Perbedaan antata Fb, Twitter, Tumblr, Instagram, Path, Line, Pinterest, WordPress

Belakangan ini saya iseng-iseng nyoba nginstall hampir semua platform media sosial. Mulai dari facebook, twitter, tumblr, instagram, path, line, pinterest, sampai whatsapp. Pengen tahu aja. Ngapain sih orang-orang pada aktif di sana.

Facebook. Kalau facebook mah kayaknya memang udah milik sejuta umat. Gak di kampung gak di kota semua orang punya. Orang bikin facebook biasanya buat jejaring pertemanan. Nyari teman lama, buka pertamanan sama orang yang punya minat sama. Dan gak sedikit juga yang buka lapak di sana. Facebook = pertemanan.

Twitter. Beda banget ama facebook. Kalau facebook jejaring pertemanan, nah twitter ini lebih ke jejaring informasi. Arus informasi di twitter jauh lebih deras dibanding di facebook. Makanya twitter jadi lahan yang empuk buat bangun opini. Di samping itu, Salah satu yang bikin twitter beda ama facebook dan medsos lain adalah ke-flat-annya. Di twitter strata sosial hilang. Semua orang sama. Masih inget lah ya gimana dulu Pak SBY buanyak dicengin dengan #SayaPrihatin nya. Twitter jadi pintu ajaib yang memungkinkan kita bisa salaman sama idola atau bahkan adu jotos sama musuh. Hehe. Inilah twitter. Deras, flat, bawel, provokatif.

Instagram. Instagram itu medsos yang paling ‘soleh’. Soalnya gak seberisik twitter dan gak se-crowded facebook. Ada beberapa tipe orang pengguna instagram: pertama, orang-orang visual. Termasuk di dalamnya pelukis, desainer, arsitek, illustrator, calligrapher, dkk. Instagram ibarat portfolio mereka. Kedua, orang yang seneng foto-foto. Hampir semua isinya biasanya fotonya dia. Gue pernah gini loh, gue pernah ke sini loh, nih kenalin temen gue, dst. Kalau mau nyari pertemanan, atau informasi, bukan di sini tempatnya. Kalau mau berbagi inspirasi soal karya visual, atau pengen bikin album virtual barulah di sini. Instagram!

Abis itu, apa ya, tumblr! Menurut saya tumblr ini perkawinan antara twitter dan instagram. Tumblr itu jejaring inspirasi. Kalau mau nyari tulisan singkat, bagus, unik, biasanya bertebaran di sini. Begitu juga dengan gambar. Di tumblr banyak juga produk visual bertebaran. Singkat kata, secar matematis, tumblr = (twitter – konten negatif + ruang tulisan yang lebih lebar) + (Instagram + bisa re-post – foto pribadi). Inilah tumblr, tempat menyerap dan berbagi inspirasi, baik berupa tulisan maupun gambar. Kadang video juga deng.

Apalagi? Path! Sebetulnya saya dari dulu udah punya akun path. Tapi jarang banget dibuka. Karena isinya gitu-gitu aja. Belakangan kadang suka buka karena ternyata anak-anak Salam i5 banyak ngumpul di sana. Hehe. Path ini menurut saya sih perkawinan antara facebook ama instagram. Path itu facebook, tapi minus konten berita, minus yang jualan, minus orang gak dikenal. Path itu instagram, tapi instagramnya instagram aliran orang yang suka foto2. Path bukan lapak unjuk karya visual. Path? facebook mini yang bener2 khusus buat pertemanan, pertemanan dengan orang-orang khusua juga tentunya.

Line gimana? Kalo bukan karena adik sy pake line, sy gak bakal make line deh kayaknya. Adik saya gak install whatsapp, pakenya line. Yasudah sy install deh. Line itu peranakan whatsapp ama path. Tapi buanyak banget yg ngupdate letagetrich itu loh yang bikin ganggu. Banyak iklannya juga. Berisik. Kalau ga penting2 amat mah uninstall aja lah. Hehe.

Apalagi? Pinterest. Pinterest itu tempat pamer karya visual. Kalo mau bangun pertemanan, atau cari informasi, bukan di sini tempatnya. Tapi kalau mau cari referensi atau inspirasi untuk bikin artwork, pinterest biaa jadi tujian. Ini jejaringnya orang-orang visual.

