Tentang Kebahagiaan dan Kesendirian

IMG_6190

Sebetulnya tidak ada yang spesial dari gubuk kecil ini. Bangun luar dan dalamnya sederhana. Lebih dari cukup untuk sekadar tempat berteduh, merebahkan badan, memainkan irama keletak keyboard, berbagi ceri(t)a, menyembunyikan (r)asa, atau kadang menjadi tempat yang bernuansa haru harap cemas seperti sudut-sudut rumah sakit dan bandara. Akan tetapi, sepertinya penilaianku tersebut salah. Dan ini baru aku sadari sesampainya aku di sini siang tadi –setelah ditinggal selama dua pekan untuk berakhir Ramadhan dan lebaran.

“Assalamu’alaikum…”, kuucapkan salam saat memasukinya, sebagaimana biasa kami lakukan setiap harinya. Sekilas ada rasa lega. Seketika semangat terpompa. Seperti mendapat suntikan nyawa. Karena akhirnya aku bisa kembali menyapa pekerjaan-pekerjaanku yang mulai memanggilku dari arah komputer yang terletak di sudut kiri ruang depannya. Akan tetapi, suasananya berubah saat aku memasuki ruang kamarnya, kutaruh tas di sudut kanannya, kutengok ruang dapur kecil serta kamar mandinya, dan kudapati tidak ada siapa-siapa. Mereka tidak ada. Dan sebetulnya aku memang sudah tau bahwa mereka tidak ada. Zain masih di kampungnya. Sementara Azhar, Fakhril, Ibnu, Udin, mereka memang sudah tidak lagi menjadi teman seper-atap-an. Tapi, entah mengapa rasanya tiba-tiba kurang nyaman. Sesak. Ada yang kurang.

***

Seketika terputar dalam memoriku saat-saat kami masih lengkap bersama sekitar 2 tahun lalu. Pagi itu aku pergi bersama Azhar melalui margonda kemudian berbelok ke arah jalan Juanda. Aku tidak tahu persis saat itu kami hendak pergi ke mana. Tetapi aku ingat betul apa yang kami perbincangkan di perjalanannya.

“Broh, menurut ente, hal apa yang paling cepat bisa merenggut kebahagiaan seseorang?” Tanyaku dari jok belakang motor Azhar.

“hmm…” Lima sampai tujuh detik Azhar terdiam. Kukira pertanyaanku terpental helm hitamnya. Ternyata tidak.

“Apa, Bang?” Pertanyaanku menukik balik ke belakang. Padahal saat itu sebetulnya aku sedang mengumpulkan jawaban dari berbagai sudut pandang.

“Kesendirian” sesaat kujawab singkat.

***

Seperti itulah hasil permenunganku. Dan hari ini Allah mengizinkanku merasakan secuil dari apa yang pernah kurenungkan dua tahun lalu itu. Kesendirian. Sendiri di gubuk kecil ini. Tanpa mereka-mereka yang sejak 2011 lalu membersamai hariku, suka dukaku, lapang sempitku, semangat dan payahku. Seperti ada yang hilang. Aneh.

Akupun tersadarkan, sepertinya aku memang tidak terbiasa tinggal di suatu tempat sendirian. Sejak semester 1 sampai semester 4, aku tinggal sekosan dengan teman sejak SMA-ku. Aldy namanya. Setelah itu tinggal nomaden pindah-pindah kontrakan-Asrama Quran bersama mereka-mereka itu. Maka, hentakan kesendirian di hari ini, dan beberapa hari ke depan, sepertinya lumayan akan berpengaruh terhadap ‘selera makan’-ku :D. Mungkin ini terkesan lebay bagimu. Tapi memang begitu adanya :). Aku pun tak menyangka bisa semembekas ini.

Gubuk ini, juga beberapa tempat lain yang pernah kami tempati, ternyata punya nilai tersendiri di hati kami. Salah satu nilai yang kudapatkan darinya adalah pelajaran hidup tentang kebahagiaan dan kesendirian seperti yang telah kusampaikan:

Bahwa, boleh jadi seseorang bisa bertahan hidup dalam kekurangan harta. Akan tetapi, ia belum tentu bisa bertahan saat kesendirian melandanya. Boleh jadi pula seseorang hidup bahagia dalam keserba-cukupan. Akan tetapi, masih tersisakah kebahagiaan yang hanya dirasakan sendirian?

