Zaman Sepik!

Standard

image

Kita hidup di zaman yang kalau kita gak banyak bicara, seolah-olah kita gak pernah  terlahir ke dunia. Padahal… #ahsudahlah

ʕ•ﻌ•ʔ

Pesan Ayah: Pertempuran Sengit

Standard

image

Nak!

Aku melihatmu tengah berada dalam medan pertempuran sengit lagi mencekam. Aku tidak tahu, entah kapan dan bagaimana pertarungannya berakhir. Yang jelas di sini kulihat kuda yang kau tunggangi kini mulai kesetanan. Seperti hawa nafsumu, bila engkau tidak memegang tali kendalinya dengan kuat, maka ia sangat mungkin akan membanting dan menginjak-injak tubuhmu.

Dari berbagai penjuru Iblis dan balatentaranya menghujanimu dengan anak panah yang aku sulit untuk menghitung berapa jumlahnya. Aku hanya tahu mata panah mereka terbuat dari batu intan. Sementara batang atau lengan panahnya terbuat dari emas. Tak lupa mereka melumurinya dengan racun dunia berupa kesenangan. Agar ia tampak indah di matamu. Sekaligus menjadi bius yang bisa menghilangkan rasa sakit saat ia menusuk tubuhmu.

“Crubbbb…!” Kudengar satu anak panah terhujam tepat di dadamu, mengoyak lubuk hatimu. Biar kutebak, rasanya sakit bukan? Tentu. Tahukah kamu, dari mana asalnya rasa sakit itu? Akal mendeteksi benda asing yang melukai tubuhmu dan rasa sakit menjadi respon dari nurani sucimu.

Bersegeralah, Nak! Cabut anak panah itu! Sebelum racunnya mengkontaminasi nurani sucimu dan melumpuhkan akalmu. Sebelum engkau kehabisan darah ketaqwaanmu. Sebelum tubuhmu menjadi seperti landak karena ratusan anak panah menghujam di sekujur badanmu. Pegang erat lengan si anak panahnya, cabut ia dengan kekuatan taubatmu. Maka anak panah itu telah ada dalam genggamanmu. Engkau bisa menggunakannya sebagai tambahan amunisimu di medan perang.

Pertempuran semakin membara. Tanpa engkau tahu kapan dan bagaimana muaranya. Tugasmu bukan untuk menjadi prajurit yang kulitnya bersih dari sobekan luka dan percikan darah. Karena mau tidak mau engkau akan mengalaminya. Di sini aku hanya ingin mengingatkanmu dan memastikan dua hal. Pertama, pastikan kekuatan tali kendalimu lebih kuat dari amukan tungganganmu yang kerap kesetanan. Kedua, tidak ada luka melainkan engkau harus bersegera untuk mengobatinya. Sehingga engkau bisa melanjutkan perjuangan untuk mendapatkan kemenangan, atau gugur di medan pertemuan dengan meninggalkan kehormatan dan kemuliaan.

Hukum Anak Panah

Standard

image

Pernah ngangkat air satu gelas? Gimana, berat gak? Ya enggak lah, masBro. Tapi coba angkat lagi, terus jangan turunin tangannya. Tunggu sampe 3 jam. Bobot airnya makin berat gak? Heu heu. Gimana dong caranya biar bisa ngangkat gelas sampe 3 jam, bahkan lebih? Gampang aja sih. Angkat gelasnya, setiap satu menit turunin, istirahat sebentar, abis itu angkat lagi, kemudian istirahat lagi bentar, angkat lagi dan  seterusnya. :D

Begitu pula dengan apa yang kita alami sehari-hari. Kita gak bisa terus-menerus mengangkat ‘beban hidup’. Sesekali kita butuh istirahat. Tapi jangan kelamaan. Nanti malah keenakan. Terus mager deh.

Kalau jasad bisa kita istirahatkan dengan tidur, relaksasi, dan sejenisnya. Maka, dengan apa pikiran dan jiwa kita ber-’istirahat’? Dan itu tidak melenakan? Sekadar renungan.

Pendidikan Anak: Apa Maksud Manusia Lahir dalam Fitrah?

Standard

image

Malam tadi saya menghadiri kajian pendidikan anak bareng @ibnuahmd dan Fakhril. Sebagaimana biasanya, setiap kajian pasti saja nemu insight baru. Satu hadits yang dibahas adalah hadits tentang setiap anak adam lahir dalam keadaan fitrah, yang kemudian orang tuanyalah yang kemudian akan menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi. Hadits tersebut cukup populer dan derajatnya shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Maaf nih, saya gak nulis redaksinya secara lengkap. Habisnya suka kurang konsentrasi kalo nyimak kajian sambil nulis lengkap heu heu.

Ustadz Budi, pematerinya, bilang bahwa selama ini banyak orang yang salah paham dengan makna kata ‘fitrah’ dalam hadits tersebut. Kata ‘fitrah’ di situ gak sama alias gak analog dengan kertas putih kosong sebagaimana dipahami orang barat. Muhammad Qutb, seorang ahli pendidikan Islam, mengatakan bahwa  kertasnya gak kosong melompong begitu aja. Tapi ada garis-garis tauhid yang sudah Allah goreskan di sana.

