10 Penyebab Kenakalan pada Anak

Terdapat 10 penyebab kenakalan pada anak. Begitu kata Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad fil Islam. Di antaranya:

  1. Kemiskinan yang menjerat keluarga
  2. Perselisihan dan percekcokan bapak dan ibu
  3. Percerayan yang dibarengi kemiskinan
  4. Kesenggangan waktu yang tidak diisi dengan hal baik
  5. Lingkungan dan pertemanan yang buruk
  6. Perlakuan buruk dari orang tua
  7. Terpapar tayangan kriminal dan pornografi
  8. Merebaknya pengangguran di masyarakat
  9. Orang tua yang mengabaikan pendidikan anak
  10. Yatim

Dari kesepuluh faktor tersebut, tidak ada satu pun faktor penyebab yang datangnya dari internal diri si anak. Dengan kata lain, kenakalan itu dibentuk oleh akumulasi kondisi lingkungan. Mulai dari keluarga, pertemanan, sampai media dan masyarakat.

Kemudian yang menjadi pertanyaan; bagaimana mengurangi kenakalan pada anak–secara mikro dan makro? Siapa saja yang harus berperan ambil bagian menghadirkan solusi?

Menurut saya, agaknya butuh peran aktif bukan hanya internal keluarga, melainkan juga masjid, masyarakat, bahkan media dan pemerintahan.

Namun demikian, kalau kita lihat kembali, setidaknya ada 7 faktor penyebab kenakalan yang solusinya ada dalam kendali langsung internal keluarga si anak, yang kalau benar-benar bisa terkondisikan, insya Allah kenakalan anak bisa dihindari. Yakni,

  1. Perselisihan dan percekcokan bapak dan ibu (keluarga)
  2. Percerayan yang dibarengi kemiskinan (keluarga)
  3. Kesenggangan waktu yang tidak diisi dengan hal baik (keluarga)
  4. Lingkungan dan pertemanan yang buruk (keluarga)
  5. Perlakuan buruk dari orang tua (keluarga)
  6. Terpapar tayangan kriminal dan pornografi (keluarga)
  7. Orang tua yang mengabaikan pendidikan anak (keluarga)

Adapun faktor yang lainnya, di samping memerlukan peran aktif keluarga, menurut saya, butuh keterlibatan lebih juga dari eksternal keluarga, seperti masyarakat dan pemerintah:

  1. Kemiskinan yang menjerat keluarga.
  2. Merebaknya pengangguran di masyarakat.
  3. Yatim.

Pada akhirnya, pendidikan anak membutuhkan peran serta semuanya. Termasuk masjid, sekolah, masyarakat, juga media dan pemerintah. Dan tentunya, keluarga menjadi benteng pertahanan terakhirnya.

Air

Sudah masuk waktu shubuh. Tapi guyuran hujan belum berhenti. Bahkan semakin deras. Terus begitu sampai sekitar pukul 10 pagi. Sampai akhirnya, tadi, Ayah baru bisa sarapan ke warkop tanjakan pukul 10.30 WIB.

Belakangan ini, alhamdulillah ala kulli hal, hujan memang semakin sering turun. Anehnya, masih ada beberapa orang di media sosial berkicau, “Sudah sering hujan. Kok tidak ada banjir?” Ketus banget, bukan?!

Mungkin mereka tak bermaksud menantang Tuhan. Mereka hanya ingin mengatakan, “Lihat nih, hasil kerja kami!”, dan begitu seterusnya.

Namun begitu, kamu tahu apa yang terjadi? Banjir di 54 titik banjir tersiarkan. Mereka pun bungkam.

Kamu lihat? Betapa mudahnya Allah memberikan jawaban sekaligus peringatan. Entah bagaimana perasaan mereka saat ini. Semoga saja kita dan mereka teringat, bahwa yang menumbangkan seorang penguasa besar bernama Fir’aun adalah kumpulan tetesan air laut merah yang menyumbat lubang hidungnya.

 

Depok, 21 Feb 2017
Di kantor, kamu di Bogor
21.29 WIB

Dua Pertanyaan

Nak, ada dua pertanyaan yang–menurut Ayah–perlu kamu jawab saat usiamu menginjak 15 tahun nanti.

Pertama: Sudahkah kamu memiliki sesuatu yang akan kamu perjuangkan dalam hidupmu–apapun tantangannya, betatapun sulitnya, berapapun harga yang harus dibayar, sekalipun nyawamu sebagai taruhannya?

Kedua: Seabad ke belakang populasi manusia meningkat tajam. Permasalahan yang dihadapi manusia pun semakin banyak dan kompleks. Pertanyaannya, pada permasalahan yang manakah kamu akan mengambil peran untuk memberikan solusinya?