***

Aku jadi teringat dengan kisah Ka’ab ibn Malik, dan dua orang temannya (radhiyallahu ‘anhum), yang atas kelalaian mereka tidak turut berperang, Rasulullah melarang siapapun untuk berbicara dengan mereka sebagai bentuk hukuman dan penangguhan penerimaan taubat mereka. Tak seorangpun berkenan berbicara dengan mereka. Pertanyaan mereka diabaikan. Salam dan tegur sapa mereka tak diacuhkan. Termasuk oleh Rasulullah. Termasuk oleh keluarganya. Bahkan juga istrinya. Dan kesendirian itu ia rasakan sampai akhirnya diterima taubat mereka selama 50 hari lamanya. Quran pun mengabadikan sempitnya kesendirian itu delam salah satu ayat-Nya:

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja …” QS. At-Taubah: 118

Adakah yang lebih bisa menggambarkan sesaknya kesendirian melebihi gambaran “… hingga, apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka …” dalam Firaman-Nya ini?

***

Begitulah. Dari gubuk kecil dan mereka yang membersamaiku di dalamnya, hari ini aku kembali belajar tentang bahagia dan kesendirian. Bahwa kita membutuhkan orang lain untuk bisa bahagia, dan tidak ada yang lebih cepat mencabut kebahagiaan melebihi kesendirian.

Terima kasih kepada mereka yang telah hadir menggenapiku dalam kebahagiaan. Pertama, tentu saja keluargaku di rumah. Kemudian Aldy, teman sejak SMA kelas XI, XII, kemudian menjadi teman seper-atap-an sejak semester I-IV kuliah, juga teman ngobrol soal apapun hingga saat ini. Azzis, teman pertamaku di Fisika UI. Luqman, yang ‘menyesatkanku’ ke jalan kebaikan. Teman-teman LD MII, OASIS, Syi’ra, SALAM UI i5, dan terutama teman-teman seperjuanganku di Indonesia Quran Foundation. Terima kasih telah menyelamatkanku dari bencana kesendirian.

:’)

Depok, 23 Juli 2015
02:45 WIB

Persejiwaan

a65c3dd22dff5b46dcde8f56b3f594ce

Rindu ada bukan karena jarak menjeda
Tapi karena jiwa-jiwa telah bersenyawa
Seperti langit Bandung Selatan malam itu
Redupnya pesan perpisahan dengan malam kemuliaan
Tetapi cerah paginya guratkan kebahagiaan
Baginya, kepergian sang kekasih
hanyalah ilusi detik, menit, dan jam
Karena untuk jiwa yang padu,
ruang dan waktu tak lagi menjadi sekat yang memisahkan

Ramadhan tidaklah pergi,
(Semangatnya) hanya sedang bersembunyi,
di bilik terdalam hati kita…

: )

Manusia Riweuh

Manusia Riweuh. Mungkin begitulah teman-teman menangkapnya. Maaf kalau saya pernah membuat teman-teman semua turut riweuh alias ribet. Apa yang tampak riweuh bagi teman-teman, kadang bagi saya tak lebih dari sebuah kompleksitas yang bisa disederhanakannya. Kayak batik gitu lah. Tapi yaa, gimana ya, kadang saya juga pengen gak se-riweuh ini. Saya juga gak tahu kenapa. Sudah adanya begini. Saya merasa begini sejak SMA dulu. Tapi saya tetap mau berusaha supaya gak zhalim sama teman-teman sekalian dengan karakter saya yang begini. Salah satunya adalah dengan mempelajari saya ini jenis manusia kayak gimana sih.

Setelah ikutan beberapa kali tes psikologi (MBTI), inilah hasilnya. Katanya sih saya manusia INTJ (introvertion – Intuition – Thinking – Judging). Beberapa kali ikutan tesnya di beberapa website berbeda, hasilnya tetep sama. Pernah deng hasilnya INFJ, tapi cuma sekali saja.Yang jelas, saat baca gimana karakteristik-karakteristiknya, saya bisa bilang “Naaaaaaaah, iyaaaa ini gue bangeeet!”. Berasa menemukan diri sendiri. Entah itu sisi positif juga negatifnya.

