tak akan pergi
meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu cinta


Ingatkan engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemanimu
sebelum cahaya

Ingatkan engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu
cinta

Gimana? Menurut saya ini lebih dalam lagi maknanya. Syairnya boleh jadi ditujukan oleh seseorang ke orang lain. Tapi sepertinya itu terlalu biasa aja.

Tidak tahu kenapa, saya kok lebih sepakat kalau diaktakan bahwa saat sedang menulis syair ini, si penulis sedang ada dalam ekstase dan ia seolah-olah mendengar ‘bisikan’ Tuhannya, lalu bisikan itu ia tuangkan dalam bentuk syair ‘Sebelum Cahaya’ di atas. Seolah kata-kata dalam syair Sebelum Cahaya tersebut merupakan pesan kasih dari Tuhan kepada hamba-Nya.

Dan, bisa juga diambil dari sudut pandang lain. Misalnya, sekarang saya lagi pengen menjadikan syair itu sebagai pesan dari saya untuk ‘rumah’ yang telah menumbuhkan saya sampai seperti sekarang ini. ‘Rumah’ yang saya mendapatkan banyak hal di sana. ‘Rumah’ yang saya berharap semoga bisa membesarkannya dan menjadikannya bernilai di hadapan-Nya.

Ya, syair sebelum cahaya itu, saya persembahkan untuk ‘rumah’ itu. :’)

Sekian lintas pikiran random di siang bolong ini.

Sebelum Cahaya

Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi,
cinta…

Perjalanan sunyi
Yang kau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati,
cinta…

Ingatkah engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemani mu
Sebelum cahaya

Ingatkah engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang ‘kan membelai mu,
cinta…

Kekuatan hati
Yang berpegang janji
Genggamlah tangan ku,
cinta…

Ku tak akan pergi
Meninggalkan mu sendiri
Temani hati mu, cinta

Oleh: Noe Letto

==============================

Selalu suka baitan syairnya Noe Letto. Pesannya mendalam. Terlebih setelah sedikit tahu bocoran ada apa di balik nama asli Noe Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh, dan tentang kisah gerak langkah ayahnya Cak Nun bersama Maiyahan-nya.

Pengakuan (14/30)

Di sebuah negeri dongeng, seorang budak diberi hadiah pakaian oleh tuannya yang penuh kasih sayang. Tetapi, apa yang kemudian ia katakan, rasanya, sangatlah kurang pantas. Kepada tuannya ia malah berkata,

“Wahai tuan, aku sudah menerima pemberianmu ini, maka di manakah balasanmu atas upayaku untuk menerima dan memakai pakaian pemberianmu?”

Di dunia nyata, seorang hamba diberikan kenikmatan berupa bisa melakukan kebaikan dan menyeru kepadanya oleh Tuhannya Yang Maha Pemurah. Tetapi, apa yang kemudian ia katakan, kita perlu menakarnya, pantaskah bila kepada Tuhannya ia malah berkata,

“Ya Tuhan, aku sudah menerima kenikmatan dari-Mu berupa kekuatan dan kesempatan untuk bisa beramal baik, maka di manakah balasan-Mu atas upayaku dalam melakukan kebaikan sebagaimana perintah-Mu itu?

Seolah-olah dengan kebaikan yang ia lakukan itu ia telah berjasa kepada Tuhannya. Seolah-olah ia pemilik saham atas kebaikan yang ia lakukan. Padahal, dengan kekuatan dari manakah ia bisa melakukannya? Siapa yang memberinya kesehatan sehingga bisa melakukan berbagai macam kebaikan? Siapa yang telah menyelamatkannya dari beragam kemungkinan musibah dan kecelakaan? Siapa yang telah menyediakan oksigen melimpah yang dengan menghirupnya ia bisa terus hidup dan berbuat kebaikan? Siapa?

***

Duhai Allah, bagaimana hamba menuntut balas atas kebaikan yang bisa hamba lakukan, sementara Engkaulah pemegang saham atasnya? Atas izin dan pertolongan-Mu lah hamba bisa melakukannya. Bagaimana kami menuntut balas, Ya Allah, sementara kami mendapati banyak cacat di dalamnya?

Akan tetapi, bagaimana pula hamba tidak memohon kepada-Mu agar Engkau berkenan menerima amal hamba, sementara Engkau memerintahkan? Hamba hanya meminta sebagaimana kekasih-Mu Ibrahim ‘alaihissalam meminta seba’da membangun ka’bah bersama anaknya:

“Rabbanaa taqabbal minnaa, innaka anta as-Samii’un ‘Aliim…” (QS. al-Baqarah: 127)

“Duhai Rabb kami, terimalah dari kami (amal kami), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Duhai Allah, apabila Engkau mengampuni hamba dan menerima amal hamba, maka sungguh Engkau Maha Berkehendak atasnya. Akan tetapi, apabila tidak, kepada siapa lagi hamba harus meminta?

Keputusan Besar: Berapapun Harga yang Harus Dibayar (13/30)

keputusan

Tiba-tiba saya teringat beberapa episode hidup setahun setengah ke belakang. Amanah studi dari orang tua, meski dengan tertatih-tatih, akhirnya tertunaikan. Dua ribu lima belas pun menjadi titik henti sekaligus peralihan bagi saya. Keputusan besar ataupun kecil saat itu benar-benar menentukan ke arah mana kaki saya akan melangkah ke depannya. Banyak sekali tarikan internal maupun eksternal yang sempat membuat gamang. Tarikan dari aku-hamba, aku-anak, aku-impian, aku-sosial, aku-nafsu, aku-ayah/suami, dan sterusnya. Tapi waktu terus berlalu dan saya harus mengambil keputusan.

Saya pun berhadapan dengan pilihan-pilihan itu. Katakan saja Continue reading Keputusan Besar: Berapapun Harga yang Harus Dibayar (13/30)