Apa lagi? WordPress? WordPress itu lapak buat nulis,  dan cocok untuk mereka yang gak begitu nyaman nulis di keramaian kayak di tumblr. Ya, karena tumble udah terlalu ramai, saya pindah ke sini deh. Hehe.

Whatsapp? Sms & BBM killer. Udah, itu aja. Hehe.

Sekian tulisan random shubuh ini. Obat ngantuk. XD

Sebetulnya Permasalahan Hidup Itu Begitu-begitu Saja

image

Kalau dipikir-pikir, permasalahan hidup itu ya begitu-begitu saja. Mungkin, kebanyakan kadarnya biasa-biasa saja. Akan tetapi, persepsi kitalah yang menjadikan realitas objektif yang biasa saja itu menjadi bengkak sejadi-jadinya.

Kenapa kita suka pusing, mungkin karena suka memikirkan apa yang sebetulnya tidak perlu menjadi beban pikiran. Yang tadinya bukan masalah, malah menjadi permasalahan. Seperti kisah seseorang yang tersiksa karena pulang pergi kerjanya pakai motor, sementara ia melihat temannya memakai mobil. Padahal ada pula orang yang pulang pergi kerjanya harus berdesakan di kereta. Tetapi ia merasa biasa-biasa saja, senang-senang saja.

Ini semua tentang interaksi antara kehendak Allah dengan respon kita terhadapnya. Sikap terbaik kita terhadap apapun kehendak Allah, khususnya saat menghadapi permasalahan hidup, kata Ibnul Jauzi, adalah ridha. Bila tidak bisa, maka hendaklah kita bersabar. Bila tidak bisa juga, hadapilah dengan kekuatan menanggung beban.

Memang, medan berbicara tidak semudah medan mengamalkan. Berat, dan selalu seperti itu, berat. Apalagi kalau semua itu dibebankan kepada isi kepala yang berkemampuan terbatas itu. Atau kepada tubuh yang kalau sehari saja tidak makan dan minum, maka akan lemah mungurang daya kerjanya itu.

Mungkin permasalahan hidup sengaja dirancang berat, agar kebergantungan kita kepada selain-Nya benar-benar terputus. Sehingga dengannya kita ditarik-paksa untuk hanya bergantung pada-Nya. Bukan kepada orang lain atau diri sendiri.

Aah, ya. Mungkin semua ini soal kembali kepada-Nya. Sebagaimana  Ibnu Athaillah yang kurang lebih berkata, kalau dengan limpahan nikmat tidak menjadikan seseorang kembali pada-Nya, maka ia akan ditarik-paksa kepada-Nya dengan rantai musibah.

Jadi, kalau sedang menghadapi permasalahan hidup, katakanlah “Mungkin Allah ingin mengajariku kembali bagaimana caranya bermunajat.” Kemudian yakinilah, “Tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat dan mudharat selain Allah. Dan ketetapan Allah ini pastilah taqdir terbaik bagiku. So, hadapi saja.”

Kalau terasa berat, wajar, karena “wakhuliqal insaana dha’iifa” kita tercipta dalam kelemahan daya. Tetapi harus tetap optimis, karena “laa yukallifullahu nafsan illa wush’ahaa”, tidaklah Allah membebankan apa yang kita tak sanggup menanggungnya. Dan, bentuk optimis terbaik adalah mengawalinya dengan meletakan pergantungan dan sandaran hanya kepada-Nya, bukan kepada makhluk-Nya.

Kemudian melangkah dengan keyakinan penih bahwa “wa man yattaqillaha yaj’al lahuu makhraja, wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib”. Siapa yang bertaqwa, Allah sediakan baginya jalan keluar, dan akan memberinya rezeki dari arah tak terduga. Dan setelah itu serahkan saja semuanya pada-Nya, “wa man yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuh” siapa bertawakkal pada-Nya, Allah akan memberinya kecukupan. 

Dan begitu seterusnya. Setelah permasalahan satu selesai, akan datang lagi permasalahan lain. Substansinya sama, yakni agar kita bisa semakin dekat sama Allah. Hanya saja mungkin casing-ya/bajunya beda. Boleh jadi dengan level kesulitan yang berbeda pula. Respon kita? Respon dengan pola yang sama, tinggal disesuaikan saja.

Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk istiqamah menjemput ridha-Nya.