Dalam redaksi haditsnya hanya disebut yahudi, nasrani, dan majusi. Kenapa Islam gak disebut? Karena Islam adalah fitrah setiap manusia. Dengan kata lain, setiap manusia itu lahir dalam fitrah Islam. Dan orang tuanyalah yang bertanggung jawab untuk mendidikanya dan menjadikan benih Islam tadi tumbuh dan kokoh, atau sebaliknya.

Kalo ustadz Budi sih menganalogikannya kurang lebih begini; Kolo kita menanam benih kacang, maka harusnya yang tumbuh kacang sebagaimana mestinya. Kalo yang tumbuh nanti adalah kacang berduri, nah ini berarti hasil kerja pendidikan orang tuanya yang me-’rekayasa genetika’ anaknya. Sehingga si kacang mengalami mutasi dan hasilnya begitu.

Pelajaran:

1. Memahami dengan benar ‘apa itu manusia?’ itu penting banget. Karena ini bakal menjadi cara pandang kita terhadap diri kita, anak kita. Sementara cara pandang yang salah bakal mengarahkan perlakuan yang salah pula.
2. How? Siapa yang paling tahu soal manusia? Ya Pencipta manusia dong?! Dan begitulah Wahyu (Quran dan Hadits) menjelaskan. Bahwa manusia dilahirkan sudah built-in dengan ‘Operating System’-nya, bukan kosong tanpa ‘Operating System’ untuk kemudian diisi oleh orang tuanya.
3. Pendidikan anak itu tanggung jawab orang tua. Gak bisa tuh orang tua nyerahin ke sekolah, bayar mahal, dan pengen terima ‘jadi’. Gak akan bisa. Syulit.

BagaimananSeseorang Dikatakan Sukses?

Standard

Kalau ukuran sukses itu adalah banyaknya harta, berarti Qarun yang Allah tenggelamkan ia dan hartanya termasuk orang sukses dong?

Kalau ukuran sukses itu punya kekuasaan, berarti Fir’aun yang Allah tenggelamkan juga termasuk orang sukses dong?

Kalau ukuran kesuksesan itu adalah banyaknya jumlah pengikut, berarti Iblis yang Allah kutuk termasuk makhluk yang sukses dong?

Kalau begitu ukuran sukses itu apa sih? Bagaimana kita memandang kesuksesan hidup? Okay, kalau jawabannya masih samar, kita otak-atik saja pertanyaannya menjadi; siapa sih orang yang sudah terbukti sukses? Coba sebutkan pula alasannya!

Rasulullah saw. Beliau seorang anak yatim piatu. Bukan pemilik istana megah dengan furniture mewah. Kadang tidur beralaskan pelepah kurma. Beliau mengubah hidup manusia. Cara pandang mereka, nilai-nilaonya, serta tatanan kehidupannya.
Siapa lagi? Nabi Nuh a.s. Beliau bukan seorang saudagar kaya. Pengikutnya pun sedikit, bisa dihitung oleh jari. Tapi beliau mendapat lencana kehormatan dari Allah: Ulul Azmi.

Kalau para ilmuwan seperti Einstein, atau seorang pemimpin yang memperjuangkan keadilan seperti Mandela, sementara kita tidak tahu apakah mereka sudah menerima hidayah sebelum ajal mereka atau belum, apakah mereka bisa dikatakan sebagai seorang yang sukses juga?

In my sotoy opinion, ya! Mereka termasuk orang yang sukses. Mengingat apa yang mereka lakukan membawa manfaat bagi manusia. Akan tetapi, jika mereka memang belum bersyahadah sebelum ajal mereka dicabut, maka sebagai seorang Muslim, kacamata iman memandang kesuksesannya sebagai kesuksesan yang -sayang sekali- terputus. Kesuksesan yang tidak bisa menembus dinding pembatas antara dunia-akhirat.

Kalau begitu sekarang celahnya mulai terbuka agak lebar. Ternyata letak sukses itu bukan pada objek, melainkan pada predikat. Sukses bukan sebuah tujuan, sukses adalah langkah, cara, perjalanan. Sebagaimana orang bijak mengatakan; “Success is not a destination. Success is a journey.” Namun, bagi seorang muslim, pepatah tersebut masih perlu disempurnakan. Memangnya apa yang kurang? Intention! Alias niat. Niatlah yang menjadi bobot atau nilai dari amal kita. Pastikan setiap langkah kesuksesan kita niatkan dalam rangka menjemput Ridha Allah ‘Azza wa Jalla.