*disclaimer: Saya termasuk orang yang percaya bahwa kepribadian seseorang itu seperti wadah yang bisa berkembang atau berubah bentuk. Bergantung apa yang mengisinya. Sebaik-baik pengisinya adalah nilai-nilai Islam, sesuai Quran dan sunnah. Saya, bagaimanapun, harus tunduk sama apa yang udah tercontohkan dalam akhlaq Rasul. Gak bisa tuh, mentang-mengag saya orangnya begini, terus saya minta pengertian yang lain bahwa saya itu memang begini dan begitu. Gak bisa gitu. Kalau ada yang gak baik, dan itu berpotensi menzhalimi orang lain, saya akan ubah itu sebisa mungkin. So, tes ini cuma alat yang saya pake buat lebih ngenal karakter diri.*

INTJ katanyaINTJJJJJ

INTJ1

INTJ2

INTJ3

INTJ4

INTJ5

INTJ6

INTJ7

INTJ8

INTJ9

INTJ10

INTJ11

INTJ12

INTJ13

INTJ14

INTJ15

INTJ16

INTJ17

INTJ18

INTJ19

INTJ20

INTJ21

INTJ22

INTJ23

INTJ24

INTJ25

INTJ26

INTJ27

INTJ28

INTJ29

INTJ30

INTJ31

INTj32

INTJ33

INTj34

INTJ35

INTJ36

INTJ37

INTJ38

INTJ39

INTJ40

dari website 16personalities:

INTJ Personality (“The Architect”)

It’s lonely at the top, and being one of the rarest and most strategically capable personality types, INTJs know this all too well. INTJs form just two percent of the population, and women of this personality type are especially rare, forming just 0.8% of the population – it is often a challenge for them to find like-minded individuals who are able to keep up with their relentless intellectualism and chess-like maneuvering. People with the INTJ personality type are imaginative yet decisive, ambitious yet private, amazingly curious, but they do not squander their energy.

Nothing Can Stop the Right Attitude From Achieving Its Goal

INTJ personality

With a natural thirst for knowledge that shows itself early in life, INTJs are often given the title of “bookworm” as children. While this may be intended as an insult by their peers, they more than likely identify with it and are even proud of it, greatly enjoying their broad and deep body of knowledge. INTJs enjoy sharing what they know as well, confident in their mastery of their chosen subjects, but owing to their Intuitive (N) and Judging (J) traits, they prefer to design and execute a brilliant plan within their field rather than share opinions on “uninteresting” distractions like gossip.

“You are not entitled to your opinion. You are entitled to your informed opinion. No one is entitled to be ignorant.”

Harlan Ellison

A paradox to most observers, INTJs are able to live by glaring contradictions that nonetheless make perfect sense – at least from a purely rational perspective. For example, INTJs are simultaneously the most starry-eyed idealists and the bitterest of cynics, a seemingly impossible conflict. But this is because INTJ types tend to believe that with effort, intelligence and consideration, nothing is impossible, while at the same time they believe that people are too lazy, short-sighted or self-serving to actually achieve those fantastic results. Yet that cynical view of reality is unlikely to stop an interested INTJ from achieving a result they believe to be relevant.

In Matters Of Principle, Stand Like a Rock

INTJs radiate self-confidence and an aura of mystery, and their insightful observations, original ideas and formidable logic enable them to push change through with sheer willpower and force of personality. At times it will seem that INTJs are bent on deconstructing and rebuilding every idea and system they come into contact with, employing a sense of perfectionism and even morality to this work. Anyone who doesn’t have the talent to keep up with INTJs’ processes, or worse yet, doesn’t see the point of them, is likely to immediately and permanently lose their respect.

Rules, limitations and traditions are anathema to the INTJ personality type – everything should be open to questioning and reevaluation, and if they see a way, INTJs will often act unilaterally to enact their technically superior, sometimes insensitive, and almost always unorthodox methods and ideas.

This isn’t to be misunderstood as impulsiveness – INTJs will strive to remain rational no matter how attractive the end goal may be, and every idea, whether generated internally or soaked in from the outside world, must pass the ruthless and ever-present “Is this going to work?” filter. This mechanism is applied at all times, to all things and all people, and this is often where INTJ personality types run into trouble.