Mengapa di usia 15 tahun? Karena pada usia tersebut kamu sudah memasuki usia baligh. Yang artinya sudah dikenai beban syariat. Pikiran, sikap, dan perbuatanmu langsung kamu pertanggungjawabkan kepada-Nya.

Harapan Ayah, di usia 15 tahun inilah kamu telah menjadi pribadi yang matang. Yang di antara parameternya adalah kamu sudah bisa menjawab pertanyaan di atas dengan yakin, tegas, tanpa ragu. Mengenai apakah ke depannya akan ada perubahan arah atau penyesuaian itu soalan lain.

Pertanyaan ini Ayah ajukan agar kamu setelah itu bisa memfokuskan waktu, pikiran, dan energimu kepada hal itu. Supaya kamu tidak tersibukkan oleh hal-hal yang tidak penting dan tidak memiliki dampak untuk akhiratmu.

Insya Allah, Ayah dan Bunda akan membantumu mulai saat ini. Semoga Allah memanjangkan usiamu dalam ketaatan dan kebermanfaatan. Semoga Allah mengizinkan Ayah dan Bunda bisa mendengar langsung jawabanmu di hari itu.

Depok, 17 Februari 2017
Jum’at petang, 17.36 WIB
Jelang usia ke-2 bulanmu.

Nak, Bersungguhlah!

Nak!

Dua bulan ini ayah sedang mengikuti seri kajian kitab Ayyuhal Walad, karya Imam Ghazzali, yang disyarah oleh Buya Yahya. Kamu bisa menyaksikannya di sini, semoga aja masih ada.

Di seri ke-7 ada hal yang menarik. Soal mujahadah atau ke-bersunggu-sungguh-an. Buya Yahya mengatakan bahwa kita perlu melatih diri kita untuk bersungguh-sungguh. Mulanya adalah dengan berusaha menyelisihi hawa nafsu kita yang cenderung mengajak kita kepada keburukan.

Setiap orang punya wilayah mujahadah yang berbeda-beda. Ada yang senang tampil ke depan berbicara, yang dengannya ia mengharap penilaian baik orang lain. Maka mujahadah-nya adalah dengan diam saat hasrat bicaranya keluar dari niat lillah. Ada yang senang bergumul dengan hp. Sampai lupa waktu, lalai dari tilawah. Maka mujahadah-nya adalah mengurangi pemakaian hp diluar hal yang perlu. Ada yang pandangannya mudah terpeleset, maka mujahadah-nya adalah pada bagaimana ia bisa menundukkan pandangannya. Dan begitu seterusnya.

Kurang lebih begitu salah satu pesan yang nempel di benak Ayah. Menjadi tamparan keras bagi Ayah yang sering lupa dan mudah menyerah kepada ajakan hawa nafsu.

Ayah tidak tahu apa yang menjadi ujian kehidupan di zamanmu kelak. Namun, tetaplah berpegang pada nasihat tersebut. Bahwa pada prinsipnya, sebagaimana perkataan Rasul, tanda baiknya ke-Islaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya. Bahwa wara itu adalah meninggalkan apa-apa yang mungkin terlarang dan mudharat. Adapun zuhud adalah meniggalkan apa-apa yang tidak bisa dijadikan bekal untuk perjalananmu di akhirat nanti.

Semoga Allah menjagamu, memanjangkan usiamu dalam ketaatan kepada-Nya.

Depok,
Di usia 1 bulan + 2 harimu
08.45 WIB

 

Nak, Apakah Semesta Ada Tanpa Pencipta?

Nak, Apakah Semesta Ada Tanpa Pencipta?

 

Nak,

Bila engkau melihat jejak kucing di pekarangan rumahmu, bukankah itu berarti sempat ada kucing melewatinya–meskipun engkau tidak melihatnya?

Bila engkau melihat sebuah tulisan, bukankah artinya ada seseorang yang pernah menuliskannya–meskipun engkau tidak tahu siapa ia dan tidak melihatnya?

Maka, bagaimana dengan apa yang setiap hari engkau lihat; pepohonan, hewan, gunung, langit, matahari, bintang–apakah mereka semua ada begitu saja tanpa ada yang menciptakannya?

Mustahil alam semesta ini ada begitu saja, tanpa ada yang menciptakannya. Maka, tahukah kamu, siapa yang menciptakan alam semesta beserta apa yang ada di dalamnya?

Dialah Allah, Maha Pencipta, Maha Berkuasa, yang telah menciptakanmu, menciptakan ayah dan bundamu, menciptakan manusia dari saripati tanah dan tiupan Ruh-Nya.