Akan Datang Suatu Masa

image

Akan datang suatu masa, yang aku mendapati sesosok manusia datang tanpa iba, melemparkan langit beserta bintang dan purnamanya ke atas tubuhku. Bagaimana aku bisa menahan himpitannya? Adakah bumi persembunyian yang langit tidak menaunginya?

Aku harus menyiapkan wadah yang bisa menampungnya, yang aku tetap bisa bernafas dan membawanya. Mungkin Tuhan punya. Kalau begitu akan ku pinta, satu saja.

رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ
“Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau bebankan kepada kami apa yang kami tak sanggup memikulnya.”

Jiwa yang Baru

image

Aku menghadap-Mu dalam kegilaan
Ku bawa seribu pinta dengan keranjang dosa
Ku larung keluhan di atas samudra kenikmatan
Aku merengek menuntut-Mu ini dan itu
Di balik selimut tebal dan laku bebal

Pengkhianatan dan kedurhakaanku memasung kata-kata
Bagaimana mungkin aku bisa berdoa
Akan tetapi, bagaimana aku tidak berdoa, sementara Engkau memerintahkannya!

Tuhan, bunuh saja jiwaku
Lalu, beri aku jiwa yang baru

Orang yang ‘Arif

Catatan ringan tentang yang mngganjal pasca pembacaan ulasan kitab al-Hikam oleh Syaikh Abdullah Syarqawi (Grand Syaikh al-Azhar)

=================================

Teman2 santri Tahfizh Smart 3..
Setelah pembacaan al-Hikam dan ulasannya tadi pagi saya jadi gak enak hati euy! kayak ada yang ngeganjel gitu. Mungkin karena ada ulasan syaikh abdullah syarqawi -yang kalau tidak dibaca berulang kali- maknanya bisa ambigu/ngeblur/samar. Sehingga membingungkan.

Untuk itu, berikut ini sy tuliskan beberapa hal yg saya khawatir kita agak keliru dalam memahaminya. Saya tambahkan dari ulasan kitab al-Hikam lain ini yg pernah saya baca. Maaf agak panjang.

1. “Orang ‘Arif (yg mengenal Allah) menganggap pelaku semua amal ibadah mereka ialah Allah semata, sedangkan mereka hanyalah objek penampakan dari tindakan dan ketentuan Allah.”

Dari penjelasan kitab al-Hikam yg lain sy pernah baca, bahwa maksudnya adalah jangan sampe kita menganggap diri kita keren hanya karena bisa beramal. Soalnya kita bisa beramal itu karena dikasih kekuatan dan dimudahkan Allah, peran kita dalam amal cuma dikiiiiiiit banget. Atau, jangan pula menganggap amal kita bernilai di hadapan Allah. Karena terlalu banyak amal yg tidak disertai taqwa. Amal kita gak ada apa apanya dibanding nikmat yang Allah beri.

2. “Jika melakukan kesalahan, orang ‘arif akan melihat perbuatannya itu sebagai ketetapan dan takdir Allah atas dirinya.”

Kita pun perlu ingat kata Ibnul Qayyim, bahwa Allah men-takdirkan sesuatu dengan men-takdirkan sebab-sebabnya. Kalo kita lalai lupa shalat isya, misalnya, jangan nyalahin takdir Allah dong. Itu terjadi memang atas izin Allah -meski Allah tdk suka. tetapi itu terjadi karena ada sebab takdir yang kita lakukan, misal menunda-nunda.

Atau perkataan Ibnul Jauzy dalam Shaidul Khathir, beliau bilang kita harus sabar-ridha terhadap ketetapan Allah. Akan tetapi jangan sabar terhadap kebodohan dan kemalasan, karena itu berasal dari diri sendiri, bukan dari Allah -meski Allah mengizinkan hal itu terjadi.

3. “Bagi orang ‘arif, tidak ada bedanya antara benar ataupun salah, saat taat maupun khilaf, karena ia telah tenggelam dalam lautan tauhid. Rasa harap dan takutnya tetap dalam keadaan seimbang. Maksiyat tak menambah rasa takutnya pada Allah, dan taat pun tak menambah rasa harapnya kepadaNya.”

Takut adzab Allah saat lakukan maksiyat itu pertanda hati kita masih hidup. Setidaknya kita masih meyakini akan adanya adzab Allah. Tapi, tetap punya rasa takut yang besar meski tidak sedang melakukan kemaksiyatan, ini luar biasa. Hanya bisa dilakukan orang yang benar2 mengenal Allah. Orang arif, sama aja bagi mereka, baik dalam taat atau maksiyat, rasa takut mereka tetap besar.

Begitu juga dengan harap. harap mereka juga tetap besar, baik saat mereka lakukan ketaatan maupun saat lalai. Saat lakukan taat, harap mereka besar karena mereka tidak memandang amal mereka bernilai. Saat lakukan khilaf harap mereka besar karena mereka yakin akan luasnya Rahmat Allah.

