Seruan Kami (Part 2)

SEMUA KEUTAMAAN HANYALAH MILIK ALLAH

Andaikan yang kami lakukan ini adalah sebuah keutamaan, maka kami sama sekali tidak menganggap itu keutamaan diri kami. Kami hanya percaya pada firman Allah swt.,

“Sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 17)

Kami sering mengangankan –andaikan angan-angan itu bermanfaat– bahwa suatu saat tersingkaplah isi hati kami dihadapan penglihatan dan pendengaran umat ini. Kami hanya ingin mereka menyaksikan sendiri: adakah sesuatu dalam hati ini selain kecintaan yang tulus, rasa kasih yang dalam, serta kesungguhan kerja guna mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi mereka? Adakah sesuatu dalam hati ini selain lara dan perih atas musibah yang menimpa mereka?

Namun biarlah, cukup bagi kami keyakinan bahwa Allah swt. mengetahui itu semua. Hanya Dia-lah yang menanggung kami dengan bimbingan-Nya dalam langkah-langkah kami. Di tangan-Nya-lah berada semua kunci dan kendali hati manusia. Siapa yang ia sesatkan maka tak akan ada yang dapat menunjukinya, dan siapa yang ia tunjuki maka tak akan ada yang dapat menyesatkannya. Cukuplah Dia bagi kami. Dia-lah sebaik-baik tempat bergantung. Bukankah hanya Allah yang mencukupi kekurangan hamba-Nya?

–MRHA

Seruan Kami (Part 1)

KETERUSTERANGAN
Kami ingin berterus terang kepada semua orang tentang tujuan kami, memaparkan dihadapan mereka metode kami, dan membimbing mereka menuju dakwah kami. Di sini tidak ada yang samara dan remang-remang. Semuanya terang. Bahkan lebih terang dari dari sinar mentari, lebih carah dari cahaya fajar, dan lebih benderang dari putihnya siang.
KESUCIAN
Kami juga ingin agar umat kami –dan kaum muslimin semua adalah umat kami–mengetahui bahwa Ikhwanul Muslimin membawa misi dakwah yang bersih dan suci; bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia, dan bersih dari hawa nafsu. Ia terus berlalu menapaki jalan panjang kebenaran yang telah digariskan Allah swt. Dalam firman-Nya,

“Katakanlah, ‘inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata.’ Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf : 108).
Kami tidak mengaharapkan sesuatu pun dari manusia; tidak mengharap harta benda atau imbalan yang lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih. Yang kami harap hanyalah pahala dari Allah, Dzat yang telah menciptakan kami.
KASIH SAYANG
Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai dari pada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehoramatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, mengusai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan. Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian.
— MRHA

Pangkal Solusi

Memperbaiki hubungan dengan Allah adalah pangkal dari segala bentuk solusi. Sebelum mencari solusi begini dan begitu, perbaiki dulu hubungan sama Allah, Gun!

“Dan siapa yang bertaqwa kepada Allah, baginya jalan keluar!”

Tentang Kebahagiaan dan Kesendirian

IMG_6190

Sebetulnya tidak ada yang spesial dari gubuk kecil ini. Bangun luar dan dalamnya sederhana. Lebih dari cukup untuk sekadar tempat berteduh, merebahkan badan, memainkan irama keletak keyboard, berbagi ceri(t)a, menyembunyikan (r)asa, atau kadang menjadi tempat yang bernuansa haru harap cemas seperti sudut-sudut rumah sakit dan bandara. Akan tetapi, sepertinya penilaianku tersebut salah. Dan ini baru aku sadari sesampainya aku di sini siang tadi –setelah ditinggal selama dua pekan untuk berakhir Ramadhan dan lebaran.

“Assalamu’alaikum…”, kuucapkan salam saat memasukinya, sebagaimana biasa kami lakukan setiap harinya. Sekilas ada rasa lega. Seketika semangat terpompa. Seperti mendapat suntikan nyawa. Karena akhirnya aku bisa kembali menyapa pekerjaan-pekerjaanku yang mulai memanggilku dari arah komputer yang terletak di sudut kiri ruang depannya. Akan tetapi, suasananya berubah saat aku memasuki ruang kamarnya, kutaruh tas di sudut kanannya, kutengok ruang dapur kecil serta kamar mandinya, dan kudapati tidak ada siapa-siapa. Mereka tidak ada. Dan sebetulnya aku memang sudah tau bahwa mereka tidak ada. Zain masih di kampungnya. Sementara Azhar, Fakhril, Ibnu, Udin, mereka memang sudah tidak lagi menjadi teman seper-atap-an. Tapi, entah mengapa rasanya tiba-tiba kurang nyaman. Sesak. Ada yang kurang.