One Reflects More When Traveling Alone

INTJs are brilliant and confident in bodies of knowledge they have taken the time to understand, but unfortunately the social contract is unlikely to be one of those subjects. White lies and small talk are hard enough as it is for a type that craves truth and depth, but INTJs may go so far as to see many social conventions as downright stupid. Ironically, it is often best for them to remain where they are comfortable – out of the spotlight – where the natural confidence prevalent in INTJs as they work with the familiar can serve as its own beacon, attracting people, romantically or otherwise, of similar temperament and interests.

INTJs are defined by their tendency to move through life as though it were a giant chess board, pieces constantly shifting with consideration and intelligence, always assessing new tactics, strategies and contingency plans, constantly outmaneuvering their peers in order to maintain control of a situation while maximizing their freedom to move about. This isn’t meant to suggest that INTJs act without conscience, but to many Feeling (F) types, INTJs’ distaste for acting on emotion can make it seem that way, and it explains why many fictional villains (and misunderstood heroes) are modeled on this personality type.

INTJ Strengths

  • Quick, Imaginative and Strategic Mind – INTJs pride themselves on their minds, taking every opportunity to improve their knowledge, and this shows in the strength and flexibility of their strategic thinking. Insatiably curious and always up for an intellectual challenge, INTJs can see things from many perspectives. INTJs use their creativity and imagination not so much for artistry, but for planning contingencies and courses of action for all possible scenarios.
  • High Self-Confidence – INTJs trust their rationalism above all else, so when they come to a conclusion, they have no reason to doubt their findings. This creates an honest, direct style of communication that isn’t held back by perceived social roles or expectations. When INTJs are right, they’re right, and no amount of politicking or hand-holding is going to change that fact – whether it’s correcting a person, a process, or themselves, they’d have it no other way.
  • Independent and Decisive – This creativity, logic and confidence come together to form individuals who stand on their own and take responsibility for their own actions. Authority figures do not impress INTJs, nor do social conventions or tradition, and no matter how popular something is, if they have a better idea, INTJs will stand against anyone they have to in a bid to have it changed. Either an idea is the most rational or it’s wrong, and INTJs will apply this to their arguments as well as their own behavior, staying calm and detached from these sometimes emotionally charged conflicts. INTJs will only be swayed by those who follow suit.
  • Hard-working and determined – If something piques their interest, INTJs can be astonishingly dedicated to their work, putting in long hours and intense effort to see an idea through. INTJs are incredibly efficient, and if tasks meet the criteria of furthering a goal, they will find a way to consolidate and accomplish those tasks. However, this drive for efficiency can also lead to a sort of elaborate laziness, wherein INTJs find ways to bypass seeming redundancies which don’t seem to require a great deal of thought – this can be risky, as sometimes double-checking one’s work is the standard for a reason.
  • Open-minded – All this rationalism leads to a very intellectually receptive personality type, as INTJs stay open to new ideas, supported by logic, even if (and sometimes especially if) they prove INTJs’ previous conceptions wrong. When presented with unfamiliar territory, such as alternate lifestyles, INTJs tend to apply their receptiveness and independence, and aversion to rules and traditions, to these new ideas as well, resulting in fairly liberal social senses.
  • Jacks-of-all-Trades – INTJs’ open-mindedness, determination, independence, confidence and strategic abilities create individuals who are capable of doing anything they set their minds to. Excelling at analyzing anything life throws their way, INTJs are able to reverse-engineer the underlying methodology of most any system and apply the concepts that are exposed wherever needed. INTJs tend to have their pick of professions, from IT architects to political masterminds.