Demikian. Saya semata2 hanya memindahkan apa yang saya ingat dari yang pernah saya baca atau dengar dari guru. Tak bermaksud lancang menafsirkan kembali,  karena ilmu masih terlalu sedikit. Tentunya yang saya tambahkan di atas belum bisa mewakili makna seluruhnya.  Alhamdulillah, dengan ini yang ngeganjel dalam hati sy nya agak hilang. Mohon koreksi apabila ada yg keliru, atau tambahan kalo ada yg kurang.

Rabu, 19 Nov 2014
Di sela-sela QuranTime pagi
Asrama Indonesia Quran Foundation

Saatnya Melompat Lebih Tinggi

Image
Hidup itu, kalau kata pemancing ikan salmon, seperti menapakkan kaki di atas aliran sungai yang deras untuk menunggu kailmu ditarik oleh salmon yang kau nantikan. Jika kau salah menempatkan kakimu, jika pijakannya kurang kokoh di sana, niscaya kau akan terpeleset dan terseret oleh arus deras yang tak dapat kau lawan. Kemudian alirannya membawamu ke arus yang lebih deras dan dalam. 

Begitulah. Kita harus punya falsafah hidup yang jelas. Harus segera diputuskan, mau seperti apakah kita memandang dan menjalani hidup ini. Kemudian ia akan menjadi keyakinan yang mendarah daging, mengotak hati, men-tulang otot. Sehingga langkah semakin tegap. Arahnya semakin jelas. Pijakan dan sandarannya semakin kuat. 

“Kalau Hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau Kerja sekadar kerja, kera juga bekerja”, kata Buya Hamka. Hidup harus punya visi besar, mimpi besar. Yang mimpinya tak jauh dari sekadar apa yang masuk ke dalam perutnya, nilainya tak lebih dari sekadar apa yang keluar dari perutnya pula. Buang kacamata kuda, jangan hidup dalam hidup orang lain. Live your life! Imagine your own dream and visualize it in your mind. 

“ketika kau ingin menikmati kehidupan ini seperti yang kau bayangkan, mati demi mempertahankan kehidupan ini pada saat terancam, jauh lebih baik daripada ketika kau hidup dan berhasil meraih keuntungan besar dalam bisnismu, namun kau kehilangan kebahagiaan jiwa.” —Marghouri Keinan Rolinjes

Bacalah! Bacalah! Bacalah! Belajarlah dari orang-orang besar. Rasulmu, sahabat-sahabatnya, merekalah raksasa peradaban. Kemudian barulah orang besar lainnya. Pahami kehidupan ini sebagaimana mereka memahami kehidupan. Jalani kehidupan ini sebagaimana mereka menjalaninya. Memang tak mungkin ikuti jejak mereka sepenuhnya, tapi apa yang tidak bisa kita ambil semuanya, jangan sampai kita tinggalkan semuanya. 

Jalan hidup mereka memang berbeda. Tapi bila kita cari persamaannya, barangkali mimpi yang besar, kesungguhan, kedisiplinan, semangat yang menggelora, hal tersebut menjadi kesamaan di antara mereka. Dan, perlu disadari bahwa tidak ada jalan pintas dan jalan mudah untuk jadi pribadi yang tangguh, disiplin. Maka bersabarlah. Sabar yang defensive, juga offensive! 

Tinggalkanlah kebiasan buruk, sesulit apapun itu. Karena ketidakmampuan meninggalkannya adalah bukti kelemahan Iman. Buatlah kebiasaan baik baru. Rencanakan, lalu langsung lakukan. Jangan ditunda-tunda. Sedikit-sedikit saja, tetapi konsisten & kontinu. Sehingga kau sulit menghentikannya sebagaimana perokok kesulitan menghentikan kebiasaan merokoknya. 

Menjadi bermanfaatlah. Lakukan hal baik. Sekecil apapun. Sesederhana apapun itu. Meskipun sekadar membeli dagangan kakek tua yang berkeliling menjual makanan yang sebetulnya kau sendiri tidak menyukainya. Karena kita tidak akan pernah tau kebaikan yang mana yang akan mengantarkan kita ke surga-Nya. Bisa jadi tangan-tangan orang yang kita tolonglah yang akan menyelamatkan kita dari nereka-Nya, kemudian menarik kita masuk ke surga-Nya. 

Ini bukan permainan lari estafet. Tahun ke tahun bukan siklus yang bisa saja untuk dilewati. Bukan yang gitu-gitu aja, muter di situ-situ saja. Kita lagi mendaki. Setiap hari harus naik ke posisi yang lebih tinggi. Jangan berhenti meski sejenak, karena ayam tetangga yang melamun saja besoknya lagsung mati. Kalau mentok, Iman yang main. Ayo cari jalan lain sebisa mungkin. Usaha semaksimal mungkin. Insya Allah akan ada kemudahan dari arah yang tidak disangka. Sebagaimana Musa a.s. ketika dikejar Fir’aun. 