***

Seketika terputar dalam memoriku saat-saat kami masih lengkap bersama sekitar 2 tahun lalu. Pagi itu aku pergi bersama Azhar melalui margonda kemudian berbelok ke arah jalan Juanda. Aku tidak tahu persis saat itu kami hendak pergi ke mana. Tetapi aku ingat betul apa yang kami perbincangkan di perjalanannya.

“Broh, menurut ente, hal apa yang paling cepat bisa merenggut kebahagiaan seseorang?” Tanyaku dari jok belakang motor Azhar.

“hmm…” Lima sampai tujuh detik Azhar terdiam. Kukira pertanyaanku terpental helm hitamnya. Ternyata tidak.

“Apa, Bang?” Pertanyaanku menukik balik ke belakang. Padahal saat itu sebetulnya aku sedang mengumpulkan jawaban dari berbagai sudut pandang.

“Kesendirian” sesaat kujawab singkat.

***

Seperti itulah hasil permenunganku. Dan hari ini Allah mengizinkanku merasakan secuil dari apa yang pernah kurenungkan dua tahun lalu itu. Kesendirian. Sendiri di gubuk kecil ini. Tanpa mereka-mereka yang sejak 2011 lalu membersamai hariku, suka dukaku, lapang sempitku, semangat dan payahku. Seperti ada yang hilang. Aneh.

Akupun tersadarkan, sepertinya aku memang tidak terbiasa tinggal di suatu tempat sendirian. Sejak semester 1 sampai semester 4, aku tinggal sekosan dengan teman sejak SMA-ku. Aldy namanya. Setelah itu tinggal nomaden pindah-pindah kontrakan-Asrama Quran bersama mereka-mereka itu. Maka, hentakan kesendirian di hari ini, dan beberapa hari ke depan, sepertinya lumayan akan berpengaruh terhadap ‘selera makan’-ku :D. Mungkin ini terkesan lebay bagimu. Tapi memang begitu adanya :). Aku pun tak menyangka bisa semembekas ini.

Gubuk ini, juga beberapa tempat lain yang pernah kami tempati, ternyata punya nilai tersendiri di hati kami. Salah satu nilai yang kudapatkan darinya adalah pelajaran hidup tentang kebahagiaan dan kesendirian seperti yang telah kusampaikan:

Bahwa, boleh jadi seseorang bisa bertahan hidup dalam kekurangan harta. Akan tetapi, ia belum tentu bisa bertahan saat kesendirian melandanya. Boleh jadi pula seseorang hidup bahagia dalam keserba-cukupan. Akan tetapi, masih tersisakah kebahagiaan yang hanya dirasakan sendirian?

***

Aku jadi teringat dengan kisah Ka’ab ibn Malik, dan dua orang temannya (radhiyallahu ‘anhum), yang atas kelalaian mereka tidak turut berperang, Rasulullah melarang siapapun untuk berbicara dengan mereka sebagai bentuk hukuman dan penangguhan penerimaan taubat mereka. Tak seorangpun berkenan berbicara dengan mereka. Pertanyaan mereka diabaikan. Salam dan tegur sapa mereka tak diacuhkan. Termasuk oleh Rasulullah. Termasuk oleh keluarganya. Bahkan juga istrinya. Dan kesendirian itu ia rasakan sampai akhirnya diterima taubat mereka selama 50 hari lamanya. Quran pun mengabadikan sempitnya kesendirian itu delam salah satu ayat-Nya:

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja …” QS. At-Taubah: 118

Adakah yang lebih bisa menggambarkan sesaknya kesendirian melebihi gambaran “… hingga, apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka …” dalam Firaman-Nya ini?

***

Begitulah. Dari gubuk kecil dan mereka yang membersamaiku di dalamnya, hari ini aku kembali belajar tentang bahagia dan kesendirian. Bahwa kita membutuhkan orang lain untuk bisa bahagia, dan tidak ada yang lebih cepat mencabut kebahagiaan melebihi kesendirian.

Terima kasih kepada mereka yang telah hadir menggenapiku dalam kebahagiaan. Pertama, tentu saja keluargaku di rumah. Kemudian Aldy, teman sejak SMA kelas XI, XII, kemudian menjadi teman seper-atap-an sejak semester I-IV kuliah, juga teman ngobrol soal apapun hingga saat ini. Azzis, teman pertamaku di Fisika UI. Luqman, yang ‘menyesatkanku’ ke jalan kebaikan. Teman-teman LD MII, OASIS, Syi’ra, SALAM UI i5, dan terutama teman-teman seperjuanganku di Indonesia Quran Foundation. Terima kasih telah menyelamatkanku dari bencana kesendirian.