INTJ Weaknesses

  • Arrogant – INTJs are perfectly capable of carrying their confidence too far, falsely believing that they’ve resolved all the pertinent issues of a matter and closing themselves off to the opinions of those they believe to be intellectually inferior. Combined with their irreverence for social conventions, INTJs can be brutally insensitive in making their opinions of others all too clear.
  • Judgmental – INTJs tend to have complete confidence in their thought process, because rational arguments are almost by definition correct – at least in theory. In practice, emotional considerations and history are hugely influential, and a weak point for INTJs is that they brand these factors and those who embrace them as illogical, dismissing them and considering their proponents to be stuck in some baser mode of thought, making it all but impossible to be heard.
  • Overly analytical – A recurring theme with INTJs is their analytical prowess, but this strength can fall painfully short where logic doesn’t rule – such as with human relationships. When their critical minds and sometimes neurotic level of perfectionism (often the case with Turbulent INTJs) are applied to other people, all but the steadiest of friends will likely need to make some distance, too often permanently.
  • Loathe highly structured environments – Blindly following precedents and rules without understanding them is distasteful to INTJs, and they disdain even more authority figures who blindly uphold those laws and rules without understanding their intent. Anyone who prefers the status quo for its own sake, or who values stability and safety over self-determination, is likely to clash with INTJ personality types. Whether it’s the law of the land or simple social convention, this aversion applies equally, often making life more difficult than it needs to be.
  • Clueless in romance – This antipathy to rules and tendency to over-analyze and be judgmental, even arrogant, all adds up to a personality type that is often clueless in dating. Having a new relationship last long enough for INTJs to apply the full force of their analysis on their potential partner’s thought processes and behaviors can be challenging. Trying harder in the ways that INTJs know best can only make things worse, and it’s unfortunately common for them to simply give up the search. Ironically, this is when they’re at their best, and most likely to attract a partner.

Selebihnya bisa dilihat–atau kalau mau nyobain tes juga, bisa–di http://www.16personalities.com

________________________________________________________________________

Lebih Baik dan Dicinati

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim)

Setiap kubaca perkataanmu ini, yaa Rasul… Aku sedih, kecewa, geram, dalam waktu bersamaan aku pun optimis, tumbuh tekad, semangat. Semuanya padu menyatu; mengguncang jiwaku!

Faghfirlii yaa Ghafuur…  Laa hawla wa laa quwwata illaa billah…

Ujian Hidup Kita

image

Kita telah, sedang, dan akan terus dihadapkan dengan ujian hidup dalam ragam bentuknya. Tetapi semua ujian hidup punya laku yang sama; mengetuk hati kita, yang boleh jadi sudah mulai menjauh dari-Nya.

Ujian hidup mengingatkan kita kembali bagaimana cara berdoa, bagaimana cara menjadi sebaik-baik hamba. Apapun bentuknya, hendaknya ujian hidup menjadikan kita lebih bisa mendekat kepada-Nya.

Tak perlu mengaduh saat ujian hidup bertamu lama atau datang secara tiba-tiba. Mungkin Allah sedang rindu dengan khusyuknya kita dalam berdoa. Mungkin Allah sedang ingin melihat kita berdiri, rukuk, dan sujud lebih lama.

Maka syukurilah segala sesuatu yang dengannya kita bisa kembali bergegas kepada-Nya.

Syukurilah…

Tanggapan Saya untuk “Tolong Jangan Bilang Anakku ‘Pintar'”

image

Entah mengapa, setelah baca artikel ‘Tolong Jangan Bilang Anak Saya “Pintar”‘, di dalam hati saya seperti ada yang mengganjal. Karena itu, tadi saya coba kasih tanggapan deh. Berikut tanggapan dari saya: *Semoga saja bisa jadi solusi tambahan yang melengkapi*

👇👇👇

[7:53AM, 5/28/2015] @YsGunawan: Nice post, Mi! Hatur nuhun udah share. :D:D:D:D:D

[7:54AM, 5/28/2015] @YsGunawan: Kesimpulan dari saya: Apresiasi ternyata punya dampak negatif. Contohnya adalah ketika apresiasi diarahkan pada hasil, bukan usaha yang dilakukan kayak contohnya di atas. Penulis pun udah nyampein gimana cara mengantisipasi sekiranya anaknya terpapar apresiasi-hasil. Yaitu, langsung nimpalin pake apresiasi-proses.

[7:54AM, 5/28/2015] @YsGunawan: Pertanyaannya, itu kan bentuk pengantisipasian dari eksternal si anak. Sementara itu si anak belum tentu selalu didampingi si Ibu yang udah ngerti hal ini. Si Ibu pun gak bisa ngendaliin orang-orang biar gak ngasih apresiasi-hasil. Berangkat dari situ, menurut teman-teman, ada gak cara biar si anak itu sendiri punya mekanisme internal –yang dengannya dia bisa IMUN sama jenis apresiasi apapun, FM/GM sama aja?