Darah

Suatu saat saya baca pembahasan fikih soal apa saja yang bisa membatalkan shalat. Saya agak tercengang pas baca sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa keluarnya darah/adanya darah yg keluar dari luka itu tidak membatalkan shalat. Saya bukan tercengang sama simpulan hukumnya. Saya tercengang sama penjelasannya, bahwa terriwayatkan dulu para sahabat terbiasa shalat dalam kondisi terluka.

Allahu Akbar, dipikir-pikir, betapa akrabnya mereka ama darah. Bukan karena doyan perang. Tapi karena pasang badan membela kebenaran yang mereka yakini. Jangankan harta, nyawa pun mereka kasih.

Da aku mah apa atuh.. Dari dulu masih gini-gini aja. Jangankan lawan musuh-musuh yang kelihatan, lawan musuh yang gak kelihatan (hawa nafsu, egoisme, arogansi, cinta dunia, dll) aja masih terseok-seok antara hidup dan mati.

Sekian tulisan random malam ini
:(

Belajar Lebih Bijak

image

Saya harus belajar lebih bijak dengan diam sejenak sebelum bertindak. Untuk berpikir dan menimbang, perlukah, baikkah, ada cara yang lebih ber-impac-tkah, harus sekarangkah, dan seterusnya.

Saya harus belajar lebih bijak dengan berlatih mengambil keputusan. Agar tidak overthinking/overanalyzing sehingga terjebak dalam persepsi-persepsi sendiri yang belum pasti kebenarannya.

Saya harus belajar lebih bijak dengan memelihara hubungan baik dengan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri. Mengakui kelemahan dan kesalahan di masa lalu. Kemudian tidak berlama-lama dalam penyesalan, memaafkan diri, dan langsung beranjak menutupinya dengan perbaikan diri untuk kedepannya.

Dua Nasihat

“Tenang dalam diamnya, akan tetapi lebih fasih dari yang berbicara.”

“Semua bisa menjadi pahlawan, ketika mau dan bisa melakukan apa yang dikatakannya.”

2nd UI IBF yang Menyakitkan Kepala

Sore tadi saya berkunjung ke Islamic Book Fair, Balairung UI. Sebetulnya tidak ada rencana berkunjung sama sekali, apalagi niat belanja buku. Tetapi, kebetulan tadi batal ketemuan sama teman, jadinya belok ke Balirung deh.

Seperti biasa. Setiap kali datang ke book fair kepala saya langsung sakit. Banyak banget buku keren yang pengen dibeli. Tapi kapasitas tas untuk bawa bukunya terbatas. Eh, kapasitas isi kantongnya maksudnya. XD

Di antara buku yang pengen dibeli tadi:
1. Mukaddimah Ibnu Khaldun, pengen beli sejak tiga tahun lalu, belum kesampean.
2. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, karya Prof. Dr. Abdussyafi. Dan sebagai pelengkapnya biografi Umar bin Abdul Aziz.
3. Bangkit dan Runtuhnya Daulah Bani Saljuk, Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi. Saya tadi sempat nyari buku Bani Abbasiyah tapi tidak ada. Adanya Bani Saljuk ini dan Kisah Shalahuddin al-Ayyubi.
4. Bangkit dan Runtuhnya Islam di Andalusia, kaya Prof. Raghib Sirjani. Buku ini sepertinya keren banget juga. Kata ustadz Budi Ashari, kalau mau pelajari bagaimana perpecahan bisa diselesakan dan sekaligus bisa menghancurkan, pelajarilah bagaimana bangkit dan runtuhnya Andalusia.
5. Bangkit dan Runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah. Saya lupa siapa penulisnya.
6. Api Sejarah. Ini juga buku yang saya buru sejak dulu. Tapi belum dibeli. Karena suka kepikiran: “mending ngurut dulu bacanya, dari zaman Rasul, khulafaur rasyidin, dan seterusnya sampai sejarah Indonesia.” Prakteknya, gak selesai-selesai bacanya. Pemalas sih.. XD
7. Di stand DISC ada buku-buku jadul. Bukunya M. Natsir, Buya Hamka, M. Hatta, dan lain-lain.
8. Belum lagi ada buku tentang King Faisal, raja Saudi Arabia yang katanya hafizh Quran dan tegas membela ummat itu.
9. Oh ya, Tarikh Khulafa juga ada tadi.

Karena banyak buku keren, dan kebetulan baru dapat setoran dari klien, yasudah saya putuskan untuk beli beberapa buku. Setelah semua stand saya kunjungi, saya pun langsung merapat ke stand Pustaka Al-Kautsar. Karena kebanyakan buku keren yang saya incar ada di sana.

