Nak, Jagalah!

Nak!

Jagalah pandanganmu! Karena sebagian pandangan adalah panah-panah iblis yang dilesatkan dan tak akan pernah mengenai sasarannya, justru kamu lah yang akan tertusuk-luka olehnya. Tidaklah ada pandanganmu, melainkan ia akan masuk ke dalam pikiranmu, hatimu. Maka bagaimana pendapatmu bila sampah memenuhi hatimu?

Jagalah lisanmu. Karena sebagian perkataan lebih membunuh dibanding pedang tajam sekalipun. Tidak semua yang ada dalam hati dan pikiranmu perlu diungkapkan. Sekalipun itu tentang kebenaran. Apatah lagi tentang keburukan-keburukan. Tidak istoqamah iman sebelum istoqamah hati, tidak istiqamah hati sebelum lisan kamu istoqamahkan. Begitulah yang guruku ajarkan.

Nak, Perbaikilah Dirimu!

Nak!

Jadilah diri yang lebih baik. Perbaiki dirimu sedikit demi sedikit. Mulailah dengan berhenti melakukan apa-apa yang dilarang oleh-Nya. Kemudian berhenti melakukan apa-apa yang merugikanmu. Setelah itu jangan berlebihan terhadap apa yang dihalalkan bagimu. Sebagaimana obat yang bila berlebihan dosisnya justru bisa membunuh. Bersamaan dengan itu, jagalah apa-apa yang diwajibkan bagimu. Lalu biasakanlah dirimu melakukan keutamaan-keutamaan, biar sedikit asal berkelanjutan. Serta mintailah pertolongan-Nya, agar kamu diberikan kekuatan untuk memulainya, tetap melakukannya, dan memparipurnakannya.

Payah!

Di antara yang kadang membuatku kecewa terhadap diriku sendiri adalah suatu kondisi di mana salah seorang saudaraku memerlukan bantuan ini dan itu, sementara aku tidak bisa melakukan apa-apa. Bukan karena tak mau. Tapi karena saat itu kurang mampu kecuali membantu sedikit saja.

Allah..
Maafkan..

:'(

Nak, Kenalilah Bebanmu Sesungguhnya!

Nak!

Jagalah pandangan dan gerakmu agar tetap visioner. Akan tetapi, jangan sampai kamu lalai akan waktu sekarangmu karena terlalu memikirkan dan mengkhawatirkan apa yang ada di masa nanti. Itu tidak akan menambah apapun bagimu, melainkan kelelahan jiwa.

Bebanmu sebetulnya tak lebih dari apa yang harus kamu tunaikan hari ini dengan sebaik-baiknya. Baguskan niat dan amalmu, sehingga kapan pun malaikat maut  menjemputmu, kamu senantiasa siap menyambutnya.

Nak, Berdisiplinlah!

Nak!

Berdisiplinlah! Maka kamu akan menang. Berdisiplinlah, dan tidak ada jalan pintas untuk bisa menjadi pribadi yang disiplin. Berdisiplinlah, sekalipun itu menyakitkan bagimu. Bukankah pedang yang tajam mulanya adalah besi yang dibakar lalu ditempa? Nikmati rasa sakitnya. Karena tidak ada buah kedisiplinan yang matang saat itu juga. Berdisiplinlah!

Sebut saja Bunga

Telah bertanya @yasir_albantani kepada jamaah path-nya: “kata orang bunga itu indah. Di mana sih letak keindahannya? Pada spektrum warnanya kah? Pada. Teksturnya? Atau begini dan begitu. #terlaluserius”

Sebagai kawan path-nya yang (mencoba) budiman, saya mohon izin untuk menjawab pertanyaan retorismu ya, ustadz.

Keindahan bunga itu, wahai Saudaraku yang shalih lagi calon mantu idaman, apabila engkau benar-benar ingin mengetahui di mana letaknya, tanyakanlah kepada sang bunga:

“Bagaimanakah caramu, wahai bunga-bunga, bisa mengeluarkan warna-warna dengan paduan dan gradasi yang sama meski pada ranting yang berbeda?

Bagaimana pula caramu menyusun setiap lembar mahkotamu, sehingga tidak terlalu rapat ataupun renggang dan tersusun pola tertentu dalam kesatuan bentuk yang mengagumkan?

Bagaimana pula engkau bisa tahu wahai bunga, kapan saat menguncup serta kapan saatnya kuncupmu terkembang?

Siapa yang mengajarkanmu tentang semua ini? Sehingga rupamu itu berhasil menawan jutaan hati”

Kemudian, wahai saudaraku, tunggulah sejenak jawaban dari sang bunga dengan menatapnya.

Dan kini, kau telah mengetahui jawabnya. :)

#seriusamat
#santaiajabacanya
:p – with Arief, alvin, Yasir, Taufan, Fariz, Dika, Fitrah, and M

View on Path