Sedangkal pengetahuan saya, adab Islam udah punya solusi ampuh terkait hal ini. Islam punya cara biar anak-anak kita, atau kita, IMUN terhadap segala jenis apresiasi yang itu berdampak buruk kayak apresiasi-hasil di atas.

[7:55AM, 5/28/2015] @YsGunawan: Coba perhatikan ini:

  • Dalam surat al Kahfi, selepas membangun tembok penghalang dengan teknologi canggih saat itu, Zulkarnain bilang gini “haadzaa rahmatun min Rabbi”, bahwa dia bisa ngebangunin tembok itu bukan semata atas usaha dia, tapi atas kemudahan dan pertolongan (Rahmat) Allah yang banyak.
  • Umar bin Khattab mempopulerkan ini: kalau benar, itu datangnya dari Allah. Kalau ada salah, itu dari diriku sendiri dan setan.
  • Atau dua ayat berbeda yang tampak seperti kontradiktif ini: “wa khuliqal insaanu dha’iifa” sama “laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa”. Di satu sisi Quran minta kita buat semangat pantang nyerah karena beban diturunkan tidak melebihi kapasitas kita tuk nanggungnya. Tapi di ayat lain Quran pun ngingetin bahwa sekalipun begitu tetep aja manusia itu ‘dha’iifa’-lemah butuh bantuan Allah, dst.

Terus apa kaitannya antara 3 poin di atas sama ketahanan kita dalam menghadapi paparan ‘tepuk tangan’ yang mematikan?

Kita perlu menanamkan cara berpikir ke anak-anak, dan tentunya juga ke dalam benak kita, bahwa:

  • Sekiranya kita berhasil melakukan sesuatu/mencapai sesuatu, disamping itu karena usaha kita yang biasanya minim, itu juga karena Allah sudah menolong kita dengan memberi kita kekuatan, kemudahan, kelancaran, sehingga kita bisa berusaha sampai akhir dan mencapai hasil tersebut. Tanamkan ke anak, bahwa ketika dia berhasil melakukan sesuatu, di samping itu karena dia udah berusaha keras, juga karena Allah sudah membantunya, memberinya kekuatan, juga kelancaran sehingga dia biasa sampai pada titik itu. Ajari anak saat mendapat apresiasi untuk menjawab ‘Alhamdulillah, ini atas izin dan pertolongan Allah’.
  • Apresiasi terhadap usaha memang bisa memicu si anak untuk berupaya/belajar lebih ke depannya. Tapi, apresiasi-usaha saja rasanya tidak cukup. Karena pada titik tertentu si anak bisa terjebak sama kayak gini:  ‘Padahalkan aku udah berusaha sekuat tenaga, tapi kok malah begini dan begitu…, apa aku ini memang begini, apa aku ini begitu?’, yang itu pada akhirnya bisa jadi mentalblock juga bagi si anak –sepertinya. Hehe maap sotoy. Nah, sepertinya di samping kita perlu menanamkan ke benak mereka bahwa setiap kesulitan pasti bisa mereka atasi kalau mereka berusaha lebih, kita pun perlu menanamkan bahwa –bagaimana pun juga, sekalipun dia bisa mengahadpi itu semua dengan usaha– tetep saja dia itu lemah kalo tanpa bantuan Allah, ada hal yang gak bisa dikendalikan oleh usahanya, yang artinya dia membutuhkan bantuan Yang Berkuasa atas segala sesuatu. Dengan ini, si anak akan terselamatkan dari bahaya materialisme (menyandarkan harapan pada sesuatu hal yang terlihat saja, Godless), yang akibatnya: seolah2 hukum sebab-akibat di dunia ini tunduk terhadap usahanya dia.

Jadi, cara yang bisa dilakukan biar si anak bisa IMUN sama apresiasi-hasil yang mematikan tadi adalah dengan menanamkan nilai2 TAUHID ke dalam hati-pikirannya. Kalo saya boleh meringkasnya, mungkin dua hal inilah yang perlu ditanamkan tersebut:

  1. “Kalo pun aku mencapai sesuatu, itu karena Allah banyak membantuku dalam prosesnya. Jadi, kalau ada yang memuji capaianku, aku kembalikan pujian itu kepada Allah yang telah membantuku”. Cara menanamkannya bisa begini: kalo ada yang bilang ‘Wah, fulan pintar ya bisa menyelesaikan ini’, Kita timpali dengan: Alhamdulillah, atas pertolongan Allah, fulan sudah bisa berusaha begini begitu’. Terus kalau bisa tambahin ke anaknya, ‘alhamdulillah ya kamu bisa mencapai ini, udah terima kasih sama Allah belum? Allah kan sudah bantu kamu?” terus kalo ditanya ’emang Allah bantu apa, Bu?’ tinggal jawab ‘Allah yang ngasih kamu kesehatan, ngasih kamu tangan yang bisa digerakan, ngasih kamu hidung untuk bernafas, jadi kamu bisa nyelesaikan ini semua deh’
  2. “Aku harus berusaha, tapi apalah dayaku kalau aku tidak dibantu-Nya, aku butuh bantuan-Nya”. Ini perlu ditanamkan saat si anak sedang berusaha. Jangan sampai si anak menyandarkan harapan pencapaiannya kepada usaha dia saja. Arahkan anak untuk ‘melibatkan’ Allah dalam setiap usahanya. Kalau ini kurang ditanamkan, jangan kaget kalau suatu saat nanti anak kita nunda-nunda shalat dengan alasan besok mau ujian, sementara banyak banget materi yang belum ngerti, sibuk belajar, jadi sayang banget waktu kalo terbuang untuk shalat dan berdoa. Artinya dengan menanamkan ini, anak akan terselamtkan dari kehidupan yang Godless: menganggap shalat/doa gak begitu pengaruh, dst. Cara menanamkannya, misalnya: “Gimana, kamu bisa? Kok kelihatannya sulit ya? Kamu sudah berdoa sama Allah belum? Ayo tetap berusaha dan jangan lupa berdoa supaya Allah mau bantu kamu”.

    👇👇👇

    Dengan demikian, menurut analisis sotoy saya, kalau anak growth mindset bisa lebih kuat bertahan dan tumbuh dibanding anak fixed mindset, maka anak yang punya mindset TAUHID yang KUAT seharusnya akan jauh lebih survive dan tumbuh dibanding anak growth mindset tok (Godless). Karena, mereka berhasil mempertautkan kelemahan mereka dengan Ke-Maha Perkasa-an Allah. Dengan apa mempertautkannya? Doa dan usaha keras mereka. Dan, semua itu memang mesti dimulai dari diri kitanya sih. #Hazeg #SokIyeBanget XD

    Semoga bermanfaat :))

Tolong Jangan Bilang Anakku “Pintar”

image

Pagi tadi saya dapet artikel menarik ini di Grup Whatsapp BPH-Deputi Salam UI i5. Kalau mau baca, harus sampai selesai ya.
:D
Sumber tulisannya dari sini: http://ourlearningfamily.blogspot.com

👇👇👇

Good Article…

Tolong jangan bilang anakku “pintar”…. (Fixed Mindset Vs Growth Mindset)

Emangnya kenapa? Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama.

Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed vs. growth mindset.  Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006).

Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak:

satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”)

dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual.

Puzzle di ronde pertama memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle buat ronde kedua: satu puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan pilihan puzzle lainnya adalah puzzle yang mudah, serupa dengan yang di ronde pertama.

Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang mudah.

Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah??

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tsb, sehingga nggak perlu ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan: mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya. Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu? Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”

Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka. Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosioekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

Okay. Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Apalagi dia termasuk anak yang introvert dan lebih mudah cemas. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya. Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menanggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, mementingkan hasil akhirnya.

Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya:

a.      Fixed mindset (FM)mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.

b.     Nilai yg bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada FM. Sedangkan GM akan mengatakan “Nilai yg bagus!  Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”

c.      Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan FM. GM akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.”

d.     FM: “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” GM: “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”

e.      FM mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. GM mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).

f.       FM percaya kalau tes mengukur kemampuan. GM percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area untuk pertumbuhan.

g.      Guru dengan FM menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan GM merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.

h.     Guru dengan FM memiliki semua jawaban. Guru dengan GM menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

i.        Guru dengan FM menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan GM mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.

Hosh-hosh, mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi menang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”— masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya. Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil. Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.” Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”. Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal. Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya.

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

Referensi:

1.       Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2.       Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Kids: The Inverse Power of Praise. http://nymag.com/news/features/27840/#

#selftalk