:’)

Depok, 23 Juli 2015
02:45 WIB

Persejiwaan

a65c3dd22dff5b46dcde8f56b3f594ce

Rindu ada bukan karena jarak menjeda
Tapi karena jiwa-jiwa telah bersenyawa
Seperti langit Bandung Selatan malam itu
Redupnya pesan perpisahan dengan malam kemuliaan
Tetapi cerah paginya guratkan kebahagiaan
Baginya, kepergian sang kekasih
hanyalah ilusi detik, menit, dan jam
Karena untuk jiwa yang padu,
ruang dan waktu tak lagi menjadi sekat yang memisahkan

Ramadhan tidaklah pergi,
(Semangatnya) hanya sedang bersembunyi,
di bilik terdalam hati kita…

: )

Manusia Riweuh

Manusia Riweuh. Mungkin begitulah teman-teman menangkapnya. Maaf kalau saya pernah membuat teman-teman semua turut riweuh alias ribet. Apa yang tampak riweuh bagi teman-teman, kadang bagi saya tak lebih dari sebuah kompleksitas yang bisa disederhanakannya. Kayak batik gitu lah. Tapi yaa, gimana ya, kadang saya juga pengen gak se-riweuh ini. Saya juga gak tahu kenapa. Sudah adanya begini. Saya merasa begini sejak SMA dulu. Tapi saya tetap mau berusaha supaya gak zhalim sama teman-teman sekalian dengan karakter saya yang begini. Salah satunya adalah dengan mempelajari saya ini jenis manusia kayak gimana sih.

Setelah ikutan beberapa kali tes psikologi (MBTI), inilah hasilnya. Katanya sih saya manusia INTJ (introvertion – Intuition – Thinking – Judging). Beberapa kali ikutan tesnya di beberapa website berbeda, hasilnya tetep sama. Pernah deng hasilnya INFJ, tapi cuma sekali saja.Yang jelas, saat baca gimana karakteristik-karakteristiknya, saya bisa bilang “Naaaaaaaah, iyaaaa ini gue bangeeet!”. Berasa menemukan diri sendiri. Entah itu sisi positif juga negatifnya.

*disclaimer: Saya termasuk orang yang percaya bahwa kepribadian seseorang itu seperti wadah yang bisa berkembang atau berubah bentuk. Bergantung apa yang mengisinya. Sebaik-baik pengisinya adalah nilai-nilai Islam, sesuai Quran dan sunnah. Saya, bagaimanapun, harus tunduk sama apa yang udah tercontohkan dalam akhlaq Rasul. Gak bisa tuh, mentang-mengag saya orangnya begini, terus saya minta pengertian yang lain bahwa saya itu memang begini dan begitu. Gak bisa gitu. Kalau ada yang gak baik, dan itu berpotensi menzhalimi orang lain, saya akan ubah itu sebisa mungkin. So, tes ini cuma alat yang saya pake buat lebih ngenal karakter diri.*

INTJ katanyaINTJJJJJ

INTJ1

INTJ2

INTJ3

INTJ4

INTJ5

INTJ6

INTJ7

INTJ8

INTJ9

INTJ10

INTJ11

INTJ12

INTJ13

INTJ14

INTJ15

INTJ16

INTJ17

INTJ18

INTJ19

INTJ20

INTJ21

INTJ22

INTJ23

INTJ24

INTJ25

INTJ26

INTJ27

INTJ28

INTJ29

INTJ30

INTJ31

INTj32

INTJ33

INTj34

INTJ35

INTJ36

INTJ37

INTJ38

INTJ39

INTJ40

dari website 16personalities:

INTJ Personality (“The Architect”)

It’s lonely at the top, and being one of the rarest and most strategically capable personality types, INTJs know this all too well. INTJs form just two percent of the population, and women of this personality type are especially rare, forming just 0.8% of the population – it is often a challenge for them to find like-minded individuals who are able to keep up with their relentless intellectualism and chess-like maneuvering. People with the INTJ personality type are imaginative yet decisive, ambitious yet private, amazingly curious, but they do not squander their energy.