Wallahua’lam

Kapasitas (1)

Standard

Hari rabu lalu saya diajak oleh teman sekontrakan, @ibnuahmd, untuk mengikuti kajian rutin seputar parenting nabawiyah. Kajiannya diselenggarakan ba’da isya di masjid salah satu perumahan di Depok. Dikarenakan saat itu saya sedang harus banyak gerak, agar bisa merefresh isi kepala dan semangat, yasudah saya putuskan untuk ikut. (Sebagai ganti rabu paginya gak bisa ikut @wmc530 XD)

Singkat cerita, selepas jamaah selesai melaksanakan shalat sunnah ba’diyah, kajian pun langsung dibuka. Dalam pembukaan kajiannya, sang Ustadz menyampaikan bahwa dalam beberapa sesi kajian kedepannya beliau akan mengupas salah satu buku karya Dr. Khalid (saya lupa nama lengkapnya) tentang pendidikan anak dengan meninjau petunjuk Nabi saw dalam hadits-haditsnya.

Kemudian kajian pun dimulai dengan membahas bab pertama. Tahukah teman? ternyata bab pertama dari buku tersebut adalah seputar anjuran menikah. Heu heu, tema yang membuat -meminjam istilah @luqmanzaini- para bujanghidin peserta kajian senyam-senyum sejuta makna :D. Sang ustadz pun menyampaikan alasan mengapa penulis menjadikan anjuran menikah sebagai bab pertama buku pendidikan anaknya.

Namun demikian, pada kesempatan ini yang akan saya soroti bukanlah bagian anjuran menikah dan turunan penjelasannya. Apa yang akan saya coba share ke teman-teman di sini adalah tentang beberapa fakta unik tapi keren dari anak muda terdahulu yang diceritakan oleh pemateri. Apa tuh? Yaitu tentang usia menikahnya para #MuslimTangguh terdahulu.

Beliau menyampaikan, Rasulullah saw menikahkan sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. dengan anaknya Fatimah r.a. saat usia Ali r.a. 21 tahun. Kemudian Harun Ar-Rasyid rah., seorang pemimpin yang berhasil membawa daulah Abbasiyah ke puncak peradaban dunia saat itu, ternyata beliau menikah saat usianya 15 tahun dan diangkat menjadi khalifah saat berusia 20 tahun.

Beginilah salah satu potret perbedaan KAPASITAS generasi #MuslimTangguh dulu dengan generasi kita sekarang. Untuk menekankan penyadaran akan adanya gap kapasitas tersebut, sang ustadz pun mengulas bagaimana Usamah bin Zaid bin Haritsah r.a. menjadi panglima perang di usianya yang baru 18 tahun. Muhammad al-Fatih menaklukan konstantinopel saat berusia 21 tahun dan diangkat menjadi khalifah 2 tahun kemudian. Kalau kita mau eksplor lebih dalam, tentu nama-nama pendahulu keren lainnya akan banyak yang keluar.

Beberapa fakta ‘unik’ tersebut cukup membuat saya merenung. Bahwa, betapa para pendahulu kita memersiapkan generasi selanjutnya dengan sungguh-sungguh. Generasi #MuslimTangguh terdahulu telah mendapatkan kematangan diri di usianya yang -jika kita ukur dengan mistar kehidupan zaman sekarang- terbilang masih sangat muda. Kalau mau hitung-hitungan, kira-kira satu orang pemuda #MuslimTangguh dulu sebanding dengan berapa orang pemuda generasi sekarang ya?

Bersambung..

Gelap dan Cahaya

Standard

Sore tadi saya meluncur kembali ke Depok melewati sukasari. Ada iklan video di pertigaan jalannya. “Berani jujur hebat!” Begitu penutup kata iklannya. Kalau di pikir-pikir, jujur kan sebuah keharusan, bukan sebuah prestasi. Kenapa sesuatu yang pasti, keharusan, kemudian jadi naik levelnya seakan menjadi ‘prestasi’?

Kemudian saya bertemu maghrib di daerah Cibinong. Saya mampir sejenak ke salah satu masjid di pinggir jalan untuk shalat. Saat membuka sepatu, saya melihat di sebrang jalan ada bus berhenti. Bus pegawai. Rupanya para pegawai dalam bus tersebut sengaja berhenti untuk shalat maghrib. Masya Allah.. Saya kagum. “Alhamdulillah.. Ternyata zaman sekarang masih ada kok yang kayak gini.” celetuk saya dalan hati.

Eits, sebentar. Kenapa saya kagum ya? Bukankah ini sebuah kelumrahan? So, seharusnya saya biasa-biasa aja dong ya?

Dua kejadian sore ini sejenak mengingatkan saya kepada satu pemandangan. Bahwa kini sedikit demi sedikit kita tengah merangkak dari tata nilai yang satu ke yang lainnya.

“Kegelapan itu terjadi bukan karena gelap itu sendiri, melainkan karena tidak adanya cahaya.”

Begitu juga sebaliknya, “Sesuatu tampak bercahaya bukan karena ia bercahaya, melainkan karena ia memantulkan cahaya, sementara yang lain di sekelilingnya tak mampu memantulkannya.”

Begitulah..