“Sok, 
Geura tabeuh goong maneh, Jalu!
Ngarah batur nyarahoeun,
Gening hidep teh teu pireu!” 
—Sebuah sajak sunda yang kudengar dan masih kuingat dalam Pasanggiri Seni & Budaya Sunda di Bandung sekitar 5 tahun yang lalu. 

Hap! kini saatnya melompat lebih tinggi. Karena berjalan saja kadang tidak cukup. Kini saatnya untuk sedikit berlari, lebih cepat lagi. Kalau jatuh, tak usah menambah penderitaan dengan mengeluh. Bangun lagi, lanjutkan lagi perjalanan. Lebih cepat lagi, lagi, lagi… 

Barakallahu Fii Umrik, adikku yang tampan! @yogiramdhangumi 
Selamat datang di harimu yang baru dan berbeda, hari yang belum pernah kau lalui sebelumnya. :)

__ tulisan lawas, Februari lalu

Invisible Inner Power

Image

Bila beban hidup yang sedang kau hadapi terasa seakan bumi beserta isinya ada di atas punggungmu, maka bertahanlah sejenak. Turunkanlah bumi tersebut dari punggungmu, lalu letakkan di hadapanmu, sekarang juga. Tataplah ia, kemudian bertanyalah kepada hati kecilmu:

”jika permasalahan yang ada di hadapanku ini adalah sebuah kekuatan, sementara diriku adalah kekuatan yang lain, maka kekuatan manakah yang lebih kuat? Kekuatan yang manakah yang akan menghancurkan kekuatan yg lainnya?”

Dalam kondisi sperti ini, kejujuran Iman-mu lah yang diuji. Bagaimana kau mempersepsikan hidup ini, bagaimana caramu mempersepsikan masalah-masalah dalam hidupmu, bagaimana kau mengekspresikan Imanmu terhadap kehendak-Nya, akan terlihat pada situasi seperti ini. Apakah benar caramu menyikapinya sudah seperti cara orang beriman dalam bersikap?

Untuk itu, bertanyalah kepada Nuh alaihissalam, apa yang membuatnya terus menyeru manusia kepada Rabb-nya 950 tahun lamanya, padahal ia tahu, tidak banyak kaumnya yang akan mengikutinya?

Sekarang, tanyakan pula kepada hati kecilmu: Apakah engkau beriman kepada Allah dan Qadha-QadarNya? Jika ya, apakah engkau mengimani juga ‘Allah tdk membebani kita sesuatu yang diluar kapasitas kita tuk menanggungnya’?

Yakinlah bahwa dalam dirimu ada kekuatan terpendam yang telah lama tertidur. Maka bangunkanlah ia! Bangunkan dengan Imanmu! Karna hanya itulah cara satu-satunya. Adakah yang tidak mungkin ketika setetes kelemahanmu larut menyatu dengan samudra ke-Maha Perkasa-an Allah?

Ingatlah.. Ini bukan zaman abrahah, bukan pula zamannya fir’aun, yang mukjizatNya bisa datang begitu saja. Rumusnya bagi umat akhir zaman ini adalah ‘Siapa menolong Allah, Allah kan menolongnya & teguhkan kedudukannya’ (Muhammad: 7). Juga ‘tidak akan berubah nasib suatu kaum kecuali ia mengubah dirinya sendiri’.

Ingatlah pula bahwa sebesar apapun ‘dorongan eksternal’, ia tidak akan memberi pengaruh apapun tanpa ‘persetujuanmu’. Ya, karena semuanya bergantung terhadap keputusanmu! Tinggal kau pilih, mau memutuskan sekarang dalam kondisi yang ‘kurang enak’, atau nanti ketika kondisinya ‘sangat kurang enak’.

Tidak ada yang bisa menambah rasa sakit di hatimu, kecuali engkau sendiri yang mengizinkannya. Maka, jawablah dengan hatimu yang tulus. Siapa yang lebih kuat, dirimu atau semua tantanganmu ini? ambilah suatu keputusan sesegera mungkin!

Bersemangatlah teman! Bagaimanapun kondisimu sekarang, tersenyumlah! Karna dalam senyummu ada doa dan harapan, optimisme dan keyakinan terhadap kehendak Rabb-mu.

Bila engkau sulit untuk tersenyum, ambillah secarik kertas dan pulpen. Tulislah titik dua berukuran besar, kemudian tulislah tutup kurung. Lihatlah! Engkau melakukannya! :)

Selamat datang di harimu yang baru teman! Hari yang belum pernah kau lalui sebelumnya!

: )

#NtMS