Nothing Can Stop the Right Attitude From Achieving Its Goal

INTJ personality

With a natural thirst for knowledge that shows itself early in life, INTJs are often given the title of “bookworm” as children. While this may be intended as an insult by their peers, they more than likely identify with it and are even proud of it, greatly enjoying their broad and deep body of knowledge. INTJs enjoy sharing what they know as well, confident in their mastery of their chosen subjects, but owing to their Intuitive (N) and Judging (J) traits, they prefer to design and execute a brilliant plan within their field rather than share opinions on “uninteresting” distractions like gossip.

“You are not entitled to your opinion. You are entitled to your informed opinion. No one is entitled to be ignorant.”

Harlan Ellison

A paradox to most observers, INTJs are able to live by glaring contradictions that nonetheless make perfect sense – at least from a purely rational perspective. For example, INTJs are simultaneously the most starry-eyed idealists and the bitterest of cynics, a seemingly impossible conflict. But this is because INTJ types tend to believe that with effort, intelligence and consideration, nothing is impossible, while at the same time they believe that people are too lazy, short-sighted or self-serving to actually achieve those fantastic results. Yet that cynical view of reality is unlikely to stop an interested INTJ from achieving a result they believe to be relevant.

In Matters Of Principle, Stand Like a Rock

INTJs radiate self-confidence and an aura of mystery, and their insightful observations, original ideas and formidable logic enable them to push change through with sheer willpower and force of personality. At times it will seem that INTJs are bent on deconstructing and rebuilding every idea and system they come into contact with, employing a sense of perfectionism and even morality to this work. Anyone who doesn’t have the talent to keep up with INTJs’ processes, or worse yet, doesn’t see the point of them, is likely to immediately and permanently lose their respect.

Rules, limitations and traditions are anathema to the INTJ personality type – everything should be open to questioning and reevaluation, and if they see a way, INTJs will often act unilaterally to enact their technically superior, sometimes insensitive, and almost always unorthodox methods and ideas.

This isn’t to be misunderstood as impulsiveness – INTJs will strive to remain rational no matter how attractive the end goal may be, and every idea, whether generated internally or soaked in from the outside world, must pass the ruthless and ever-present “Is this going to work?” filter. This mechanism is applied at all times, to all things and all people, and this is often where INTJ personality types run into trouble.

One Reflects More When Traveling Alone

INTJs are brilliant and confident in bodies of knowledge they have taken the time to understand, but unfortunately the social contract is unlikely to be one of those subjects. White lies and small talk are hard enough as it is for a type that craves truth and depth, but INTJs may go so far as to see many social conventions as downright stupid. Ironically, it is often best for them to remain where they are comfortable – out of the spotlight – where the natural confidence prevalent in INTJs as they work with the familiar can serve as its own beacon, attracting people, romantically or otherwise, of similar temperament and interests.

INTJs are defined by their tendency to move through life as though it were a giant chess board, pieces constantly shifting with consideration and intelligence, always assessing new tactics, strategies and contingency plans, constantly outmaneuvering their peers in order to maintain control of a situation while maximizing their freedom to move about. This isn’t meant to suggest that INTJs act without conscience, but to many Feeling (F) types, INTJs’ distaste for acting on emotion can make it seem that way, and it explains why many fictional villains (and misunderstood heroes) are modeled on this personality type.

INTJ Strengths

  • Quick, Imaginative and Strategic Mind – INTJs pride themselves on their minds, taking every opportunity to improve their knowledge, and this shows in the strength and flexibility of their strategic thinking. Insatiably curious and always up for an intellectual challenge, INTJs can see things from many perspectives. INTJs use their creativity and imagination not so much for artistry, but for planning contingencies and courses of action for all possible scenarios.
  • High Self-Confidence – INTJs trust their rationalism above all else, so when they come to a conclusion, they have no reason to doubt their findings. This creates an honest, direct style of communication that isn’t held back by perceived social roles or expectations. When INTJs are right, they’re right, and no amount of politicking or hand-holding is going to change that fact – whether it’s correcting a person, a process, or themselves, they’d have it no other way.
  • Independent and Decisive – This creativity, logic and confidence come together to form individuals who stand on their own and take responsibility for their own actions. Authority figures do not impress INTJs, nor do social conventions or tradition, and no matter how popular something is, if they have a better idea, INTJs will stand against anyone they have to in a bid to have it changed. Either an idea is the most rational or it’s wrong, and INTJs will apply this to their arguments as well as their own behavior, staying calm and detached from these sometimes emotionally charged conflicts. INTJs will only be swayed by those who follow suit.
  • Hard-working and determined – If something piques their interest, INTJs can be astonishingly dedicated to their work, putting in long hours and intense effort to see an idea through. INTJs are incredibly efficient, and if tasks meet the criteria of furthering a goal, they will find a way to consolidate and accomplish those tasks. However, this drive for efficiency can also lead to a sort of elaborate laziness, wherein INTJs find ways to bypass seeming redundancies which don’t seem to require a great deal of thought – this can be risky, as sometimes double-checking one’s work is the standard for a reason.
  • Open-minded – All this rationalism leads to a very intellectually receptive personality type, as INTJs stay open to new ideas, supported by logic, even if (and sometimes especially if) they prove INTJs’ previous conceptions wrong. When presented with unfamiliar territory, such as alternate lifestyles, INTJs tend to apply their receptiveness and independence, and aversion to rules and traditions, to these new ideas as well, resulting in fairly liberal social senses.
  • Jacks-of-all-Trades – INTJs’ open-mindedness, determination, independence, confidence and strategic abilities create individuals who are capable of doing anything they set their minds to. Excelling at analyzing anything life throws their way, INTJs are able to reverse-engineer the underlying methodology of most any system and apply the concepts that are exposed wherever needed. INTJs tend to have their pick of professions, from IT architects to political masterminds.