Saya buka satu per satu daftar isinya. Baca mukaddimahnya. Waah, kepala saya makin pusing. Akhirnya saya menepi. Buka kertas kosong dan corat-coret deh. Kalau mau ngerti sejarah secara kronologis saya harus baca ini dulu, kemudian itu, dan itu. Tetapi buku yang A membahas secara umum dan begini begitu. Kalau baca bukunyang ini dulu nanti ada bagian yang terlompati. Kalau baca yang itu berarti nanti perlu ada pendalaman di buku yang ini. Begitu seterusnya, sehingga akhirnya saya putuskan untuk membeli dua buku di bawah ini.

image

Bismillah. Mudah-mudahan kembali bisa semangat mengkaji sejarah. Sepertinya gak ada salahnya mengulang telaah singkat mulai kenabian Rasulullah. Juga sejarah khulafaur rasyidin. Habis itu, barulah masuk ke buku ini.

Kalau baca mukaddimah yang ‘Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah’ si, menarik banget. Penulis ingin mengetengahkan tinjauan yang lebih adil terhadap kekhilafahan Umayyah yang kadang banyak disoroti dari sisi negatifnya oleh beberapa kolumnis-cendekiawan.

Adapun pada buku Daulah Bani Saljuk, saya sangat tertarik pada pembahasan bagaimana lahirnya Madrasah Nizhamiyyah dan pergerakan Imam Syafi’i. Juga gerakan pembaharuan yang dilakukan Imam Ghazali, yang mana pada saat itu kekeringan spiritual melanda ummat, katanya.

Mudah-mudahan nanti bisa sharing juga di sini. Alhamdulillah ala kulli hal. Bismillah. Laa haula wa laa quwwata illa billah..

:))

Latihan Khusyu’, Terapi Hati

image

“Ilmu yang pertama-tama diangkat dari muka bumi adalah ilmu khusyu’.” HR Thabrani dengan sanad hasan

Said Hawwa -rahimahullah- dalam Tazkiyatun Nafs-nya berkata:

“Khusyu’ merupakan manifestasi tertinggi dari sehatnya hati. Jika ilmu khusyu’ telah sirna berarti hati telah rusak. Bila khusyu’ tidak ada berarti hati telah didominasi oleh penyakit-penyakit berbahaya dan keadaan yang buruk, seperti cinta dunia dan persaingan untuk mendapatkannya. Bila hati telah didominasi berbagai penyakit artinya telah kehilangan kecenderungan kepada akhirat. Bila hati sudah sampai pada keadaan ini, maka tidak ada lagi kebaikan bagi kaum muslimin.”

Sebagaimana perkataan Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ketahuilah dalam tubuh ada segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh tubuh, apabila ia buruk maka burup pula seluruh tubuh. Ketahuilah, ialah hati.” HR. Bukhari & Muslim

Maka hati perlu dilatih. Di antara caranya adalah dengan kiat dari Imam Syafi’i -rahimahullah:

-kurang lebih begini- kalau kita dihadapkan dengan dua pilihan, hendaknya kita pilih pilihan yang paling berat bagi hawa nafsu. Karena tidaklah sesuatu berat bagi hawa nafsu, melainkan ia baik bagi kita.

Di antara indikator keberhasilan latihannya, mungkin tergambar dalam paparan Ibnu Atha’illah -rahimahullah:

-kurang lebih begini- di antara tanda taubat seseorang diterima ialah ketaatan terasa nikmat baginya. Sedangkan kelalaian-kemaksiyatan akan terasa berat dan menyiksanya. Adapun jika yang terjadi adalah yang sebaliknya, yakni kelalaian terasa nikmat dan ketaatan terasa berat lagi menyiksa, maka boleh jadi taubatnya ‘belum diterima’.

Oh ya, salah satu indikator istiqamahnya hati, baiknya hati, adalah terjaganya tutur kata dari hal buruk dan sia-sia.

“Tidak istiqomah iman seseorang sebelum istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sebelum istiqomah lisannya.” HR Ahmad

Saya pernah bertanya ke ustadz Faris Jihady -hafizhahullah- soal maksud dari istiqamahnya lisan. Beliau bilang yang dimaksud dengan istiqamahnya lisan adalah:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. HR Bukhari