INTJ Weaknesses

  • Arrogant – INTJs are perfectly capable of carrying their confidence too far, falsely believing that they’ve resolved all the pertinent issues of a matter and closing themselves off to the opinions of those they believe to be intellectually inferior. Combined with their irreverence for social conventions, INTJs can be brutally insensitive in making their opinions of others all too clear.
  • Judgmental – INTJs tend to have complete confidence in their thought process, because rational arguments are almost by definition correct – at least in theory. In practice, emotional considerations and history are hugely influential, and a weak point for INTJs is that they brand these factors and those who embrace them as illogical, dismissing them and considering their proponents to be stuck in some baser mode of thought, making it all but impossible to be heard.
  • Overly analytical – A recurring theme with INTJs is their analytical prowess, but this strength can fall painfully short where logic doesn’t rule – such as with human relationships. When their critical minds and sometimes neurotic level of perfectionism (often the case with Turbulent INTJs) are applied to other people, all but the steadiest of friends will likely need to make some distance, too often permanently.
  • Loathe highly structured environments – Blindly following precedents and rules without understanding them is distasteful to INTJs, and they disdain even more authority figures who blindly uphold those laws and rules without understanding their intent. Anyone who prefers the status quo for its own sake, or who values stability and safety over self-determination, is likely to clash with INTJ personality types. Whether it’s the law of the land or simple social convention, this aversion applies equally, often making life more difficult than it needs to be.
  • Clueless in romance – This antipathy to rules and tendency to over-analyze and be judgmental, even arrogant, all adds up to a personality type that is often clueless in dating. Having a new relationship last long enough for INTJs to apply the full force of their analysis on their potential partner’s thought processes and behaviors can be challenging. Trying harder in the ways that INTJs know best can only make things worse, and it’s unfortunately common for them to simply give up the search. Ironically, this is when they’re at their best, and most likely to attract a partner.

Selebihnya bisa dilihat–atau kalau mau nyobain tes juga, bisa–di http://www.16personalities.com

________________________________________________________________________

Lebih Baik dan Dicinati

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim)

Setiap kubaca perkataanmu ini, yaa Rasul… Aku sedih, kecewa, geram, dalam waktu bersamaan aku pun optimis, tumbuh tekad, semangat. Semuanya padu menyatu; mengguncang jiwaku!

Faghfirlii yaa Ghafuur…  Laa hawla wa laa quwwata illaa billah…

Ujian Hidup Kita

image

Kita telah, sedang, dan akan terus dihadapkan dengan ujian hidup dalam ragam bentuknya. Tetapi semua ujian hidup punya laku yang sama; mengetuk hati kita, yang boleh jadi sudah mulai menjauh dari-Nya.

Ujian hidup mengingatkan kita kembali bagaimana cara berdoa, bagaimana cara menjadi sebaik-baik hamba. Apapun bentuknya, hendaknya ujian hidup menjadikan kita lebih bisa mendekat kepada-Nya.

Tak perlu mengaduh saat ujian hidup bertamu lama atau datang secara tiba-tiba. Mungkin Allah sedang rindu dengan khusyuknya kita dalam berdoa. Mungkin Allah sedang ingin melihat kita berdiri, rukuk, dan sujud lebih lama.

Maka syukurilah segala sesuatu yang dengannya kita bisa kembali bergegas kepada-Nya.

Syukurilah…